Baca aja

96 0 0
                                        

Gais jangan lupa mampir di cerita baruku ya, cinta monyet nya anak SMA. Ngga tau kenapa akhir-akhir ini mood banget nulis cerita apapun ku lakuin asalkan bukan nulis skripsi 😭😭

Nih nih bab pertama nya jangan lupa mampir yaa

Hari pertama pindah sekolah selalu jadi hal yang Nadira benci

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Hari pertama pindah sekolah selalu jadi hal yang Nadira benci. Bukan karena pelajarannya. Bukan karena seragam baru. Bukan juga karena harus memperkenalkan diri di depan kelas.

Tapi karena rasa asingnya.

Rasa ketika semua orang sudah punya tempat masing-masing sementara dirinya datang di tengah semuanya seperti orang yang salah masuk cerita.

Dan pagi itu, perasaan itu datang lagi.

Koridor SMA Bintang Pradana sudah ramai sejak bel pertama belum berbunyi. Suara murid bercampur dengan langkah kaki, tawa, bunyi kursi digeser, sampai suara guru piket yang berkali-kali menyuruh murid masuk kelas.

Nadira berdiri di depan ruang guru sambil menggenggam tali tasnya pelan.

Seragam putih abu-abunya masih terlalu rapi. Sepatunya bahkan belum kotor sedikit pun.

Sangat kelihatan kalau dia anak baru.

"XI-4 ya?" Seorang guru perempuan di depannya tersenyum ramah.

Nadira mengangguk kecil. "Iya, Bu."

"Nanti ibu antar sebentar. Jangan tegang gitu mukanya."

Nadira langsung tersenyum kecil canggung. "Kelihatan ya?"

"Banget."

Dan sayangnya itu benar. Sepanjang jalan menuju kelas XI-4, Nadira bisa merasakan beberapa pasang mata memperhatikannya. Ada yang cuma sekilas melihat lalu lanjut ngobrol, ada juga yang terang-terangan penasaran.

Normal sebenarnya.

Murid baru memang selalu jadi tontonan sementara. Namun tetap saja tidak nyaman. Sampai akhirnya langkah mereka berhenti di depan kelas paling ujung lantai dua.

XI-4.

Dari luar saja suara kelas itu sudah terdengar ramai.

Guru di sebelah Nadira bahkan belum sempat membuka pintu ketika dari dalam terdengar suara laki-laki cukup keras. "WOY BALIKIN PULPEN GUE ANJIR."

"Bukan gue yang ngambil!"

"Itu di kuping lo goblok!"

Hening satu detik.

Lalu satu kelas langsung meledak tertawa..Nadira refleks sedikit mengernyit. Kelas apa ini?

Pintu akhirnya dibuka. Dan suasana langsung berubah setengah tenang meskipun beberapa anak masih tertawa kecil sambil menahan sisa chaos barusan.

"Pagi semuanya."

"Pagiii, Bu."

Guru tersebut masuk lebih dulu sementara Nadira berdiri di depan kelas dengan perasaan yang mulai tidak nyaman lagi.

AKARA (Ending)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang