WARNING‼️‼️
Siapin mental dan stok sabar yang dobel pokoknya!
Private acak follow sebelum baca!
Sequel Trust Me Aretha
AKARA = Bayangan
Lengkap!
°°°°°°°°°°°°°
Kenapa jatuh cinta sesakit ini?
"Kenapa lo nggak ngejar-ngejar gue lagi?"
"Bukannya ini y...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Disini kalian bakal dijungkir balikkan dengan kisah cerita Arlan-Maura
Bagi Maura Adistya, hidup adalah sebuah konstanta-pasti, terukur, dan harus selalu berada di peringkat nomor satu. Sebagai Ketua Komisi Disiplin (Komdis) yang perfeksionis, ia percaya bahwa segala hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan rumus logis. Perasaan? Itu hanyalah variabel pengganggu yang harus dieliminasi.
Sampai akhirnya, Arlan Dirgantara datang merusak seluruh kalkulasinya.
Arlan adalah sebuah anomali. Cowok urakan itu adalah Wakil Ketua OSIS yang hobi melanggar aturan, tertidur di kelas Fisika, namun anehnya selalu bertengger di peringkat nomor dua-tepat di bawah Maura-dengan selisih nilai hanya 0,1 desimal. Alih-alih mencatat rumus, Arlan lebih suka membidik dunia lewat lensa kamera analog tuanya. Dan sialnya, objek foto favoritnya adalah Maura yang sedang marah-marah.
"Dunia itu nggak melulu soal angka yang presisi, Ra. Kadang, keindahan justru ada di sela-sela rana yang terlambat menutup," ujar Arlan dengan senyum miringnya.
Ketika keduanya terpaksa bekerja sama mengurus agenda sekolah, laboratorium hidup Maura mendadak error. Logikanya gagal terkalibrasi setiap kali aroma cedarwood dari jaket Arlan mendekat.
Ditambah lagi dengan kerusuhan para sahabat mereka di meja kantin, dan kehadiran Kevin-si siswa pindahan yang mencoba mengusik posisi mereka-situasi semakin tak terkendali. Ini bukan lagi sekadar perang mempertahankan peringkat paralel. Ini tentang dua kutub yang saling menolak namun enggan menjauh, tentang sebuah simpul dasi yang sengaja salah pasang, dan tentang gengsi setinggi langit yang perlahan runtuh karena detak jantung yang salah hitung.
Di antara kaku-nya rumus sains dan dinamis-nya sudut kamera, siapakah yang akan menyerah lebih dulu pada perasaan mereka?
Senin pagi di SMA Nusantara itu selalu punya pola yang kebaca. Bunyi gerbang karatan yang digeser satpam, bau aspal kena panas matahari, dan Maura Adistya yang udah berdiri tegak kayak tugu pahlawan tepat di garis kuning batas masuk.
Bagi Maura, jam 06.45 itu sakral. Lewat semenit? Berarti lo ngundang masalah besar yang tercatat rapi di buku poin warna merah miliknya.
"Dasi miring, kancing kantong lepas, terus itu... kaos kaki lo kenapa di bawah mata kaki, Gas?" Maura bergumam datar. Tangannya lincah nyoret-nyoret buku poin tanpa perlu ngeliat kertasnya.
Matanya yang tajem di balik kacamata frame item itu fokus nyari kesalahan sekecil atom pada setiap siswa yang lewat.
"Aduh, Ra, sans dong! Tadi gue bantuin kucing lahiran dulu di gang depan, sumpah demi apapun!" Bagas, yang emang dasarnya urat malunya udah putus, cuma nyengir lebar.
Tangan kanannya nenteng plastik kresek isi cireng yang masih berasap, sementara baju seragamnya keluar sebelah kayak abis dikejar tawon.
"Sepuluh poin buat kerapihan, lima poin buat telat. Simpen cireng lo atau gue sita buat penelitian di lab biologi," bales Maura tanpa nengok, nada suaranya dingin banget, seolah dia nggak punya selera humor sama sekali.