[1.5] The War {Still} Rage On

98 8 11
                                        

------

Senin, 16 Februari

2026

Suatu tempat di Samudera Pasifik

04.28

--------

"Bagus, sekarang kalian sudah menyelesaikan latihan kalian hari ini, prajurit. Kembali ke kabin kalian masing-masing!" Sang komandan memberikan perintah kepada barisan kami.

Dengan 30 prajurit yang sedang berbaris, komandan berbalik dan meninggalkan kami. Barisan lima bersap dengan jumlah enam baris mulai berpencar. Kami berdiri di atas dek, landasan pesawat terbang, U.S.S. Motherlode. Kapal yang diposisikan di Samudera Pasifik adalah Carrier Angkatan Laut Amerika Serikat. Aku melihat ke sekelilingku, ombak besar yang berguling dan menyenggol buritan kapal, angin 3 knot yang bertiup dari arah tenggara, langit gelap, pesawat berbaris layaknya antrian di sebuah pasar malam, membuatku merasa kagum.

Kenapa aku bisa di sini? Ceritanya panjang, sudah lima tahun sejak semuanya berlalu, pertemuan pertamaku dengan Titan. Sejak saat itu, pemerintah mulai kebingungan untuk memerangi para Titan. Walaupun semua kekuatan manusia digabungkan, masih belum ada teknologi yang dapat melawan para Titan. Semua kendaraan militer telah ditingkatkan untuk melawan Titan dan masih tidak berhasil. Walaupun setiap negara bekerja sama, melupakan masalah-masalah yang ada, hal yang paling efektif hanyalah saling membantu.

Karena jumlah prajurit yang menipis setiap kali ada serangan Titan, terpaksa pemerintah memberlakukan Wajib Militer untuk memerangi Titan, untuk setiap orang yang berusia 20 tahun ke atas. Aku dan kakakku tergabung di pasukan Angkatan Laut bagian Samudera Pasifik, baru bertugas satu bulan yang lalu. Berdiri di pinggiran kapal, aku mengehela nafas dan memejamkan mataku sebentar.

Tubuhku menjadi oleng, mungkin karena terbawa suasana dan aku sangat terkejut ketika melihat samudera di bawahku. Aku berbalik dan melihat Flank mengulurkan tangannya sambil berteriak,

"Ryse!!!"

Tetapi sayang, tanganku tidak dapat menggapainya, dan aku jatuh ditelan air asin tempat ikan-ikan hidup dan berenang sesuai kehendak mereka. Tak peduli apa yang terjadi di darat.

"ARGH!" Aku langsung menarik kepalaku ke atas.

Ternyata semua itu hanyalah mimpi. Pantas saja ada yang aneh, aku kan sudah mengikuti latihan tadi pagi. Terbangun di ranjang dengan dua kasur hanya dengan menggunakan kaus singlet, aku terbangun di kasur yang atas. Punggungku sakit sekali, itu dikarenakan kasur sialan yang keras seperti tanah kerikil tempat lapangan lari sekolah menengah atas. Bantal kepala yang keras, tetapi tidak terlalu, tetap menjaga kepalaku tidak mengalami rasa sakit. Kenapa kasur ini tidak seenak bantalnya? Huh. Keringat bercucuran di muka dan menuruni seluruh tubuhku.

Tersadar dari mimpi burukku, aku menoleh ke kiri.

Pintu besi dengan pothole masih tertutup, menunjukkan siluet sekumpulan orang dari arah sebelah kanan yang terpantul bayangannya ke jendela kami. Dinding yang sedikit berkarat tetapi tetap bersih. Langit-langit yang cukup rendah bisa kusentuh dengan mengulurkan tanganku ke atas sambil duduk di atas kasurku. Monitor untuk peringatan Titan di sudut ruangan.

Kemudian aku menoleh ke kanan.

Pothole yang menunjukkan ombak Samudera Pasifik mencuci jendela kami, selalu bersih setiap saat. Langit berwarna abu-abu gelap, mungkin akan ada badai hari ini. Di samping pothole, ada lemari baju yang cukup untuk dua pria. Meja kecil di samping ranjang sepertinya ada sesuatu. Mengintip sedikit, ada susu dan air putih di atas nampan di meja itu. Ada pintu menuju kamar mandi di sudut kanan ruangan, biasanya aku menggosok gigi dan mandi di sana jika sedang malas mandi di ruang loker.

Project Nova October: Definitive Path [SUSPENDED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang