Rabu, 28 Agustus 2014. Hari kematian Kouta Fujioka...
Pagi itu, Shinigami itu berada di sudut suatu ruangan. Cahaya matahari mulai menerangi ruangan kecil itu.
Ia lalu merogoh sakunya untuk mengambil jam sakunya.
"15 detik lagi..." gumamnya. Ia lalu menghitung mundur detik demi detik yang tersisa. 3, 2, 1. Klik! Ia menekan tombol yang ada di bagian atas jam saku itu.
Ia berjalan mendekati seorang pemuda yang berbaring di ruangan itu.
Kouta Fujioka, 29 tahun. Meninggal akibat malignant lymphoma pukul 06.15.
Shinigami itu lalu mengambil sebuah gunting perak dari dalam saku jasnya dan kemudian menggunting sesuatu. Benang penghubung antara kehidupan dan kematian.~~~
Ryo menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Berusaha untuk tidak memikirkan apapun saat ini.
"Dia sudah tiada..."
Ryo menoleh. Shinigami itu menundukkan kepalanya.
"Fujioka-san. Dia telah meninggal tadi pagi." Lanjut shinigami itu.
Seketika Ryo mengingat sesuatu. Ia lalu membuka laci mejanya. Dan mengambil sepucuk surat yang diberikan Fujioka itu padanya. Dia lalu bergegas keluar ruangannya.~~~
Ryo pun tiba di sebuah rumah duka. Ia lalu mengisi buku tamu dan memasuki ruangan. Terdengar suara pendeta membacakan sutra agar jiwa orang yang telah meninggal dapat beristirahat dengan tenang. Terlihat keluarga Fujioka di sudut ruangan. Naruse lalu bangkit berdiri dari kursinya dan maju untuk membacakan doa.
Setelah selesai membaca doa, Ryo mendatangi keluarga Fujioka.
"Uhmm...permisi." Sapa Ryo. Ketiga orang yang sedari tadi menunduk akhirnya mengangkat kepala mereka. Terlihat ekspresi terkejut yang membalas sapaannya. Ryo tersenyum lalu mengeluarkan sepucuk surat beramplop biru muda dari dalam saku jasnya.
"Aku datang untuk menyampaikan ini. Fujioka-san menitipkannya padaku." Ucap Ryo sembari menyodorkan surat di tangannya. Wanita paruh baya itu lalu menerima surat itu dan mengucapkan terima kasih. Ryo tersenyum.
"Kalau begitu, aku permisi." Ucap Ryo lalu membungkuk dan berbalik.~~~
Ryo tiba di depan ruangan perawatan kakaknya. Ia lalu membuka pintunya perlahan dan memasuki ruangan itu. Terlihat kakaknya sedang tertidur pulas.
Ryo menghela napasnya dan memandang langit senja yang berwarna oranye lembut dari jendela.
"Besok ya?" Gumamnya.
Ia menatap langit senja itu dengan penuh kekosongan. Namun entah mengapa ia mendapatkan ketentraman ketika melihat mentari senja yang sedikit demi sedikit mulai tenggelam.
Ryo kakaknya yang sudah terjaga.
"Hai, kak!" Sapa Ryo. Wanita itu kemudian bangkit dari tidurnya.
"Ryo? Tumben sekali datang sesore ini?" Tanya kakaknya. Ryo tersenyum.
"Aku rasanya tiba-tiba kangen kakak!" Candanya. Kakaknya mengkerutkan bibirnya.
"Dasar pendusta! Mana pernah kau merindukanku seperti aku selalu merindukanmu!" Balas kakaknya lalu tertawa. Ryo lalu menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan kakaknya.
"Kak..." Pangilnya.
"Hm?"
Ryo menelan ludahnya. Mengumpulkan nyali untuk melanjutkan.
"Jika aku mati...kau akan bagaimana?" Tanya Ryo. Kakaknya terdiam.
"Jika kau mati, maka seluruh harapanku juga ikut mati!" Jawab kakaknya. Ryo terkejut. Kakaknya lalu tersenyum.
"Kau tahu? Sejak ayah pergi meninggalkan kita, aku hanya punya ibu dan Ryo saja. Lalu tak lama kemudian ibu juga menyusul, satu-satunya yang ada sekarang hanyalah Ryo." Ucap kakaknya. Ryo terdiam. Air matanya mulai menetes.
"Kau selalu ada untukku setiap saat. Kau bahkan selalu mendukungku. Ryo bahkan berjanji untuk selalu menjagaku. Itulah yang membuatku merasa hidup. Itulah yang membuat Ryo selalu menjadi...tumpuan harapanku! Satu-satunya yang membuatku untuk tetap ingin hidup." Lanjut kakaknya. Ryo terisak. Kakaknya terlihat mengerutkan dahi.
"Maaf..." Isaknya. Maaf untuk tidak bisa selalu menjagamu.
"Ryo?"
Ryo masih terisak. Tiba-tiba saja terasa tangan hangat kakaknya menyentuh wajahnya. Ia menatap kakaknya yang tersenyum lembut.
"Kau ini memang cengeng ya!" Ejek kakaknya. Ryo terdiam.
"Tak masalah jika kau tak mau menceritakan masalahmu padaku. Tapi ingatlah! Jika kau punya masalah seberat apapun, kau selalu punya aku untuk bersandar." Ucap kakaknya. Ryo menatap kakaknya dalam diam dengan air mata yang masih mengalir.
"Aku mau jalan-jalan ke dermaga dekat rumah sakit. Maukah kau mengantarku? Sudah lama sekali tidak pergi ke sana." Tanyanya. Ryo mengangguk lalu mengantarkan kakaknya jalan-jalan.

KAMU SEDANG MEMBACA
DOPPLEGANGER
FanfictionWARNING: THIS IS AN OHNO CENTRIC FIC :) Characters: Shinigami no.413 Ryo Naruse Kouta Fujioka Satoshi Ohno (cameo in the final chapter) Tatsuya Fujiwara (cameo in the final chapter) languange: bahasa POV: author's POV