END OF THIS BOOK

260 14 0
                                        


Hari-hari buruk akan menjadi masa lalu.

Saat menoleh ke belakang, aku harap bisa tersenyum dan mengatakan baik-baik saja. Harusnya seperti itu, bukan? Aku telah melalui hari-hari buruk itu. Sesuatu yang menyisakan kepedihan dan... kehilangan.

"Kamu akan baik-baik saja."

Satu kalimat ampuh itu diucapkan dengan tulus. Kalimat sederhana yang membuat wanita itu tersenyum. Dia mengangguk dan mempererat genggaman tangan pria di sampingnya. Seorang pria yang sedari tadi menemaninya. Pria yang menguatkannya setiap saat. Pria yang mengucap kalimat ampuh itu.

"Dia akan keluar bulan depan, bukan?" Ivan bertanya sekedar mengingatkan.

"Ya, Ibu sudah tidak sabar bertemu dengannya. Membuatku iri."

Ivan mengulum senyum. Sekarang dia lebih terbuka dan jujur terhadap apa yang dirasakannya. "Seorang ibu memang harusnya seperti itu. Selalu memaafkan anaknya meski kesalahannya yang dibuat begitu besar."

"Tapi, tetap saja..." Wanita di samping Ivan memberengut.

"Ibu lebih dekat dengan anak laki-laki. Sedangkan, ayah dekat dengan anak perempuan. Meski begitu, orang tua selalu menyayangi anak-anaknya dengan takaran yang sama. Hanya perhatian mereka saja yang berbeda."

"Kamu jadi terlihat tua sekarang," gerutu Deva.

"Hah? Aku kan jelas lebih muda dari, Mbak Deva," protes Ivan.

"Jangan coba-coba memperjelas perbedaan usia kita!" Deva melotot tidak terima. Sudah empat bulan ini Ivan tidak memanggil dengan sebutan 'Mbak'. Deva telah melarangnya sejak ia memutuskan untuk menerima Ivan di sisinya.

"Hehehe." Ivan memamerkan deretan giginya seraya menggaruk kepala yang tak gatal. "Kelepasan."

Deva menghentak genggaman tangan Ivan. "Aku mau pulang!" Ia berjalan mendahului Ivan. Meninggalkan kekasihnya.

"Sayang, tunggu!" Ivan menyusulnya cepat. "Jangan marah!" Ivan selalu kelimpungan jika Deva marah. Menarik kembali tangan Deva dan menggenggamnya. Berjalan beriringan. "Kita kan belum selesai berkencan."

"Pergi saja sendiri!" Kembali Deva menghentak tangan Ivan.

"Kamu lagi PMS ya?"

"Bukan urusanmu!"

"Jangan marah, nanti cepat tua," goda Ivan.
Tak tahu lagi bagaimana merayu Deva.

"Aku memang sudah tua."

Haduh, harusnya Ivan tidak menyebut kata tua dan usia. Itu kata-kata sensitive yang selalu membuat Deva naik darah. "Maafkan, aku." Ivan menghadang langkah Deva. Menarik kedua tangan Deva.

Menghela napas panjang, Deva mengulum senyum. Mau bagaimanapun, ia tidak bisa marah dalam jangka waktu panjang terhadap Ivan. Pria di depannya ini yang sudah menyadarkannya. Menarik Deva dari keterpurukan.

Mengerjapkan mata perlahan. Cahaya putih memekakan pandangannya. Entah kapan terakhir kali ia melihat cahaya. Rasanya lama. Penglihatannya perlu menyesuaikan diri.
Tanpa memerlukan waktu lama, hanya beberapa menit matanya berhasil menangkap bayangan nyata di sekitarnya. Dinding putih, langit-langit putih, infuse di sampingnya, dan alat yang terus berbunyi di sisi lain ia terbaring.

Ini dimana? Ingin sekali ia menyuarakan pertanyaan itu. Akan tetapi, tenggorokannya kering. Menelan ludah, ia membasahi tenggorokannya.

"Mbak sudah bangun?" Suara yang dikenalnya mengalihkan pandangannya. Ia dapat melihatnya.

"I...van?" Suaranya serak. Sungguh tidak enak didengar.

"Ya, Mbak Deva mengingatku?" Senyum sumringat Ivan membuat Deva mengerutkan kening.

BUKU YANG TERBUKACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang