Five

16.3K 91 0
                                    

David POV

Oh my fucking bitches! Her boobs, her nipples Goddammit! Nipples segarnya berwarna merah muda, payudaranya yang dempal dan lumayan besar,

and,

oh

fuck you Nora.

Ia menunduk tepat didepan wajahku. Dan tanpa ia sadari, ia membangunkan my baby yang ingin keluar dari sangkarnya.

"What? Apa yang kau lihat?" tanya nya.

Aku menatapnya kaget.

"Nothing. I just, ck!" jawabku gugup.

Nora menatap mataku intens. Lalu ia tersenyum nakal.

"Ahh," desahnya.

I mean, bukan mendesah. Ia hanya seperti ingin berbicara? Ingin berbicara tetapi tidak jadi.

I repeat, Nora tidak mendesah.

Tetapi suaranya yang terlalu sexy membawaku ke alam liar. Membayangkan Nora mendesah keras dengan menyebutka namaku.

Perfect.

"Photoshoot apa lagi setelah ini?"

Ia bersedekap dan memutar-mutar tali bra nya. Jika kalian bisa membayangkan, posisi kepalaku saat duduk, setara dengan kemaluan Nora saat berdiri.

Bayangkan. How can i, i mean, sebagai kaum lelaki, apa bisa aku menyia-nyiakan yang seperti ini?

"Wait. Aku tidak harus bertelanjang sepanjang hari kan?"

"You should,"

wHat. whAt. WhaT did just i say?

"What?" Nora memandangku kaget. "Ok," balasnya kemudian.

"Jika kau menyuruhku untuk sehari tanpa pakaian dihadapanmu, aku akan memenuhinya,"

Aku terdiam menatap wajahnya, payudaranya, dan kemaluannya.

Tanganku sudah meronta untuk membelai indah payudara dan kemaluannya.

Tiba-tiba Nora menunduk dan membisikkan sesuatu,

"Control your kid, baby."

Nora menepuk kejantananku yang menggembung dibalik jeans ku.

Aku berdiri dengan sigap. Begitupula Nora. Ia masih tersenyum nakal sambil menatap kejantananku.

Aku maju selangkah untuk mendapatkan wajahnya untuk ku cium lembut bibirnya.

Nora semakin menarik kausku untuk mendekat, meraba-raba dadaku pelan, membuatku harus menahan nafas sekuat tenaga.

Tanpa kutahan lagi, aku mencium bibirnya lembut. Kuremas bokongnya dan kunaikkan keatas meja makan didekat jendela.

Nora membalas ciumanku lembut. Ia meletakkan kaki di pinggangku. Nora semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku hingga aku dapat merasakan kerasnya puting nya di dadaku.

Nora melepaskan tautan kami.

Aku menatapnya bingung.

"Bedroom? Or bathup? Or pantry?"

Aku tersenyum nakal.

"Bedroom. Dengan selimut tebal yang menutupi kita. Perfect."

Ia tersenyum lebar. Nora melompat turun dari meja makan membuat payudaranya bergerak naik turun dihadapanku.

Aku mencubit putingnya gemas. Tak mau rugi, aku juga meremas payudaranya sekilas.

"Ouhhh," desahnya. Lalu ia mencium bibirku sekilas.

"Not now baby. Bersabarlan kiddo," Nora mencium kejantananku dan menepuknya dua kali lalu menarik tanganku menuju kamar.

"Let's go!"

NoraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang