Chapter 1

115 39 15
                                    

Nidya melangkahkan kakinya ke halaman sekolah. Dilihatnya laki-laki yang dicari, ia segera berjalan mendekatinya.

"Levi!" panggil Nidya seraya menarik lengan laki-laki yang bernama Levi itu sedikit menjauh dari 2 orang yang mengobrol dengannya.

"Apaan sih," pekik Levi.

"Eh lo ngapain sih surat cintanya pake lo pajang di mading. Gue kan malu diliatin anak-anak. Kalo misalnya gak suka, ya gak suka aja," ucap Nidya panjang lebar.

"Punya malu lo?" tanya Levi cuek.

"Ya punya lah!" jawab Nidya cepat.

"Ya kalo lo punya malu, stop nyatain cinta ke gue. Stop ngasih surat cinta buat gue gitu lah. Asal lo tau, gue itu gak suka sama cewe yang nilai rapotnya di bawah kkm. Alias bodoh," jelas Levi.

"Eh, emangnya kalo gue pinter, lo mau nerima cinta gue?"

"Kata siapa?"

"Ya kan tadi lo bilang, kalo misalnya bodoh lo gak suka. Berarti kalo pinter, lo suka dong,"

"Ah bisa aja lu. Pokoknya lo itu bukan tipe cewe gue,"

Nidya mendekatkan telinganya. "Emang nya tipe cewe lo kayak gimana sih?"

"Tau ah. Banyak nanya lo kaya tamu," balas Levi lalu pergi meninggalkan Nidya.

"Ih, Levi!" pekik Nidya.

***

Levi menyantap semangkuk baksonya di kantin sekolah. Sekalian, ia juga membaca beberapa materi yang ada di ponselnya. Maklum saja, ia termasuk anak yang berprestasi di sekolah.

"Hai Levi," sapa perempuan sebayanya yang bernama Cindy.

"Tadi Nidya nembak lo ya? Nidya berani banget sih nembak lo, gatau malu. Cantik enggak, bodoh iya. Lo itu cocoknya sama gue. Gue kan cantik, baik, pinter lagi. Iya kan?" ucap Cindy panjang lebar.

"Udah selesai latihan drama nya? Lo kalo mau latihan drama jangan disini, gue lagi makan. Tuh disana," balas Levi agak sarkastik.

"Lo kok gitu banget sih, gak ngerti perasaan orang. Asal lo tau, gue gak pernah ditolak kayak gini,"

Levi hanya mengangkat alisnya seakan berkata gue-gak-peduli. Lalu ia pergi meninggalkan Cindy dan semangkuk baksonya.

Sementara, Nidya yang melihat kejadian itu tidak menyangka. Siapa yang tidak kenal Cindy? Murid pinter yang selalu mendapat juara kelas sepertinya saja ditolak Levi.

"Hm, hai Levi!" sapa Nidya saat melihat Levi jalan di depannya.

Ia berjalan menghampiri Levi. "Lo pasti mau minta maaf kan sama gue? Tenang aja, udah gue maafin kok. Baru surat cinta yang lo pajang, hati gue yang di pajang juga boleh kok. Asal di hati lo,"

Levi hanya memberi tatapan cool pada Nidya. Ia tersenyum singkat lalu pergi.

"Ih, Levi! Malah stay cool aja jadi orang," gerutu Nidya.

***

Jam pulang sekolah pun tiba. Levi segera membereskan buku-bukunya. Tiba-tiba ponselnya berdering.

Ia mengambilnya di saku celana. Dilihatnya layar ponsel bahwa itu mama nya.

"Halo, ma. Kenapa?" tanya Levi.

"Iya, Lev. Nanti kamu langsung pulang ke rumah baru aja ya," balas mama nya.

"Oh udah pindah ke rumah baru? Barang-barang aku udah di pindahin semua?"

"Udah kok. Paling tinggal yang kecil-kecil aja, itu kan bisa besok. Kamu pulangnya cepetan dong,"

UnexplainableTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang