4. Aira's life

546 24 0
                                    

Lelaki bernama Aditya itu tersenyum lebar mengetahui fakta bahwa gadis pujaannya bisa mengenalinya hanya dalam waktu sedetik. Memang tak banyak yang berubah dari dirinya. Tapi ini adalah pertemuan pertama mereka lagi setelah 2 tahun tidak bertemu.

"Wah, ternyata Aira sayang masih ingat aku." goda Adit.

Aira tersenyum kaku. Dia kira hidupnya sudah aman, tidak akan bertemu lagi dengan lelaki tengil di hadapannya. Namun ternyata keberuntungannya hanya selama 2 tahun.

"Kamu gak nanya kabar aku? Gak kangen memang?" tanya Adit, masih dengan senyum lebarnya.

"Ah, iya. Kamu apa kabar? Terakhir kali aku dengar kamu lanjut S2 ke Inggris?" Aira mencoba berbasa - basi.

"Aku baik. Iya, memang. Dan sekarang S2-ku sudah selesai, makanya aku pulang ke Indonesia."

Aira hanya manggut - manggut mendengarnya.

"Oh iya, besok jalan yuk? Tempatnya kamu yang tentuin." tambahnya lagi.

"Aku besok tetap ke butik. Ada pesanan gaun yang harus diselesaikan." Aira mencoba untuk menghindari ajakan Adit. Yah, memang selama ini itulah yang selalu dia lakukan.

 "Kamu punya butik sekarang? Dimana? Biar aku main kesana." Dugaan Aira salah. Ternyata bukannya menyerah, Adit malah ingin mengunjungi butiknya.

'Apa di Inggris tidak ada gadis yang menarik perhatiannya? Kukira setelah 2 tahun disana dia akan berhenti mendekatiku.' Aira bergumam di dalam hati.

*****

Flashback on

Aira dengan seragam abu - abu terlihat cantik dan polos. Yang jadi fokusnya di tahun pertama sekolah hanya belajar dan mendapatkan nilai yang bagus untuk bekal menuju perguruan tinggi. Tidak peduli ada banyak laki - laki yang mencoba menarik perhatiannya, salah satunya Adit.

Adit yang saat itu sudah kelas 3, merasa tertantang untuk mendapatkan Aira yang katanya sulit didekati. Dan terbukti, usahanya tidak membuahkan hasil.

Dari awalnya merasa tertantang, lama - kelamaan Adit merasakan rasa yang sebenarnya. Rasa ingin memiliki Aira dan ingin melindungi yang begitu besar. Dia yakin bahwa yang dirasakannya bukan cinta monyet lagi. Namun lebih dari itu; perasaan dari seorang lelaki kepada seorang perempuan.

Lulus SMA, Adit masih giat mendekati Aira. Ditambah dengan fakta bahwa kedua orang tua mereka yang ternyata saling mengenal, membuat Adit lebih berpeluang untuk menemui Aira. Bukannya tak ada saingan bagi Adit untuk mendekati Aira. Tapi Adit selalu bisa membuat mereka menyerah dan mundur teratur.

Waktu terus berjalan, Aira sudah lulus sekolah dan memilih melanjutkan kuliah di Sidney. Awalnya Adit mulai menyerah. 'Terlalu banyak hal yang jadi penghalang' pikirnya waktu itu. Tapi melihat respons dari kedua orang tua Aira, Adit merasa mendapatkan lampu hijau.

*****

Knok knok. Suara pintu kamar kos Aira diketuk.

Aira berjalan untuk membuka pintu kamarnya. Aira terkejut, yang dilihatnya pertama kali adalah sebuah buket bunga besar, menutupi wajah seseorang. Dan lebih terkejut lagi, ketika si pemberi bunga menunjukkan wajah aslinya.

"Adit?" pekiknya tak percaya.

"Ya, cantik. Ini aku. Surpriseee!" Aditya tampak sangat bersemangat. Moment yang sudah dinantinya selama beberapa bulan belakangan ini.

"Bagaimana bisa?" Aira masih belum pulih dari keterkejutannya.

"Tante Dewi yang kasih tahu aku alamat kamu disini. Tapi kamu jangan marah sama mamamu, karena aku yang terus memaksa. Maaf ya." Senyum lebar terpasang di wajahnya, berbanding terbalik dengan kata maafnya.

Aira memperhatikan Adit yang kini duduk santai di kursi di dalam kamarnya sambil menonton tv. Aira masih tak menyangka bagaimana bisa seorang Aditya yang terkenal dengan sifat playboy-nya menyusul Aira sampai ke Sidney. Bukankah masih banyak wanita di luar sana yang bisa dia rayu? Mengapa harus menghabiskan waktu, biaya dan tenaga hanya untuk mengunjunginya disini?

Flashback off

*****

"Hei, malah melamun. Dimana alamat butikmu?" Suara Adit menginterupsi lamunan Aira.













The Wedding OrganizerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang