Stevy kembali datang ke butik Aira, kali ini dia juga datang dengan calon suaminya, Ryan. Kedatangan mereka kali ini untuk membahas dekorasi gedung tempat berlangsungnya akad sekaligus resepsi. Selain itu, mereka juga berniat untuk memilih model undangan.
Melly masuk ke ruangan sambil membawa beberapa buku dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Aira sudah tahu kemana arah pikiran Melly. Dia pasti gembira bisa melihat Ryan lagi.
Beberapa hari belakangan ini pekerjaannya adalah bertanya kepada Aira, apakah Stevy sudah memberi kabar kapan akan datang kesini lagi. Dan objeknya yang tak tahu apa - apa, terlihat sibuk dengan handphone di tangannya, seperti biasa. Ya, biasa. Karena beberapa hari yang lalu saat mereka datang kemari, Ryan juga melakukan hal yang sama.
Aku memberikan buku - buku yang Melly bawa kepada Stevy dan Ryan. Kebetulan hari ini butik cukup ramai, jadi Melly tidak bisa lama - lama memandangi Ryan dan harus segera membantu teman - temannya yang lain.
Stevy menerima buku yang diberikan Aira, membukanya untuk berbagi dengan Ryan. Melihat Ryan yang masih sibuk dengan gadget-nya, Stevy mengambil benda itu dari tangan tunangannya.
Ryan terkejut. Wajahnya terangkat menatap Stevy.
"Ini dulu dong, Sayang. Kalau handphone terus, kapan kita pilih tema dekorasinya?"
Ryan menghela napas, menyerah. Aira merasa tidak enak melihat adegan di depannya.
"Mana, sini aku lihat."
Setelah berdiskusi yang kadang diwarnai perdebatan serta bantuan dari Aira, akhirnya mereka sepakat. Warna yang dipilih untuk dekorasi adalah merah dan gold.
Rencananya, di tengah ruangan akan digantung lampu kristal yang besar, begitupun di sekitar pelaminan. Untuk bunga, mereka ingin semua bunga yang dipakai untuk menghiasi pelaminan adalah bunga hidup yang segar. Juga sebuah patung angsa yang terbuat dari es di dekat stand buah dan puding. Dan untuk tambahan, mereka menginginkan adanya tempat untuk photo booth.
"Untuk lebih detail, nanti aku akan lihat langsung ke gedungnya. Supaya tepat juga dengan harapan kalian" ucap Aira.
"Ah, iya. Kapan kamu ada waktu? Nanti biar aku atur jadwalnya" jawab Stevy dengan semangat.
"Nanti aku kabari ya. Tapi yang pasti masih minggu - minggu ini."
"Dan ini, katanya kalian juga akan memilih undangan kan?" Aira kembali menyerahkan beberapa buku.
"Yang, yang ini bagus. Warnanya juga soft." Stevy menunjukkan sebuah contoh surat undangan berwarna merah muda.
"Yang biru ini lebih bagus." Ryan juga menunjukkan sebuah surat undangan.
Dan mereka mulai berdebat, memilih mana yang menurut mereka lebih bagus. Lagi - lagi Aira merasa canggung melihat mereka berdebat.
"Hallo cantik." Mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara.
'Lagi - lagi Adit', pikir Aira.
Adit datang dengan membawa sebuah tas kertas di tangannya.
"Wah, lagi rame ya? Aku bawa makan siang untuk kamu. Kamu belum makan, kan?"
"Belum."
"Permisi, aku tinggal sebentar ya." pamit Aira kepada Stevy dan Ryan sambil menarik Adit menuju ke ruangannya.
Melly yang sedang merapikan baju di etalase, melihat Aira dan Adit yang lewat di depannya. 'Wah, siapa lagi ini? Ganteng,' pikirnya.
Adit hari ini memakai kemeja warna putih, begitu kontras dengan kulit coklat miliknya. Tubuhnya yang atletis masih bisa terlihat walaupun dilapis kemeja. Rahangnya kokoh, alisnya tebal. Bulu mata yang lentik menanungi sepasang mata yang hitam kelam. Tipikal cowok Indonesia yang gagah.
"Dit, kamu tunggu disini ya? Aku temani tamu sebentar, ok?" Aira bertanya dengan hati - hati.
"Ok. Tapi jangan lama - lama. Nanti makannya keburu dingin."
*****
Kedua calon pengantin sepertinya sudah berhenti berdebat ketika Aira sampai di ruang tamu. Karena mereka sekarang tengah melihat - lihat buku dengan tenang.
Stevy yang menyadari kehadiran Aira, mengangkat wajahnya.
"Ra, kami sudah sepakat. Untuk surat undangan, mungkin akan kami bahas lagi di kunjungan berikutnya. Dan sepertinya, nanti kami akan mengajak mamaku untuk membantu memilih."
"Oke. Boleh," jawab Aira
"Kalau begitu, kami rasa hari ini cukup, belum ada lagi yang perlu dibahas. Jadi, kami pamit. Lagi pula sepertinya ada tamu spesial."
Aira hanya tersenyum kaku. Bingung harus berkata apa. Stevy dan Ryan berdiri dari duduknya. Aira menjabat tangan mereka bergantian.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Wedding Organizer
ChickLitAira, seorang gadis yang berkarir menjadi seorang wedding organizer. Sibuk mengurusi pernikahan orang lain padahal dirinya sendiri belum menemukan calon pendamping hidupnya.