Hai, gemana ceritanya?
Kepanjangan banget gak?
Hehehe... moga kalian nggak boring membacanya^_^
Please voment ya!!!
Happy reading!
-------------------------------------------------------------
(Lucius POV)
Brash...
Aku dan Eika tiba di sebuah rumah kayu yang berada di pinggir hutan. Aku telah menghilangkan sayapku. Aku tidak ingin menarik perhatian penduduk di wilayah ini. Karena, aku bisa melihat Lumina menatapku dari angkasa.
"Kakak, kita ingin bertemu siapa?", tanyanya. Pipinya yang tembam menambah keimutan wajah khas seorang farhlt.
"Kau lihat,". Aku menunjuk pada seorang gadis berambut pirang yang sibuk memasak di dapur. "Aku ingin berjumpa dengannya.", akuku.
Eika mengikuti arah jariku dan terkesiap melihat siapa yang ku tunjuk. "Apakah dia...". Aku mengangguk. Eika melompat kegirangan mengetahui gadis itu Lunar.
"Ayo kita jumpai Lady, Kak!", ajak Eika seraya menarik tanganku. Aku tetap diam. Membuat Eika menatap kesal diriku. "Belum saatnya, Eika. Bukankah kau tahu kemampuanku melemah selama Lumina di luar?", tanyaku sambil terkekeh melihat Eika menepuk pelan dahinya.
Malam hari. Seperti biasa. Setelah menghidupkan gambar rasi yang telah dibawa para farhlt, aku segera membawa serbuk memore yang telah dikerjakan para gealth.
"Hati-hati, Kak!", kata para farhlt sebelum sayapku membawaku melintasi langit malam bertabur bintang.
Sepanjang perjalananku, kepakan sayapku menebarkan serbuk kecil yang membuat beberapa makhluk seperti hewan dan kera berjalan tidur sedang hewan nokturnal, seperti kelelawar terjaga. Serbuk ku juga membuat beberapa hewan dengan penglihatan khusus mampu terjaga lebih lama untuk berburu.
Sebelumnya, aku minta maaf jika menyebut kalian kera berjalan. Jujur. Aku benci kalian. Karena Lunar rela menghabiskan 500 tahun untuk menjalani hukuman demi kalian! Dan, apa yang kalian balas?
Nothing! Hmm... wait! Kurasa, penduduk selatan tidak bisa dibilang kera berjalan. Mereka masih menghormati kami penduduk langit.
Ya. Kalian pasti tahu siapa yang kumaksud kera berjalan, kan? Hnn... sayangnya, aku tidak bisa seperti Lumina untuk tidak berkuda di utara. Setidaknya, aku bisa mengutak-atik mimpi para utara karena aku LUCIUS!
Perjalanan panjangku akhirnya berakhir setelah 2 jam mengelilingi Bumi. Aku mendarat di sebuah kamar. Kamar tersebut kecil hingga sayapku tidak bisa terkembang sempurna di sini. Aku langsung menghilangkan sayapku. Meninggalkan beberapa helai sayap hitamku yang gugur di lantai. Tenang saja! Hanya penduduk langit yang dapat melihatnya.
Dengan hati-hati aku menghampiri gadis itu. Wajahnya sangat sempurna meski sejejak lendir tertinggal di sudut bibir mungilnya. Aku terkekeh pelan. Hati-hati sekali aku mendudukkan pantatku di samping ranjangnya. Kupandang puas wajah yang selama ini kutemani selama 500 tahun hidupnya di Bumi.
Aku selalu mengingat. Sejak 500 tahun lalu, dia tidak akan pernah hidup lama. Terkadang ia akan menghilang di telan Bumi jika purnama yang muncul bukanlah great eclipse.
"Lunar sayang,". Aku membelai pipinya. Menyingkap rambut yang menutupi wajahnya. "Aku sungguh benci manusia. Kenapa kau begitu membela mereka?", lanjutku seraya menikmati wajahnya yang terlelap.
"Uuh...". Ia bergerak gelisah. Apakah aku membangunkannya. Aku pun menjauhkan tanganku dari dahinya. Tapi, wajah damainya saat aku datang berganti dengan kecemasan. Apakah ia...
Aku merogoh sesuatu di kantung kananku lalu menebarkan serbuk kemilau di atas kepalanya. Aku tersenyum lega melihat wajahnya kembali damai. Sepertinya dia sudah tidak mimpi buruk lagi, kataku penuh syukur. "Bye, Lunar.", bisikku sebelum menghilang dari kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bulan... Utara... Selatan...
Romance500 tahun telah berlalu... Namun... Ingatan itu terus terbayang layaknya layar film yang terbentang... Selalu bergaung layaknya cerita yang dibisikkan di telinga sebelum tidur... Ini sudah 500 tahun... Namun... Tak seorang pun dapat melakukannya... ...
