Musim 4

1.7K 83 12
                                    

Bel istirahat sudah terdengar seantreo sekolah, semua siswa mulai berhamburan keluar kelas dan berpencar mencari makanan favoritnya di Kantin Sekolah. Nila, Daffa, dan Risna teman sebangku Nila masih duduk di kursinya seraya merapihkan buku buku yang berantakan di atas meja, Tasya berdiri ingin membeli camilan di kantin untuk mengisi sedikit perutnya.

"Sya, Mau kemana?" Tanya Nila saat Tasya melewati Mejanya. Tasya sudah sedikit berdialog dengan ke tiga teman barunya itu, namun belum intens karena Jam pelajaran yang padat.

"Ke Kantin"

"Mau beli apa? Kalo makanan, mending gabung makan sama kita aja," ucap Nila, semua orang di hadapan Tasya tersenyum kecuali Daffa.

Belum sempat Tasya menjawab, Nila dan Risna sudah mengeluarkan beberapa kotak makan dari dalam tas mereka, karena tak enak hati Tasya kembali duduk di kursinya. Nila membuka satu persatu kotak makanan yang berisi nasi dan lauk yang penuh, paduan antara tempe, kecap, dan sedikit irisan cabai terlihat lezat dipandang, ditambah bakwan jagung yang dibawa Risna pasti bikin semua yang melihatnya tergoda.

"Makanan kita gini gini aja sih, Sya, tapi lumayan uang jajannya bisa ditabung." Jelas Nila Seraya memberi sendok pada Tasya.

"Cobain, deh."

"Emang dia bakalan doyan makanan kayak gini?" Satu kalimat dari mulut Daffa itu membuat Nila melotot tajam padanya.

"Sya, omongan orang ini nggak usah ditangepin ya, emang orangnya suka nyari perhatian." Ucap Nila, Tasya tersenyum untuk memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja dengan 'Gaya Bercanda' Daffa, tapi sejujurnya dari pertamakali mendengar namanya di kelas ini sudah membuat Kepala Tasya pusing, serius.

Tasya mulai menyuap sendokan pertamanya, rasanya memang biasa menuju enak tapi Tasya justru merasakan hal lain di saat ini, ada rasa hangat yang terasa dari persahabatan mereka, rasa tulus dan juga kesolidan yang terasa nyata di depan mata yang ingin juga Tasya miliki.

"Gimana rasanya, Sya?"

"Enak, kok"

"Syukur deh, kalo kamu doyan"

Kemudian semuanya melahap makanan itu sampai habis tak tersisa. Sampai Tasya Teringat dengan uang yang dipinjamnya dari Bagas, uang itu masih utuh dengan nominal lima puluh ribu.

"Kalian punya uang pecahan lima puluh ribu nggak, ya?" Tasya langsung mencoba cara pertamanya.

"Aku ada kok, Tapi dari uang kas kelas heheh." Jawab Nila.

"Boleh deh," kata Tasya, jawaban Nila sekaligus menambah tau kalau Bendahara di kelas ini adalah Nila.

"Nih," Nila memberi beberapa lembar uang kertas pada Tasya yang ditukar dengan selembar uang.

"Makasih, ya Nila." Tasya tak salah pilih untuk tinggal di Solo dan mulai kembali bersekolah di sini, karena semua itu bisa membuka kembali pikiran Tasya bahwa masih ada orang baik di dunia ini. Tapi bagaimana jika mereka mengetahui masa lalu Tasya? Apakah akan tetap menjadi orang yang baik di sekeliling Tasya ? atau justru menjauh karena merasa tak sepadan lagi? Entahlah.

xoxoxoxoxoxoxoxoxo

"Kamu mau pulang bareng?" tanya Bagas pada kekasih tercintanya. Nila.

"Boleh, tapi aku mau bantu Bu Sagantha ngerekap nilai dulu," jawabnya. "Tapi kalau kamu mau pulang duluan juga gak apa, aku bisa pulang sendiri" lanjut Nila, ia merasa tak enak pada Bagas jika harus menunggunya terlalu lama.

"Gak kok, aku tunggu di kantin ya" Nila mengangguk sebagai jawaban, Bagas tersenyum lalu mengelus kepala Nila lembut.

Perlakuan Bagas kepada Nila selalu manis, hubungan yang sudah dijalani hampir setahun ini pun terasa semakin indah. Nila adalah tipe perempuan yang simple, dan tidak menuntut banyak dari Bagas. Ia hanya meminta jika hubungan yang mereka jalani harus dilandasi dengan rasa kepercayaan.

Bagas mengurungkan niatnya membeli es buah setelah melihat segerombolan awan hitam di langit sekolah. Ia memilih untuk membeli secangkir moccacino hangat sebagai penggantinya. Benar saja, tak lama tetesan air langit jatuh ke bumi, membasahi apapun yang ada dibawahnya tanpa terkecuali.

"Tasya!" Bagas memanggil perempuan yang baru dikenalnya tadi pagi. Tasya sedang berdiri di sudut Lobby Sekolah, dia membiarkan sepatunya terciprat air hujan.

Tasya menoleh saat namanya dipanggil, matanya berbinar-binar setelah melihat Bagas lah yang memanggil namanya. Jantungnya kembali berdegup kencang saat Bagas mulai menghapus jarak diantara mereka. Bagas berlari kecil menghampiri untuk Tasya, membuat anak rambutnya sedikit berantakan. Mau rapih, mau berantakan, tetap saja, tampan.

"Belum pulang?" Bagas memulai pembicaraan. "Belum," jawab Tasya sambil terus menjaga mimik wajahnya, agar tidak terlihat gugup.

"Pulang sendiri?" tanya Bagas lagi.

"Enggak, dijemput"

"Oh gitu," Bagas mengangguk setelah pertanyaannya dijawab oleh Tasya.

"Lo sendiri belum pulang?" kali ini Tasya yang bertanya.

"Belum, lagi pula masih ujan." Bagas menjawab, kedaan menjadi kikuk diantara mereka, hanya terdengar suara derasnya aliran air yang jatuh dari langit.

Tiba tiba sebuah benda di saku Tasya berdering, dengan cepat Tasya mengambilnya dan melihat siapa yang menelpon.

"Hallo" sapaan dari Tasya untuk orang di dalam telponnya.

"Oh udah sampai di depan ya pak?" Tanya Tasya.

"Tunggu sedikit redaan aja ya pak," Tasya mematikan sambungan telponnya dengan orang di sebrang sana, lalu mengembalikan ponselnya ke dalam saku.

"Kenapa? yang jemput udah dateng?" tanya Bagas. Tasya mengangguk, "tapi masih hujan deres, gue gak bawa payung buat jalan ke depan."

"Gue ada payung kok," Bagas langsung meraba tasnya, mencari benda yang bisa melindunginya dari air hujan.

"Gue anterin aja ya," Tawar Bagas seraya membuka payungnya, sedangkan Tasya masih menimang nimang ajakan Bagas.

"Udah, ayo!" Bagas menarik tangan Tasya untuk berteduh di bawah payung yang sama dengannya.

Mata teduh milik Bagas membuat Tasya tak bisa mengalihkan pandangannya kemana pun. Dengan jarak sedekat ini Tasya bisa memcium wangi tubuh Bagas, manis.

Bagas mengembangkan senyumnya, lalu menarik pundak Tasya mendekat agar tak terkena air hujan, dan mulai mengambil langkah menuju gebang sekolah.

Sesampainya di gerbang sekolah, Tasya meminta Bagas untuk mendekati mobil avanza hitam miliknya.

"Makasih ya," ucap Tasya setelah susah sampai di depan mobilnya.

"Sama sama," jawab Bagas.

"Gue masuk ya."

Bagas mengangguk, Tasya mulai membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.

"Makasih banyak ya buat hari ini" ucap Tasya sebagai rasa sangat sangat berterimakasih. Bagas hanya mengangguk seraya tersenyum.

Di dalam mobil Tasya terus bersyukur, kenapa? karena sudah dipertemukan dengan orang yang sangat baik di hari yang ia pikir akan menjadi awal yang menyulitkan.

***

Hai, teman.

Selamat membaca kisah sederhana ini, kisah yang tidak istimewa tapi aku harap bisa punya makna di hati pembacanya.

Terimakasih untuk mau membaca ini, terimakasih juga untuk tak membiarkan tulisan ini sendirian.

Terimakasih berjuta kali. Peluk nan hangat dariku, Cherinche.

See you On My IG : @Cherin_che & @Rainboowday_

PELANGI KEENAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang