Sunday, November 16th 2014
Pagi ini kubuka mata dengan sangat beratnya karena sembab akibat menangis semalam. Bayangan tadi malam masih sangat terngiang-ngiang dipikiranku.
Namun karena kejadian semalam pula yang membuat perasaanku sedikit lebih lega. Setidaknya Farhan mengetahui perasaanku saat ini, dan dia memberikanku waktu agar hati ini sepenuhnya untuk Farhan.
Ya, aku sangat bersungguh-sungguh untuk menyudahi perasaan ini untuk Juna dan terfokus pada Farhan.
Aku tersenyum ... pagi ini aku akan mengunjungi RWCafé seperti biasa, ditambah dengan ditemani Farhan. Setidaknya hal ini sedikit membantu agar hatiku sepenuhnya untuk Farhan.
Karena itu, kuawali hari Minggu pagi dengan senyuman kebahagiaan, juga penuh dengan sikap optimis. Aku percaya, bahwa aku mampu. Aku pula memantapkan hatiku bahwa, mulai saat ini, hati ini milik Farhan ... sepenuhnya.
***
"Pokoknya lo harus baca komik ini. Ini seru, Aca! Lebih seru dari novel menye-menye atau romance yang selalu lo baca. Percaya sama gue," sahut Farhan menunjukkan beberapa komik berjudul Shinigami or Shikigami dengan beberapa volume yang berbeda.
"Lebih seru novel, tahu! Lagian aku nggak ngerti komik. Aku nggak tahu harus baca dari sebelah mana terus ke mana. Jadi pusing," keluhku mengerucutkan bibir.
Farhan menghela nafasnya pelan, "Baca komik gampang, kok. Halaman komik sama dengan halaman buku yang biasa lo baca. Dan lo bacanya dari arah kanan ke kiri. Lama kelamaan lo ngerti, kok," jelas Farhan mengajariku, "sekali-kali kan lo pindah lapak dari novel ke komik."
Aku terdiam, berpikir sejenak seraya menatap komik yang masih berada di genggam Farhan. Kalau kupikir-pikir, tidak salahnya aku mencoba untuk membaca komik itu.
"Oke, aku mau baca komik itu," ucapku pada akhirnya dan membuat Farhan tersenyum lebar karena kesenangan.
Kuraih beberapa komik yang baru saja Farhan berikan padaku. "Tapi aku nggak baca sekarang, ya?"
"It's okay, tapi setelah lo baca komik itu sampai habis, lo harus mau mengupas lagi ceritanya. Kita diskusi bareng, deal?"
Aku terdiam sejenak. Menimbang-nimbang sebuah perjanjian yang baru saja dilontarkan oleh Farhan. Sebenarnya tidak perlu aku repot-repot menimbang-nimbang perjanjian itu. Karena aku tetap akan memberikan jawaban yang sama. "Deal."
Aku dan Farhan saling berjabat tangan pertanda menyetujui perjanjian tersebut. Kami pun terkekeh bersama. Merasa lucu telah melakukan sebuah perjanjian kecil yang bagiku ... berharga.
"Kak Aca, Kak Ahan!" seru dua gadis kecil berlari menghampiriku dan juga Farhan.
"Ririn, Nad!"
Aku memeluk Ririn dan Nad secara bergantian, begitupun Farhan.
Aku sudah lama tidak bertemu dua gadis kecil itu. Ririn dan Nad--seperti yang kuceritakan kemarin, mereka adalah anak dari Kak Mail dan Kak Femy.
"Ririn kangen banget sama Kak Aca dan Kak Ahan," ucap Ririn yang kini terduduk dipangkuan Farhan.
"Nad juga."
"Kak Farhan dan Kak Aca juga kangen sama Ririn dan Nad," sahut Farhan dan aku pun tersenyum menyetujui sahutannya.
"Ririn pengen dibeliin eskim lagi kayak waktu itu, ya!"
"Nad jugaaa!"
"Iih Nad, ikut-ikutan Ririn aja! Nggak boleh, tahuuu!"
KAMU SEDANG MEMBACA
When He Went
Novela JuvenilKarena yang bisa kudengar sekarang hanyalah deru dalam kepalaku, lolongan tanpa kata sementara kamu menghilang dan aku berusaha merelakannya. ----- Event 6 bulan ReadersWritersClub
