"Hei Tuan Putri, ayo bangun! Ini waktunya sekolah." Terdengar suara serta guncangan kecil di lenganku, hal itu membuatku beberapa kali mengerjapkan mata sampai pandanganku jelas dan bisa melihat orang paling menyebalkan yang selalu menggangguku.
"Ini masih sangat pagi Qing, aku masih mengantuk." jawabku dan menguap, lalu merubah posisiku menghadap kekiri, berniat ingin kembali tidur. Namun tarikan di telingaku membuat wajahku meringis dan mulutku mengadu kesakitan.
"Dasar anak nakal, ayo bangun. Kau ini Putri, jangan memalukan." Omel Qing, aku duduk dan menatapnya tajam masih dengan sedikit meringis menahan sakit di telinga, ia benar-benar menjengkelkan. Aku menoleh, mengambil bantal lalu memukul wajahnya dengan bantal hingga ia melepaskan jewerannya dari telinga kananku.
"Sakit tau!!" Teriakku di depan wajahnya lalu mengusap-usap telinga kananku yang memerah, sampai tiba-tiba sebuah bantal guling mendarat tepat di wajahku.
"Qing!!! Awas kau yaaa!" teriakku histeris lalu mengambil bantal lagi dan mulai menghujaninya pukulan bertubi-tubi dari bantal di tanganku. Ia malah tertawa dan berusaha ingin membalasku dengan bantal di tangannya. Kami saling beradu pukulan bantal satu sama lain hingga bulu dan isi bantal keluar.
••
Isi bantal yang keluar itu berterbangan bagai hujan salju yang sangat indah. Mereka terus beradu pukulan sambil tertawa, sampai tiba-tiba seseorang membuka pintu.
"Apa apaan kalian ini." ucap suara tegas yang membuat kedua makhluk yang sedang berkelahi itu langsung berhenti dan terdiam. Vea langsung menunduk malu karena tertangkap basah sedang berkelahi seperti anak kecil.
"Bibi, kami hanya.." Vea bingung harus mengucapkan apa, namun sang Ratu yang tak lain adalah bibinya itu malah tersenyum melihat kelakuan keponakannya. "Kalian ini lucu sekali." ucap Rosi dengan senyum merekah yang menandakan perasaan bahagia di wajahnya. Vea mendongak dan menatap bingung kearah bibinya.
"Bibi tidak marah?" Tanya Vea dan Rosi mengerutkan keningnya. "Untuk apa bibi marah? Kalian ini cocok, lucu seperti anak kecil." jawab Rosi yang membuat Vea merona dan langsung menunduk lagi. Sedangkan Qing hanya tersenyum. "Sudahlah, cepat bersihkan dirimu dan pergi ke sekolah. Bibi dan yang lain menunggumu sarapan dibawah." Kata Rosi lalu Vea mengangguk. "Dan Qing, jangan buat keponakan ku sakit hati jika kau sudah membuatnya jatuh cinta." Goda Rosi lantas mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menggoda, membuat Vea tambah merona. Lalu setelahnya Rosi pergi diikuti oleh pelayan-pelayan di belakangnya. Ia memang seorang Ratu, tapi sifatnya tetaplah seorang Bibi yang perhatian pada keponakannya.
"Jangan terlalu percaya diri, siapa juga yang membuatmu jatuh cinta." Ujar Qing yang membuat Vea memutar bola matanya kesal. "Justru kau yang terlalu percaya diri, sudahlah aku malas berdebat, aku mau mandi." jawab Vea dengan ketus lalu masuk kedalam kamar mandi. Qing menatap kepergian gadis yang tak lain adalah seorang Putri kerajaannya itu dengan senyuman di wajahnya, ia merasa nyaman dengan gadis itu. Gadis yang memiliki aura tersendiri yang membuatnya betah berlama-lama bersama perempuan bermanik abu-abu itu.
Qing lalu berdiri dan membuka tirai coklat yang menutupi jendela kaca besar yang membentang di salah satu sisi kamar tersebut, membuat cahaya matahari pagi langsung masuk dan menerangi kamar itu.
••
"Perkenalkan, inilah dia Tuan Putri Vea Sage. Penerus tahta kerajaan Evergenity kita." Ujar Sang Ratu memperkenalkan gadis yang duduk di sebelahnya, kepada semua orang yang ada di ruang makan yang sangat besar nan mewah. Ia tersenyum pada semua orang yang menatapnya saat bibinya memperkenalkan dirinya. Ia jadi gugup, dan untungnya ada Qing yang duduk disebelahnya mencoba menenangkannya dengan menggenggam tangannya yang berada diatas paha yang tertutupi gaun selutut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Evergenity
Fantasy"Karena hanya kau yang bisa mengalahkan mereka." kata-kata itu terngiang di kepalaku, menjadi motivasi agar aku bisa menjadi yang terkuat. -Vea Sage Makhluk baru di Dunia yang diciptakan oleh Penyihir hitam untuk kepentingannya. Mereka diubah menja...
