Bab 3 : Supernatural

161 12 0
                                        

Aku mengganti pakaianku dengan kaos longgar berwarna abu-abu dan celana santai berbahan katun yang terasa nyaman di kulit. Suhu di ruangan ini cukup hangat, tapi hatiku sebaliknya—dingin, seperti tersesat dalam kabut yang tak kunjung sirna. Langkah kakiku lambat saat menuju kamar mandi. Setiap hentak terasa berat, seolah beban dari kenyataan yang baru kusadari mulai menekan tubuhku. Saat air dingin menyentuh wajahku, rasanya seperti disentuh oleh realitas yang tak bisa kutolak lagi. Aku menatap pantulan wajahku di cermin—mata ini masih sama, tapi ada sesuatu yang berbeda. Mataku tampak lebih dalam, lebih kosong, atau mungkin... terlalu penuh.

Aku berjalan kembali ke kamar, tubuhku sedikit gemetar—bukan karena kedinginan, melainkan karena kegelisahan yang tak kunjung surut. Tempat tidur itu tampak seperti satu-satunya tempat aman bagiku saat ini, walau aku tahu bahwa tidur tak akan membuat kenyataan ini menghilang. Aku merebahkan tubuhku dengan perlahan, menatap langit-langit yang asing, menelusuri setiap retak kecil yang menghiasi plesteran putihnya. Ini bukan kamarku. Ini bukan rumahku. Ini... bukan dunia yang sama seperti kemarin.

Hari ini sungguh melelahkan. Bukan karena tubuhku yang letih, melainkan karena pikiranku yang berkelana terlalu jauh tanpa arah. Meskipun seharian hanya berada dalam perjalanan, rasanya seperti aku telah menempuh ribuan kilometer, baik secara fisik maupun batin. Perjalanan itu bukan sekadar dari satu tempat ke tempat lain—melainkan dari satu jati diri ke jati diri yang baru. Atau lebih tepatnya, dari satu kebohongan menuju kebenaran yang menakutkan.

Aku menggigit bibir bawahku pelan, mencoba menahan emosi yang tak bisa kugambarkan dengan kata-kata. Aku merasa hampa. Kosong. Tapi juga penuh pertanyaan. Siapa aku sebenarnya? Kenapa aku bisa sampai di tempat ini? Dan apa maksud dari semua ini?

Aku Evergenity. Kata itu terngiang-ngiang dalam pikiranku seolah menjadi mantra yang tak kunjung berhenti. Nama itu bukan hanya milikku. Aku yakin semua orang di tempat ini juga menyebut diri mereka Evergenity. Kata itu bukan nama pribadi. Itu adalah identitas. Sebuah bangsa. Sebuah takdir.

Ini adalah tempat asing, pohon-pohon berdaun ungu yang menari perlahan saat angin lewat, dan langit malam yang tidak sepenuhnya gelap, seolah disinari oleh cahaya yang berasal dari bintang-bintang yang terlalu dekat. Dunia ini... aneh. Tapi aku juga merasa anehnya familiar, seperti bagian dari diriku yang selama ini tertidur dan kini mulai terbangun perlahan.

Aku menutup mata, mencoba meresapi perasaan-perasaan yang berkecamuk di dadaku. Perasaan ditinggalkan. Perasaan dibangkitkan. Perasaan menjadi seseorang yang bukan siapa-siapa, lalu tiba-tiba menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari yang pernah kubayangkan. Aku adalah makhluk immortal. Kata itu masih terdengar seperti lelucon dalam pikiranku. Tidak masuk akal. Tapi juga tidak bisa kutolak. Terlalu banyak bukti yang menunjukkan bahwa aku memang bukan manusia biasa.

Aku membuka mata, tapi hanya sesaat. Cahaya lampu redup dari lentera gantung di sudut ruangan memantulkan bayanganku di langit-langit. Aku tampak kecil, rapuh. Tapi dalam tubuh ini, tersimpan kekuatan yang belum kumengerti. Aku bisa merasakannya berdenyut di bawah kulitku, seperti sesuatu yang menunggu untuk dilepaskan.

"Tenanglah," bisikku pada diriku sendiri. "Semua akan terungkap pada waktunya."

Tiba-tiba aku teringat tentang Mom. Ia juga makhluk supernatural, dan tetap bisa mati. Semua makhluk immortal bisa dianggap supernatural, tapi tidak semua makhluk supernatural itu immortal. Immortal itu tidak bisa mati atau dengan kata lain ia tidak menua, tidak mati karena usia atau sebab alami karena hidup selamanya.

Sedangkan Supernatural itu punya kekuatan atau asal-usul yang gaib. Makhluk supernatural bisa mati atau terbatas usia, tergantung jenisnya. Dan Evergenity itu makhluk supernatural yang bukan immortal atau sepenuhnya abadi, sama seperti werewolf atau vampire yang bisa mati dan lenyap juga.

Mungkin juga bisa jadi penyakit Mom itu palsu, dan alasan kematiannya yang sebenarnya adalah hal lain. Entahlah, semua terlalu rumit. Aku jadi rindu sekali dengan Mom.

Aku masih ingat bau harum kayu manis yang selalu menguar dari dapur setiap sore. Mom sangat menyukai aroma itu—katanya, bau kayu manis bisa membuat hati terasa lebih hangat, seperti pelukan yang tidak pernah pudar. Dulu, saat aku pulang dari sekolah dan meletakkan tas dengan malas di sofa, aku selalu menemukan Mom sedang berdiri di depan kompor, mengaduk adonan kue sambil bersenandung pelan. Lagu-lagu itu tak pernah kukenal, tapi entah kenapa selalu terasa menenangkan.

"Aku tahu kamu lapar," katanya waktu itu, tanpa menoleh. "Tunggu lima menit lagi. Kue kayu manisnya hampir matang."

Aku duduk di kursi dapur, kaki menggoyang-goyang kecil sambil menatap punggungnya. Rambutnya diikat longgar, dan celemek berwarna biru laut yang sering ia pakai penuh dengan noda tepung. Tapi bagiku, itu adalah pemandangan paling indah—tempat yang terasa paling aman di dunia.

"Mom," panggilku pelan. "Kalau aku besar nanti... aku akan jadi apa?"

Ia berhenti mengaduk, lalu menoleh dan tersenyum. Senyumnya begitu hangat, penuh keyakinan. "Kamu akan jadi sesuatu yang luar biasa. Tapi yang paling penting... kamu akan tetap jadi kamu." Ia menepuk-nepuk pipiku dengan lembut, lalu menyelipkan anak rambutku yang jatuh ke telinga.

"Kamu tahu, kamu spesial. Dari pertama kali menatap matamu waktu kamu lahir, Mom tahu kamu berbeda. Tapi bukan berarti kamu harus takut. Justru karena kamu berbeda, kamu akan membawa terang untuk orang-orang yang hidup dalam kegelapan."

Aku tidak paham maksudnya waktu itu. Bagiku, kata-kata itu hanya dongeng pengantar tidur. Tapi sekarang, di sinilah aku—terjebak dalam dunia asing, mencoba memahami semuanya sendirian, padahal aku sudah 17 tahun hidup sebagai manusia normal.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungku yang meski pelan tapi terasa berat. Aku kembali memejamkan mata, membiarkan pikiranku tenggelam dalam kegelapan yang sunyi. Dalam sepi itu, aku bisa mendengar suara-suara jauh, entah nyata atau hanya gema dari pikiranku yang mulai terbuka. Suara alunan nyanyian dalam bahasa yang tidak kumengerti, suara langkah kaki di lorong-lorong batu, dan suara jeritan perang yang menggema dari masa silam.

Namun, di balik semuanya, ada satu suara yang paling jelas—suara dari dalam diriku sendiri, suara yang belum pernah kudengar sebelumnya, tapi terasa paling familiar. "Kau akan mengerti semua ini, cepat atau lambat. Dan saat saat itu tiba, kau tak akan pernah bisa kembali."

Aku tertidur dengan perasaan campur aduk. Tubuhku mungkin terlelap, tapi pikiranku masih berkelana. Malam ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidur sebagai makhluk immortal.

Sebagai Evergenity.

Dan esok pagi, dunia ini tak akan lagi sama seperti sebelumnya.

EvergenityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang