"Aku tidak keberatan disebut idiot selama hatimu di genggamanku." - Akmal
Brak!
"Biasa aja, Neng!" Titan yang duduk di sebrang gue terkejut saat Anna baru saja datang dan langsung membanting tasnya ke meja. "Rara mana nih? Anna butuh pawang se-" ocehan Titan terputus begitu Anna melotot ke arahnya.
"Ada apa lagi, An?" tanya gue mencoba selembut mungkin. Jujur saja gue nggak mau ambil resiko kalau sampai Anna ngamuk-ngamuk di kantin kampus.
Anna membanting diri ke kursi lalu menyodorkan ponselnya ke tengah meja, aplikasi BBM memunculkan sebuah kontak, Jefferson.
Apa-apaan nih?! Lo mau rebut dia? Coba aja kalo bisa njing! - 8.40a.m
Nih cewek juga mau-maunya sama lo! Murahan! 8.49a.m
Sama-sama taik kalian berdua! 9.12a.m"Jeff lagi? Kenapa?"
Anna mengangguk lemah. Ia menghela napas sebelum memulai cerita. "Jeff marah karena Hadrian ngupload fotonya bareng gue. Padahal di foto itu nggak cuman ada kami berdua, ada anak-anak panitia acara yang lain. Jeff itu cemburuan parah."
Titan nyeletuk, "sejak kapan lo pacaran sama Jeff?"
"Siapa yang pacaran, kami cuma dekat."
"Kok lo mau sih, jadi gebetannya Jeff? Dia kan homo, An!"
"Mulut lo belum pernah dijahit ya, Tan!"
Titan langsung mengunci mulut ketika gue berkata tanpa suara. Jangan macem-macem, pawangnya nggak ada, Bro. Entah si Titan emang jago baca gerak bibir atau dia cuma pura-pura ngerti, tapi dia mengangguk.
"Jeff bilang dia sayang sama gue. Tapi gue nggak nyangka dia sekasar itu."
Titan ber-ooo panjang. Sedangkan, hati gue di dalam udah nggak karu-karuan. Gue pengin meluk Anna, sambil bilang kalau bukan Jeff yang sayang sama dia. Tapi gue. Akmal sayang Anna.
Gue pengin mendeklarasikan perasaan sayang ini, tapi yang justru keluar dari bibir malah, "gue anterin ke kosan Rara, ya? Kali aja di sana lo bisa lebih tenang."
💑
Hampir semua orang membenci awal pekan. Tapi gue dan keempat teman gue selalu menunggu-nunggu hari senin, karena jadwal kuliah longgar kami udah janjian sejak awal semester untuk main bareng tiap senin sore.
Seringnya kami ke bioskop. Brian bakal dengan senang hati mengangkut kami dengan mobilnya. Tapi udah dua pekan ini dia absen (masih menyembuhkan hati rupanya), jadi gue dan Titan membonceng duo cans (gue nyebut mereka cans atas permintaan mereka sendiri) dengan motor.
Rara masih setengah kikuk karena perasaan bersalahnya yang udah bikin Brian selalu absen dari rutinitas ini. Anna masih kalut dengan pikiran tentang Jeff di kepalanya. Gue sendiri yang kakinya setengah napak ke bumi ikutan murung mikirin Anna. Cuma Titan satu-satunya manusia yang masih sadar di antara kami.
"Gue nggak mau nonton itu sama kalian," jari Titan menunjuk poster film sejenis World War Z. "Kalian udah mirip zombi-zombi itu, sadar nggak sih?"
Gue cuma tersenyum kecut. Anna masih diam sejak tadi. Rara membuka suara, "kita nonton film komedi aja, yang ketawanya paling nggak ikhlas bayarin bensin motornya Akmal dan Titan?"
💑
Setengah jam kemudian, tiket Alvin and The Chipmunks: The Road Chip udah di tangan. Titan dan Anna masuk duluan, Rara ngajakin gue ngantri beli popcorn. Tapi dari sorot matanya, gue yakin dia ada niat lain.

KAMU SEDANG MEMBACA
Faye-rytales
Short StorySebuah dongeng cinta gadis-gadis abad 21 Kisah-kisah ini mungkin pernah kau temukan di antara buku harian masa kecilmu-yang tidak pernah kau pergunakan dengan benar, mungkin pernah kau dengar, mungkin pernah kau baca. Kisah-kisah ini mungkin sederha...