3. Deyran Tristian.

53 8 1
                                    

Hari ini aku ada ekstrakulikuler.
Jurnalist.
Iya, Jurnalist.
IYA JURNALIST!

Oke, abaikan.

Oh iya -Aku tau ini tidak penting-. Aku sering disapa dengan adik kelas yang tinggi sekali -atau aku yang pendek?- namanya kalau tidak salah namanya...

Namanya...

Namanya?.....

Namanya siapa? Argh aku lupa..

Sudah kubilang. Salahkan ruang penyimpananku yang hanya mengingat tentang artis hollywood macam Justin.... Lupakan lah. Dia juga mengikuti eks Jurnalist seperti aku.

Bay de way, kalau ada yang bertanya dimana Gilang, dia sedang eks Marching Band.

"Hai kak Tasya!" nah! Itu dia adik kelas yang sering memanggilku.

"Iyaaa....?"

"Deyran Tristian."

"Ah iya! Hai Deyran!" kataku sembari menjentikan jari didepan wajahku.

"Gak masuk?"

"Ayooo."

❄❄❄

Dan! Begitulah.

Pertemuan -perkenalan- singkat yang membuat pertemuan selanjutnya terasa berbeda. Iya. Berbeda. Dalam arti, yang tidak baik. Mungkin.

Rasanya, setiap aku bertemu Deyran itu jantungku seperti baru saja aku berlari. Yah. Deg-degan gak jelas gitu deh.

Oh iya, setiap aku bertemu dia, dia menyapa aku. Dan aku membalas sambil tersenyum dan membalas sapaannya. Atau sebaliknya. Oh jangan lupakan masalah jantung yang dag-dig-dug-der itu. Ingatkan aku untuk memeriksa apakah jantungku baik-baik saja, okey?.

Dan, oh iya -lagi?- kemarin aku mengejarnya, memarahinya habis-habisan karena dia mebuat aku tersandung. Didepan banyak orang! Catat itu! Dan aku mengancamnya:

"Gue kulitin lo Dey!"

Dia hanya menjawab. "Aku ganti kulit duluan, kak. Haha."

"Garing njir. Dasar uler!"

Yap! Begitulah pertengkaran singkat antara aku-Dey. Abaikan.

By the way aku sedang berada di sekolah sekarang. Sedang berlatih untuk lomba puisi. Oh, aku memang menyukai puisi. Aku tau. Aku tau. Kalian memujiku keren, iya kan? Tidak usah mengelak. Aku sudah tau...

Aku berjalan sembari membenarkan posisi jilbabku -aku diperintahkan memakai jilbab yang bermodel rawis oleh guru lomba puisiku. Rempong, kan?!- yang mulai berantakan. Karena kesal, kuambil sebuah peniti dan berniat untuk mengencangkan jilbab rawis milik Syera ini -aku tidak memiliki jilbab rawis, kawan. Poor me-. Oh.. Aku tidak terbiasa memakai jilbab rawis.. Aku menggigit peniti itu dan kedua tanganku sibuk berkutik dengan posisi jilbab agar menutupi leherku -ribet sekali bahasanya?!.

"Kak!" aku terlonjak. Peniti yang kugigit menusuk lidahku.

"Argh!" erangku. Itu tadi yang menyapaku si Deyran. Iya. Deyran. Si imut-ganteng-manis-tinggi-kurus ituloh. Okey, aku salah fokus.

"Astagah kak. Makanya jangan makan peniti." aku menatap kesal Dey.

"Siapa juga yang makan peniti?! Emang gue Susana apa?"

"Haha. Duluan ya."

"Njir. Bukannya dibantuin." gumamku.

Aku membalikan badanku. Berniat balik lagi kekelas. Dan, aku bertemu si Ular lagi. Uh.. Bosan lihat wajahnya.

"Lo lagi." gumamku karena peniti masih kugigit.

"Sini gue bantu kak." dia mengambil peniti yang sudah berada ditanganku. Ia mendekat.

Jeh. Mama.. Aku deg-degan lagi.. Pikirku.

"Dah."  selesai.

"Makasih uler.." aku tersenyum semanis mungkin.

"Yoa kak."

Lalu, dia pergi. Kurasa deg-degan itu sudah hilang. Tetapi, ada perasaan yang hilang lainnya. Bukan hanya perasaan itu... Aku juga bingung itu apa.

Kuharap, itu bukan hal yang buruk. Ya. Kuharap.

👧👦👧👦👧👦

Jangan lupa vote and commentnya.

Saran juga boleh.

Chat.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang