Chapter 6

511 17 3
                                    

Sudah 1 bulan Daewa belum juga sadar dari komanya , kini orang-orang tercintanya sudah semakin khawatir dengan kondisi Daewa saat ini . Kini Appa dan kedua oppanya sekaligus kedua kaka sepupunya tidak lupa juga dengan ke3 sahabatnya sedang berada didalam ruang VVIP . Tuan Xi Wan Zi yang sedang menatap anak bungsunya dengan senyuman yang tulus , Luhan dan Chen hanya berdiam diri disamping sebelah kanan ranjang adiknya sedangkan Ah Ra dan Eun hye menundukkan wajahnya tidak sanggup melihat pemandangan yang menyedihkan dihadapannya , lalu ke3 sahabatnya sedang berdiri tepat didepan ranjang Daewa dan masing-masing jari mereka bertaut dan merapal doa kepada Tuhan , agar Tuhan memberikan keajaiban untuk Daewa.

Sedangkan Daewa kini tengah berada dalam mimpi . Ia melihat ibu kandungnya yang sedang tersenyum tulus kearahnya , Daewa pun membalas senyuman ibunya , kemudian Daewa mendekat kearah ibu tercintanya ketika sudah mendekat , Daewa langsung berhambur kepelukan ibunya lalu Daewa menangis terharu karna rasanya sudah lama sekali ia tidak memeluk ibunya dan sekarang Daewa merasakannya lagi . Seraya menangis sang ibu hanya mengelus pundak putrinya untuk menenangkannya tak lama kemudian sang ibu melihat wajah putrinya yang basah karna menangis dan berkata.

" Daewa-ya , disana ada Appa dan kedua oppa mu yang sedang menunggu mu , sepertinya mereka mengharapkan mu untuk kembali"

" Aniyo eomma aku ingin disini bersama mu , tolong jangan biarkan aku pergi "

" Daewa kau harus kembali bersama mereka , mereka masih membutuhkan mu "

" Aniyo eomma , tolong jangan tinggalkan aku lagi "

" Mianhe Daewa-ya , sekarang eomma harus pergi ketempat yang lebih indah "

" Jika kau merindukan eomma lihatlah bintang yang paling terang dan pastinya eomma akan berada dibintang yang terang itu , eomma juga akan melihat dirimu ne ? "

Setelah Nyonya Xi Junghae berbicara seperti itu , ia langsung melepaskan pelukan Daewa dan itu membuat Daewa menoleh untuk melihat langkah ibunya yang kian menjauh , namun sedetik kemudian ibunya hilang entah kemana .

" Aniyo eomma jangan tinggalkan aku ", Gumam Daewa pelan diiringi dengan air mata yang mengalir dipipi pucatnya.

" Lihatlah Daewa menangis dan seperti mengatakan sesuatu ", Ujar D.o yang memecahkan keheningan beberapa saat yang lalu . Kini semua mata mereka tertuju pada Daewa untuk melihat pergerakan dari tubuh Daewa , Dr.Xi Wan Zi yang mendengar ucapan D.o segera mendekatkan telinganya kearah bibir Daewa untuk mendengar apa yang dikatakan Daewa.

" Aniyo eomma , jangan tinggalkan aku lagi ", Gumam Daewa pelan , namun masih bisa didengar oleh Dr.Xi Wan Zi. Setelah mendengar ucapan Daewa , Dr.Xi Wan Zi segera berdiri dari tempat duduknya dan berkata " Mian kalian silahkan tunggu diluar dulu sebentar , kita bertiga akan periksa keadaannya ". Akhirnya mereka yang berada didalam segera keluar terkecuali Luhan dan Chen.

Sementara didalam Dr.Xi Wan Zi dan kedua anaknya sedang mengecek keadaan Daewa .

" Daewa apa kau mendengar ku?", Tanya Luhan dengan mata menatap kearah adiknya dan berharap Daewa mendengar suara Luhan sementara Chen sedang sibuk mengganti infusan ditangan kiri Daewa sedangkan Tuan Xi Wan Zi sedang memeriksa keadaan Daewa menggunakan stetoskopnya.

" Daewa , bukalah mata mu ", Ujar Luhan sambil mengguncangkan tubuh adiknya dengan pelan.

" Daewa kau harus bangun sayang , oppa sangat mengharapkan kau sadar ", Lirih Luhan sambil menggenggam kedua tangan adiknya.

" Op...oppa ", Gumam Daewa sambil berusaha membuka kedua matanya.

" Ada apa Daewa ? Apa kau merasakan sakit ? ", Tanya Luhan dengan senyum yang tak bisa ditahan.

  My Brother Is A Doctor Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang