Whoooosaaa!!!
Dua bulan sudah aku tinggal dan sekolah di Yayasan Immanuel ini. Aku mulai terbiasa dengan jadwal yang ada. Mulai dari kegiatan doa bersama -pagi, siang, malam-, kegiatan gereja dan asrama, aku melakukan hal-hal yang jarang bahkan tak akan pernah aku lakukan di rumahku sendiri.
Aku juga mulai terbiasa dengan bahasa di sana. Aku sudah tau bagaimana cara menggunakan lo dan gue, apa itu jamban dan boker, dan juga apa perbedaan antara Bokap dan Bok*p.
Aku mulai bisa bergaul dengan teman sebayaku dengan sangat lancar. Bahkan terakhir aku bisa ikut berinteraksi dengan ibu-ibu RT situ dalam pembicaraan bertemakan perselingkuhan. Ini tentu topik yang berat untukku. Waktu itu mereka sedang asik ngerumpi dan tiba-tiba aku datang mencoba untuk berinteraksi dan bergabung dalam pembicaraa mereka, "ibu-ibu...!!!" Seruku. Lalu semua diam menatap aku dengan pandangan sinis dan seperti berharap sesuatu -berharap dapat diskon pakaian dalam. Lalu dengan tegas aku katakan, "beli permen gopek, bu." Akhirnya ibu-ibu itu bilang, "ambil aja." Itulah pembicaraanku dengan ibu-ibu rumpi RT situ yang bertemakan beli permen. Walau tak ada hubungannya dengan perselingkuhan tapi aku berhasil.
Mulai terbiasa dengan lingkungan, biasa dengan bahasa, dan biasa dengan ibu-ibu rumpi yang ngomongin tema perselingkuhan, aku malah terjatuh ke satu pergaulan yang salah. Sesuatu yang membuat anak bangsa hancur. Sesuatu yang mungkin tak harus aku lakukan. TAWURAN.
Siapa yang tidak tahu tawuran. Hal ini banyak menghancurkan anak bangsa. Tapi aku malah masuk dalam dosa tawuran. Tawuran ini kami sebut sebagai tawuran persahabatan, karena sebenarnya adalah laga uji coba antar bangku yang berseberangan. Ada sebuah kisah yang mendahului tawuran ini.
"Bro, gue udah lama nggak tawuran ni bro!!! Udah asem ni tangan gue. Liat banyak dakinya."
"Lah, kenapa jadi daki? Sebenarnya lo mau tawuran ato promosiin tangan lo yang penuh daki dan bulukan itu?" Protes Daniel. BTW yang sebelumnya ngomong adalah Buluk. Aku lupa nama aslinya. Dia dipanggil buluk karena badannya yang kurus, dekil dan bulukan alias korengan. Karena itu tampangnya sudah tidak seperti manusia lagi, tapi seperti jenglot yang alergi kemenyan.
"Pokoknya gue mau tawuran. Gue nggak perduli sama siapa. Anak SD di kampung sebelah nggak bisa. Katanya anggotanya lagi mencret-mencret. Kan nggak enak kalo pas kita tawuran tiba-tiba mencret. Masa kita pulang dengan berlumuran tai*." Jelas Buluk. Pembicaraan terhenti karena masing-masing dari kami berpikir siapa yang cocok dijadikan lawan tawuran. "Atau kita aja yang tawuran? Gimana? Deretan sebelah sana lawan sebelah sini." Jelas Buluk.
"Maksud lo?" Tanyaku yang masih bingung. Bukan bingung dengan perkataan buluk, tapi bingung dengan muka buluk yang abstrak.
"Lo, Leo, Cungkring, Dio dengan Natan, kalian satu tim! Gue, Daniel, Paulus, Tinus dengan si Manurung sama kita satu tim. Gimana?" Entah kenapa aku kurang setuju dengan usul Buluk.
"Eh, buluk, kenapa anggota gue kecil-kecil, cupu lagi? Yang berkulitas cuma gue dengan Natan. Wah, gak adil ni. Curang lo, curang!!!" Protesku.
"Nah, salah lo, kemaren gue suruh duduk deket gue, lo gak mau. Malah duduk deket Natan."
"Eh, Buluk. Gue dulu tu ngeri ama lo. Tampang lo udah kaya jelangkung kelaparan. Nanti kalo gue deket-deket lo, gue takut gue jadi cemilan lo. Udah gitu badan lo bau ketek badak tau gak." Kataku. Buluk terlihat sedikit kesal.
"Ah, udah. Kalian berani gak?" Tanya buluk.
"Eh, siapa lo ngeremehin kita? kapan di mana?" Dengus Natan. Buluk dan kawan-kawan terlihat berunding.
"Oke. Hari ini, pulang sekolah, depan asrama putri." BTW, pertempuran ini bisa dibilang adalah pertempuran antara kubu dalam panti melawan luar panti.
***
Bel sekolah berbunyi tanda sekolah hari ini berakhir. Bagi aku, Leo, Cungkring, Dio dan Natan- anggota kelompok panti, suara itu adalah tanda bahwa kami telah siap mengalahkan kelompoknya Buluk.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lexury School & Class
RandomBanyak kelas yang sudah aku masuki. Setiap kelas punya rasa masing-masing. Aku menganggap semua sekolah dan semua kelasku itu MEWAH. I present it for You All. "My Lexury School & Class" My true story... *** Maaf karena beberapa dialog menggunakan ba...
