SATU

186 21 0
                                    


Keyna menghirup udara yang berada di sekitarnya dengan rakus. Sudah hampir sepuluh kali ia berlari mengelilingi lapangan basket di sekolahnya.

Baju olahraga yang melekat di tubuhnya basah karena keringat, wajahnya tampak merah karena terpapar sinar matahari.

Malang benar nasib Keyna. Hanya karena membolos pelajaran olahraga selama dua jam, ia harus dihukum sekeji ini. Padahal ini pertama kalinya Keyna membolos pada pelajaran olahraga. Alasan Keyna membolos juga bisa diterima. Ia tidak bisa melakukan gerakan senam lantai.

Dari pada patah tulang atau cidera, lebih bagus ngebolos kan? Begitu pikirnya.

Dalam hati, Keyna tak henti-hentinya menggerutu. Jika bukan karena lelaki itu, Keyna pasti tidak akan dihukum seperti sekarang ini.

"Sialan! Sialan! Sialan!" umpatnya dengan nada marah.

Keyna mengamati sekeliling lapangan sambil terus berlari. Ia harus menyelesaikan hukuman ini sebelum lapangan basket menjadi ramai.

Bukannya Keyna ingin jaga pamor, hanya saja Keyna benci keramaian, ia benci menjadi pusat perhatian. Jika lapangan ramai, maka Keyna akan menjadi bahan perbincangan. Terlalu banyak penggosip di sekolahnya dan itu membuat telinga Keyna panas.

"Tinggal tiga putaran lagi, ayo semangat Keyna!!!"

Seruan itu tak henti-hentinya dilontarkan oleh Renata, sahabat Keyna. Keyna memaksakan seulas senyum dan terus berlari sekuat tenaga.

Saat mencapai putaran kedelapan, Pak Gino--guru olahraga Keyna--meniup peluitnya.

Keyna berhenti berlari dan menatap bingung ke arah pak Gino yang memintanya untuk mendekat.

"Ada apa, Pak?" tanya Keyna dengan napas memburu.

"Hukuman kamu saya sudahi sampai delapan putaran saja. Saya tidak ingin kamu pingsan karena kelelahan," Pak Gino menautkan alisnya. "Mulai sekarang jangan membolos lagi, oke?"

Ahh, Keyna menghela napas lega.

"Siap pak!" ucap Keyna mantap.

"Kalau kamu tidak bisa mempraktikkan gerakan yang saya ajarkan, kamu tidak perlu membolos. Saya pasti memberi kamu keringanan dengan cara memberi tugas menyusun makalah, misalnya. Paham?"

"Iya pak, saya paham. Saya minta maaf ya, Pak. Saya salah."

Pak Gino mengangguk. "Ya, saya maafkan. Saya pergi dulu," ujar Pak Gino yang kemudian pergi menjauh.

Setelah kepergian Pak Gino, Keyna menghampiri Renata yang sedang menyodorkan sebotol air minum untuk Keyna. Keyna menerimanya dan langsung meneguknya sampai habis.

"Buset dah, lo kalau mau minum jangan berdiri juga kali. Kaya kebo aja."

"Terserahlah, gue capek, Ren.. huftt.."

"Ehh.. ini orang kalau dinasehatin. Jawab maaf kek, sori kek, atau apa kek yang buat gue seneng. Cewek harus ngejaga tata krama. Kalau diliat orang gimana? Untung sepi."

Keyna mendelik kesal. "Bawel amat deh. Gue haus banget. Capek gila.. mana sempat gue mikirin tata krama?"

"Iya deh iyaa.." Renata menepuk bahu Keyna, "Balik yuk, ganti baju dulu."

"Nanti aja, Ren. Kaki gue pegel banget. Duduk dulu ya.." pinta Keyna sedikit memelas.

Renata menepuk keningnya seraya terkekeh pelan. "Gue lupa lo habis lari. Ya udah, yuk.."

"Duduk di sana aja, Ren. Adem, ada pohon," ucap Keyna sambil menunjuk bangku yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Renata mengangguk setuju. Mereka berdua berjalan menuju bangku itu.

Can I Call You Love?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang