"Kita beneran pindah duduk ke sini, Key? Gak salah?"
"Yaelah, bawel banget sih lo. Ya nggak salah lah."
Renata merajuk, "Ihh, tapi kasian bangku lama kita.."
"Elo lebih peduli sama bangku atau sama gue? Gue males banget duduk di belakangnya Kenzo karena dia udah ngelaporin gue ke guru."
"Yahh, gak asik lo, Key. Masa gue harus duduk jauh-jauh dari Farrel? Lo kan tau sediri kenapa gue milih duduk di sana. Biar bisa deket sama Farrel.."
"Ya udah, lo suruh aja si Farrel pindah tempat duduk."
Renata mendesis, "Mana mau dia. Farrel kan udah sohiban sama Kenzo dari dulu. Mereka berdua itu mana bisa pisah."
"Terus gimana?"
"Balik lagi aja yuk," pinta Renata dengan nada manja.
"BIG NO ! Kalau lo mau balik, balik aja sendiri. Gue mah ogah."
"Terus gue duduk sama siapa?"
"Ya sendirilah. Atau minta aja si Farrel nemenin lo kalau dia mau."
"Jadi bad mood gue," Renata kemudian memandang ke arah jendela dengan malas. "Kalau tau bakalan gini jadinya, mendingan gue gak usah bangun pagi-pagi. Buang-buang waktu aja."
Keyna menatap Renata dengan beribu tanda tanya. "Elo ngambek, Ren? Lo marah sama gue?"
Ketika Renata tak kunjung menjawab, Keyna mendesah lelah. "Tolong gue kali ini aja, Ren. Gue bener-bener gak bisa duduk di belakangnya Kenzo. Gue udah coba menjernihkan pikiran gue supaya gue bisa bersikap biasa aja ke Kenzo, tapi gue gak bisa."
Renata masih diam, tapi Keyna tahu jika Renata meresapi ucapannya.
"Gini aja deh. Sebagai sogokannya, gue bakalan neraktir elo sama Farrel seminggu penuh di kantin. Kalian mau beli apa aja, gue yang bayarin. Gimana? Setuju gak?"
"Setuju. Deal," ujar Renata yang dengan cepat membalikkan wajahkan ke arah Keyna.
"Kalau diteraktir aja, paling cepet lo."
"Whatever. Tapi gue masih sedikit marah lho sama lo." Renata mendekatkan ibu jari dan jari telunjuknya sebatas 0,50 cm. "Segini tingkat kemarahan gue sekarang."
Keyna langsung memasang wajah lucu. "Uuu ayang beb, angan malah-malah yah? Nanti tantik na ilang lohh."
"Bodo amat," ujar Renata malas.
Keyna tidak menanggapi, ia tahu Renata sudah tidak marah padanya.
Elo, Ren. Mana bisa ngambek lama-lama sama gue? Batinnya tertawa kecil.
Keyna melirik jam tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi teman-teman sekelasnya belum ada yang datang.
"Sepi ya, Ren. Padahal udah jam tujuh."
Renata menopang dagunya dengan tangan. "Bentar lagi juga rame. Feeling gue bilang sih, Farrel akan dateng pada hitungan ke tujuh. Satu.. dua.. tiga.."
Keyna menatap Renata sambil terkekeh. "Sok tau banget sih."
Renata tak menghiraukan ucapan Keyna, ia tetap menghiting.
"Lima.. enam.. tujuh.. nah, gue bilang juga apa! Tuh dia lagi jalan bareng Kenzo sama Dimas."
Keyna menatap ke arah pintu. Dan ternyata benar yang diucapkan Renata. "Ehh, busett dah. Pakai telepati ya lo?"
Renata mendelikkan bahu. "Feeling."

KAMU SEDANG MEMBACA
Can I Call You Love?
أدب المراهقينKeyna Asrumi tidak pernah membayangkan kisah cintanya akan menjadi rumit seperti ini. Semula, semuanya baik-baik saja. Keyna menjalin hubungan dengan Malvin, dan hubungan mereka berjalan sangat bahagia. Namun semuanya beubah ketika seorang laki-laki...