Aku menyesal karena selalu menolak ajakan Kak Davi untuk membeli majalah fashion dan sekarang aku terjebak bersama tumpukan baju yang berserakan di seluruh kamarku. Aku tidak mungkin pergi dengan Ray dengan pakaian yang sudah ketinggalan zaman. Aku mengeluh frustasi. Tidak ada satu baju pun yang kurasa pantas untuk aku pakai malam ini. Seharusnya aku bilang tidak saja pada Ray jadi aku tidak perlu sesibuk ini sekarang. Tapi buat apa aku menyesal aku sudah terlanjur setuju dengan ajakannya.
"kamu bakal beresin semua ini kan?" aku menengok kebelakang. Disana sudah berdiri Kak Davi dan yang mengejutkanku dia tidak sedang bersama kucing sialannya itu. Kak Davi mendekat kearahku dengan langkah pelan menilai kekacauan yang aku buat. Aku menghembuskan napasku berharap kalau rasa pusing di kepalaku dapat keluar bersama hembusan napasku tapi ternyata tidak begitu. Aku duduk di tepi ranjangku dan menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Ada apa ini ? Kamu mau nyumbangin semua baju kamu ?" aku menggeleng pelan, masih dengan kedua telapak tanganku diwajahku.
"Yaudah kalo gitu, cepet beresin lagi semuanya sebelum Mamah liat." aku melepaskan tanganku dari wajahku dan mulai duduk dengan tegak. Aku harus minta pendapat Kak Davi tapi kalau aku menceritakan hal yang sebenarnya dia akan menertawaiku dan akan langsung mengatakan kalau aku bodoh.
"Kak, kayaknya aku butuh pendapat Kakak deh." Kak Davi seakan memikirkan sesuatu dan mulai menghampiriku lebih dekat dan duduk disampingku.
"Tapi Kakak janji jangan ketawain aku." dia mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban iya, tapi aku tidak yakin.
"Aku serius Kak, kalo aku udah ceritain semuanya Kak Davi sama sekali nggak boleh ketawa."
"Oke, Kakak janji." suaranya tegas, disitu aku yakin dia sedang tidak dalam keadaan bercanda sekarang.
"Bantuin aku pilih baju dong buat malem ini."
"Buat apa? "Kak Davi menatapku bingung.
"Ya buat aku pake lah malem ini, kan tadi aku udah bilang."
"Bukan itu kambing, maksud aku buat apa kamu ribet – ribet milih baju. Lagian biasanya kalo mau keluar rumah kamu nggak pernah seribet ini."
"Ah atau jangan – jangan kamu udah lagi deket sama cowok ya ? Terus sekarang mau nge-date gitu. Kasih tau dong siapa cowok idiot plus kurang beruntung yang mau sama kamu itu ?"
Ingin rasanya aku menendangnya keluar saat ini juga. Oh Tuhan kenapa makhluk ini yang harus menjadi kakakku, aku akan lebih bahagia jika tuhan menukar Kak Davi dengan sepasang sepatu Valentino.
"Kalo aku kasih tau juga Kak Davi nggak akan peercaya. Ya udah deh Kak Davi keluar aja, aku nggak jadi minta bantuan Kakak."
"Oke, Oke Kakak bantuin deh, tapi kasih tau dulu kamu mau pergi sama siapa terus kemana?"
"Justru karena aku males cerita makanya aku nggak butuh bantuin Kak Davi."
"Oh gitu... yaudah kalo nggak mau bilang sama Kakak." Kak Davi menampilkan senyum liciknya. Dia pasti ingin melakukan sesuatu agar aku mau menceritana masalahku. Aku sudah sangta mengenal sifatnya. Dia akan melakukan segala cara agar tau rahasiaku.
"Kak Davi mau apa hah ? mau ngancem aku lagi ? silahkan aku nggak akan takut." Kak Davi hanya terus tersenyum. Senyumnya memamg manis harus kuakui tapi tidak jika kalian tau betapa busuknya hati iblis yang satu ini. Entah apa yg mamah lakukan sewaktu hamil Kak Davi sampai bisa melahirkan anak semenyebalkan Kak Davi. Mungkin ¾ dosaku berasal dari dia, karena aku selalu menjelek-jelekan dia di dalam hati, aku juga mecela dia, dan mengumpat tentang dia.

KAMU SEDANG MEMBACA
I Just Want To Be Loved by You
RomanceAku tak pernah memintamu untuk memperluas samudra. Aku tak pernah memintamu untuk menarik matahari agar duniaku menjadi terang. Aku juga tidak memintamu untuk membelah dadamu dan mengeluarkan hatimu. Bahkan aku sama sekali tidak memintamu untuk memb...