chapter 2

2.7K 326 38
                                        


.
.
.
.
.
.

"Apa mungkin itu al ghazali yang datang?" Tanya risa yang setelah mendengar cerita yuki kalau ibunya tadi kedatangan pembeli yang mengaku sebagai temannya.

"Aku tidak tau risa"

"Hah, belum selesai yang satu, muncul satu lagi.." ucap risa.

"Apa maksudmu?"

"Bukankah niatku kemari adalah memecahkan teka-teki di kampus tadi"

"Teka-teki apa? Jangan berbelit-belit risa.. langsung saja pada intinya, bahasamu sedari tadi sudah seperti detektif "

"Kau ini kenapa sensitif sekali, bukankah tadi di kampus ada kejadian aneh menurutku dan kau adalah fokusnya "

"Hey itu tidak aneh.."

"Yah itu menurutmu"

"Ada sekali ya wanita seperti ini"

"Apa lagi maksudmu risa?"

"Kau itu aneh yuki, kau disini bisa dengan tenang minum teh dan memakan cemilan sedangkan belum 12jam yang lalu ada sepasang mata yang memperhatikanmu dengan tajam di depan khalayak ramai."

"Lalu?"

"Lalu!!!!?? Aku tidak mengerti kenapa aku bisa berteman dengan wanita yang ketidak pekaannya seperti mu melebihi batas."

"Memangnya aku harus bagaimana? "

"Apa tidak ada di pikiranmu kenapa tadi al melihatmu seperti itu ?"

"Tentu saja ada"

"Dan kau hanya akan diam"

"Jangan berbelit risa, iya aku memang memikirkan kenapa tadi al melihatku seperti itu tapi aku bisa apa selain diam.. tidak mungkinkan aku mendatanginya lalu mengatakan ada apa dengannya? Atau mencari alamat rumahnya lalu menemuinya dan menyeruakkan isi hatiku yang terganggu karna ulahnya. "

Risa tampak berpikir dengan ucapan yuki.

"Kau benar juga" jawab risa.

"Sudahlah biarkan saja, kenapa kita menghabiskan waktu membicarakannya"

Risa mengerdikkan bahunya .

"Oh iya bukankah aku bilang akan menceritakan tentang mereka padamu"

"Ya kau bilang begitu tadi"

"Jad___ " ucapan risa di putus yuki.

" dan kita benar-benar menghabiskan waktu membicarakan topik yang sama!

" kau ini.."

"Besok-besok saja, lebih baik bantu aku membereskan toko karna sepertinya sudah waktunya tutup"

"Aish benar-benar seorang yuki kato"

Yuki hanya tersenyum melihat risa yang sepertinya sedikit kesal karna ulahnya.

"Nak mampirlah dulu kerumah, kita makan malam bersama" tawar ibu yuki pada risa setelah selesai menutup tokonya lalu bersiap-siap memakai helm.

"Terima kasih bibi.. tapi tadi ibu sudah menelpon agar segera pulang beliau ingin di temani belanja."

"Sungguh?"

"Iya bi, lain kali aku pasti mampir dan makan malam bersama"

"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan terima kasih sudah membantu bibi beres-beres tadi"

Catching FeelingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang