hola.. alhamdulillah ini ending baca baik-baik ya semoga kalian suka , makasih yang cuma baca doang aku tau kalian suka cerita aku tapi males vote kan hahaha # mendadaktidakjelas. semoga vote nya banyak jadi aku semangat bikin lagi.
dylan
hari ini adalah hari terakhir acara kami , kami mengadakan wall climbing , desya masih belum memaafkanku entahlah apa yang harus aku lakukan sekarang ?.
lamunanku buyar karena arga menyikutkuu dengan kasar
" kenapa sih lo?" tanyaku kesal .
"sekarang giliiran lo yang pembukaan , lo dari tadi gak dengerin gue ngomong?" arga menaikkan alisnya .
ya arga benar , aku tidak fokus untuk pembukaan acara , aku hanya fokus untuk melihat desya yang sedari tadi tidak muncul
" sory semua saya ada urusan , beri saya waktu" begitulah kataku, dan langsung pergi .
aku masih bisa mendengar arga yang teriak memanggilku , tapi aku tidak menggubrisnya. aku berlari kekamar desya dan tidak ada orang disana lalu aku lari menjauhi keramaian.
" ah dasar cowo pengecut aaaaaaa lebih baik aku disini dari pada melihatmu " aku mendengar suara desya berteriak , berasal dari rumah pohon itu, aku berjalan perlahan mendekati .
author
dylan menaikki anak tangga dengan hati-hati , wajahnya memucat mungkin, karena ia takut ketinggian . sampailah ia dirumah pohon tersebut , kaki dylan masih bergetar , keringat dingin mengucur diwajahnya.desya hanya melihat lalu menoleh ke arah pemandangan, dylan menghampirinya , mereka terdiam sejenak lalu desya menghela nafas berat .
"kau sedang apa disini?" tanyanya parau .
" aku ingin bersamamu, aku menaikki anak tangga untuk mencapai rumah pohon ini untuk bertemu denganmu." tatapan dylan mengarah ke wajah desya , namu desya tetap tak melihatnya
" siapa yang menyuruhmu naik ke rumah pohon? lagi pula apa peduliku " katanya sarkas , dylan hanya menelan ludah , dadanya sesak , entahlah mengapa ia merasakan hal itu mungkin karena dylan sudah menyukainya.
"dan akhirnya seseorang yang aku cintai membenciku , karena sikapku huh" gumam dylan dan ia menunduk ,ia menatap kedepan . dylan pikir desya tidak mendengar ternyata ia mendengar dan raut wajah desya terlihat kaget .
" kau selalu bergurau , terserah kau saja dyl" kata desya beranjak pergi dan turun .
untuk kedua kalinya dylan hanya terdiam kaku , ia menintikan air mata . suhu dingin menusuk tubuhnya saat ini.
desya
aku menuruni anak tangga dengan cepat , menghindari dylan yang masih diatas rumah pohon. aku bingung, terkejut, mengapa dylan mengutarakan perasaannya disaat aku ingin melupakannya .
aku kembali ke kerumunan , briana menemuiku
" kamu dari mana saja? acara sudah ingin dimulai" ya briana mengkhawatirkan aku.
" em aku mencari udara segar " kataku mengeles .
" memangnya disini udaranya tidak segar " gumam briana , aku masih bisa mendengarnya .
" jangan lola dong , malu-maluin aku hahaha " aku menggodanya , ia terlihat jengkel.
aku melihat dylan sudah berada diarea wall climbing , aku melihat ia sudah memasangkan alat-alat dipinggangnya , aku heran bukankah ia takut ketinggian ? entahlah aku tidak mau memikirkannya. dan aku melihat dylan menaiki wall climbing perlahan-lahan , lalu ia berhasil semua mahasisiwi kagum melihatnya bahkan bertepuk tangan .
" aku mencintaimu desya , will you be my girlfriend?" yap , dia baru saja mengutarakan perasaannya kepadaku, ia sudah gila berteriak diatas lalu bertahap turun kebawah .
aku tidak menggubrisnya , meskipun banyak mahasiswi melihat kearahku . terutama briana
"ah desya kau terima saja , iya sweet banget " begitulah kata briana
aku memutar badanku dan tidak melihat ia turun karena kau sudah muak melihat tingkahnya, entahlah mengapa perasaanku tak enak
BRUG..
ya aku langsung menghampiri suara seperti terjatuh , ya iu dylan sedang merintih kesakitan, tanpa basa basi aku menghampirinya meskipun sangat sulit karena terhalang mahasisiwi tetapi, arga membantuku .
aku menatapnya kesal, aku memegang lengannya ia terluka kakinya pun seperti itu
arga memberikan kotak pertolongan pertama , aku membukanya" kau diam saja , aku akan memakai alkohol agar lukamu cepat kering " kataku yang fokus memegang lengannya yang terluka, aku tidak berani menatap matanya.
" aw aw .. cs pelan-pelan , kau tidak tega ya melihatku terluka ? aku tau kamu takut darah " uh dylan menggodaku menyebalkan, masih untung aku mau mengobatinya
"yasudah urus dirimu sendiri , bocah " aku melepas lengannya dengan kasar , belum sempat aku berdiri ia menggenggam tanganku erat lalu aku berlutut kembali .
" jangan tinggalkan aku okey ? kau mau kan menjadi pacarku?" suaranya lemah , aku hanya diam , lalu ia memelukku dengan erat .
" iya aku mau , berarti prinsip kita bagaimana ? prinsip bahwa sahabat tidak bisa menjadi cinta bahkan pacaran akan dihapus gitu ?" tanyaku bingung , masih dalam pelukannya . lalu dylan membisikkan tepat ditelingaku .
" hey dear , kau tetap sahabatku dan pacarku . tidak harus setelah putus jadi musuh, bahkan posisimu tetap sebagai sahabat itulah namanya cinta sesungguhnya ". katanya lalu ia lanjutkan
" dear , kau jangan memelukku terlalu erat badanku masih sakit " timpalnya jelas wajah aku langsung memerah
aku melepas pelukannya ,mahasiswi dan mahasiswa tersenyum mereka bertepuk tangan dan memberi selamat , tidak tertinggal briana
"duh romantis banget sih selamat ya yang udah jadian " ujar briana sambil merangkul arga ,tunggu? mereka?
" kami juga resmi pacaran dong ," arga menjelaskan , aku menoleh ke dylan dan kita tertawa terbahak-bahak.
" proses kalian cepat bung " kataku sambil membantu dylan untuk berdiri .
"oke teman-teman sudah cukup drama romancenya kita ke bus sekarangg " kata teman dylan yang terlihat bete tapi senang .
" aku tidak menyangka sahabatku menjadi kekasihku" kataku merangkul dylan , dan ia mencium keningku dengan lembut.
yeahh akhirnya selesai alhamdulillah . kurang seru ya votment aja dey

KAMU SEDANG MEMBACA
Suddenly love
Teen Fictionaku mencium pipinya itu satu2nya hal yang harus ku lakukan, pelukannya sangat hangat , entahlah perasaan sperti tidak ingin kehilangan , ia mengatakan sesuatu, aku akan selalu ingat meskipun konyol "kalo sahabat itu pasti bertemu ya kan ?"; ia ter...