13. Hurt

708 59 4
                                    

13. Hurt

Ji Hyo panik dan menghampiri Jong Kook. Ia berkali-kali menepuk pipi Jong Kook yang saat itu tak sadar. "Kim Jong Kook! Kau tak apa-apa? Buka matamu dan bicaralah padaku!" Tak ada jawaban dari Jong Kook membuatnya semakin panik lalu mengeluarkan ponselnya dari saku dan hendak menelfon 119.

Namun, tangan kekar itu menggenggam tangan Ji Hyo. Meski matanya masih terpejam. "Aku tak apa-apa." jawab Jong Kook dengan suara lemah dan berusaha membuka matanya untuk menatap wanita yang berstatus sebagai pacarnya. Lalu ia tersenyum tipis menatap pipi Ji Hyo yang penuh dengan air mata. "Jangan menangis. Ini hanya demam biasa." jawab Jong Kook sembari meraba pipi Ji Hyo.

Ji Hyo bernafas lega saat Jong Kook masih dapat berbicara. "Kau benar-benar membuatku terkejut. Tapi, mengapa kau bisa berada di dapur? Sejak kapan kau sakit seperti ini? Mengapa tak mengabariku? Mengapa..."

"Sssttt." Lagi-lagi Jong Kook tersenyum tipis. "Jangan cerewet. Aku ingin mengambil air minum tapi aku tak sanggup berdiri saat sampai disini. Hanya karena kepalaku sangat pusing sekarang."

Ji Hyo membantu Jong Kook berdiri dan menggotongnya ke dalam kamar. Saat lelaki itu sudah terbaring di ranjang, "Kau sudah makan?" Tanya Ji Hyo. Belum sempat Jong Kook menjawabnya, Ji Hyo dengan gesit hendak berjalan ke dapur. "Jika belum, aku akan membuatkanmu..."

"Aku sudah makan sore tadi." Jawab Jong Kook memotong kalimat Ji Hyo lalu menarik tangannya sehingga wanita itu saat ini duduk di pinggir ranjang. "Ibuku langsung datang kesini dan memasakkan sesuatu untukku saat ia mendengar suaraku lewat telfon."

Ji Hyo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Lalu ia menatap Jong Kook yang saat ini memejamkan matanya sembari menggenggam tangan Ji Hyo. "Kau sedang tidur?" tanya Ji Hyo.

"Aku hanya memejamkan mataku." jawab Jong Kook mengeratkan genggaman tangannya kepada Ji Hyo dan meletakkannya di atas dadanya.

Kemudian hening, Ji Hyo menatap wajah Jong Kook yang saat itu sangat pucat, namun masih menampakkan ketampanannya. Jujur, ia tak mengerti mengapa Jong Kook tiba-tiba sakit seperti itu padahal dia baik-baik saja kemarin malam.

"Misalnya aku pergi untuk kepentinganmu, kira-kira kau akan membiarkanku pergi?" Jong Kook membuka percakapan.

Pertanyaan Jong Kook spontan membuat Ji Hyo terkejut. Seakan-akan lelaki itu akan pergi menjauh darinya. "Apa maksudmu?"

"Misalnya saja." jawab Jong Kook lalu membuka matanya menatap wajah Ji Hyo dengan tatapan penuh arti.

Ji Hyo kini meletakkan tangannya di atas pipi Jong Kook. "Jangan sembarangan berbicara. Aku tak suka. Jika kau pergi, apakah aku harus kehilangan lelaki yang kucintai untuk yang kedua kalinya?"

"Kedua kalinya?"

Ekspresi Ji Hyo berubah menjadi sedih mengingat masa lalunya yang sangat menyakitkan untuk diingat. "Kau ingat kan saat kau menemukanku tergeletak lemah di tengah hujan?" Ji Hyo menarik nafasnya untuk menceritakan semuanya kepada Jong Kook.

Setelah menceritakan alasan di balik ia yang trauma dengan hujan di malam hari, ia pun menatap Jong Kook dengan lembut. "Aku tak ingin kehilanganmu. Kita memang baru saja berkenalan, tapi aku tak pernah mencintai seseorang sedalam ini."

---

Ji Hyo kini berjalan keluar dari apartemen Jong Kook, dan tak disangka ia berpapasan dengan Kwang Soo. "Noona!" Kwang Soo tampak lega saat melihat Ji Hyo. "Hujan sedang turun, aku mencari-carimu di cafe, tapi bibi bilang kau sedang menjenguk Jong Kook Hyung. Memangnya Jong Kook Hyung sakit apa?"

"Hanya demam biasa." jawab Ji Hyo singkat.

"Aku disuruh Ibu untuk menjemputmu. Dia sedang berada di rumah nenek. Jadi kita pulang naik taksi saja." Ucap Kwang Soo yang hanya dijawab dengan anggukan Ji Hyo.

Kwang Soo pun membuka payung saat mereka berdua tiba di luar apartemen. Tangan kanannya menggenggam payung, sedangkan tangan kirinya dipakai Ji Hyo untuk genggaman.

Ji Hyo memang sangat takut saat melihat rintikan hujan. Namun, keberadaan Kwang Soo membuatnya sedikit tenang. Tangannya tak berhenti menggenggam tangan Kwang Soo dengan erat.

Kwang Soo berkali-kali menengok kiri-kanan tapi tak ada satupun taksi yang lewat. Melihat kakaknya yang tampak sangat ketakutan "Noona, apakah kau ingin berteduh sebentar?" tanya Kwang Soo sembari menunjuk sebuah minimarket.

Ji Hyo mengangguk cepat menyetujui tawaran Kwang Soo.

Mereka pun berjalan masuk ke dalam minimarket, namun langkah Ji Hyo terhenti saat melihat seorang pria yang berada di kasir. Sepertinya pria itu sedang membayar barang yang akan ia beli.

Mata Ji Hyo membelalak. "Ayah?"

Kwang Soo juga menatap pria itu. Awalnya ia mengira Ji Hyo sedang berhalusinasi karena efek dari hujan. Tapi ia juga mengenal pria itu.

Pria itu menatap Ji Hyo. Tampak keterkejutan dari wajahnya juga. Namun, ia berusaha menyembunyikannya dan membuang tatapannya, lalu memberikan beberapa lembar uang kepada penjaga kasir dan tak sabar untuk pergi dari tempat itu segera.

"Ayah." seorang gadis kecil berjalan menuju pria itu dengan membawa beberapa permen. "Aku ingin ini."

Pria itu menatap gadis kecil yang merupakan anaknya itu. Ia tersenyum sembari meraih permen yang diambil anaknya itu dan memberikannya kepada kasir untuk diperiksa harganya.

Ji Hyo dan Kwang Soo semakin terkejut saat itu. Dua bersaudara itu menyimpulkan bahwa Ayah mereka telah mempunyai keluarga baru, bahkan telah mempunyai seorang anak.

Pikiran Ji Hyo dipenuhi oleh banyak hal sehingga ia hanya menatap kosong ke arah pria yang merupakan Ayahnya itu. Pikirannya seolah diwarnai oleh kenangan-kenangan pahit yang ia alami beberapa tahun yang lalu.

Akhirnya pria itu berjalan pergi sembari menggenggam tangan anaknya setelah membayar seluruh barang yang ia beli. Berjalan begitu saja melewati Ji Hyo dan Kwang Soo, meskipun ia mengenal kedua anaknya itu.

"Ayah." lirih Ji Hyo lalu membalikkan badannya dan berusaha mengejar Ayahnya.

Kwang Soo menahan tangan Ji Hyo agar tak mengejar pria itu, namun Ji Hyo terlalu kuat, wanita itu lepas dari genggaman tangannya dan berlari mengejar pria yang telah masuk ke dalam mobil dan langsung melaju kencang meninggalkan tempat itu.

Bukan berarti Ji Hyo menyerah, ia tetap mengejar mobil itu tanpa mempedulikan Kwang Soo yang terus memanggilnya. Akhirnya setelah adegan kejar mengejar di tengah hujan berlalu dalam beberapa menit, Kwang Soo dapat mengejar Ji Hyo, dan langsung saja menarik wanita itu ke dalam pelukannya dengan erat. "Itu bukan Ayah, Noona." jawab Kwang Soo menenangkan kakaknya.

Saat ini Ji Hyo tak terlalu sadar karena trauma yang terus menghantuinya. Ia sangat menyayangi Ayahnya sehingga membuatnya seperti orang gila traumanya itu kembali.

Mengingat Ayahnya yang dulu selalu mengantarnya dan menjemputnya di sekolah, di saat Ayahnya tetap membantunya mengerjakan PR di kala kesibukan pekerjaannya, di saat Ayahnya menegur seorang anak yang mengganggunya dulu saat kecil.

Semuanya itu merupakan kenangan yang sangat Indah untuknya.

Berbeda dengan Kwang Soo yang lebih dekat dengan Ibunya. Ia tak mempunyai banyak kenangan dengan Ayahnya. Itulah mengapa hatinya tak terlalu sakit saat Ayahnya pergi.

Namun, saat ini hatinya lebih sakit melihat kakaknya yang terus menangis dalam pelukannya. Pada saat itu pula, Kwang Soo melihat taksi dan langsung melambaikan tangannya sehingga taksi itu berhenti tepat di hadapan mereka.

Di perjalanan pulang, Kwang Soo terus meyakinkan bahwa saat itu Ji Hyo hanya salah lihat. Karena ia takut jika Ji Hyo semakin terluka jika tahu Ayahnya saat ini telah benar-benar melupakannya dan hanya tak acuh saat bertemu dengannya.

---

Berhubung kuota menipis dan nggak yakin besok bisa online, aku update nya malam ini aja.

Udah sampai part 13 aja nih.. rasanya pengen liat di comment siapa yang masih Setia baca ff ini 😂

Di part ini KwangMong moment banyak juga ya 😄😚

-spartaceofindonesia (20 Agustus 2016)

Sing For You Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang