Bab 3

1.8K 153 22
                                    

NOTE: Kalian bisa ikut menjawab pertanyaan yg diberikan tokoh utama dengan inline comment ya. Dalam kisah ini aku ingin para pembaca bisa lebih talkative dan juga menumpahkan pikirannya. ^^
Setiap orang pastinya mempunyai pendapat dan alasan masing-masing. Dari pertanyaan ini, kalian bisa sekaligus mencoba memposisikan diri dan merenungkannya.

###

Menurutmu, seberapa sulit mengubur rasa cinta di saat kita sendiri yang ingin mengakhiri segalanya?

***

"Aku ... tidak sebaikmu, Ras. Jika kamu mengakhirinya karena kamu tidak ingin egois dan menyakiti dia lebih dalam, tidak denganku. Aku mengakhirinya justru karena aku menuruti egoku...."

"Maksud Cece?"

"Sejak awal hubungan ini tidak seharusnya ada. Awalnya aku berpikir untuk menikmati hubungan ini sejenak saja. Namun aku terlalu terbuai dengan perhatiannya. Hingga akhirnya aku mulai merasakan perasaan itu. Aku sadar, aku tidak boleh melangkah terlalu jauh. Seperti katamu, hubungan ini hanyalah sebuah ketidakmungkinan, kan?

"Perbedaan suku sebenarnya tidak terlalu mengganggu pikiranku, tapi tidak dengan keyakinan. Aku pun tidak akan pernah kompromi tentang hal itu. Oleh karena itu, di saat logikaku masih ada, lebih baik aku mengakhiri hubungan kami," ucapku.

Larasati terdiam sambil terus menatapku.

"Lalu gimana dengan reaksi pria itu, Ce?"

"Dia tidak terima. Meskipun berkali-kali kukatakan tidak akan pernah ada masa depan dalam hubungan ini. Konyolnya lagi ia mengatakan kalau aku bisa memilih keyakinannya. Dia juga bercerita padaku tentang temannya yang berpindah keyakinan. Hal itu membuatku sadar kalau pilihanku tepat. Keegoisannya bukanlah cinta, kan? Kamu beruntung karena laki-laki itu berkata rela melepaskan segalanya untukmu, bukan memintamu melepaskan segalanya.

"Aku tidak terlalu bodoh untuk terbutakan oleh cinta. Aku tidak cukup mencintainya hingga rela ia menghancurkan semua yang kumiliki, termasuk kepercayaanku."

Ekspresi Larasati berubah. Mungkin ia menyadari rasa benci dalam diriku saat mengatakan hal itu. Tidak, aku bukan benci pada pria itu, tapi aku benci pada diriku yang telah membukakan pintu baginya untuk masuk ke dalam hidupku.

"Bukankah Cece bilang kalau Cece menyayanginya?"

"Ya. Tapi sama seperti aku dengan mudahnya jatuh cinta, aku juga akan dengan mudah melupakan perasaan itu," tekadku, walaupun hingga saat ini aku masih merasakan rasa rindu itu.

"Jadi ... kalian sudah benar-benar berakhir? Tanpa komunikasi lagi?" tanya Larasati.

Aku tidak mampu menjawab. Jika aku menjawab kami tidak ada komunikasi, maka aku adalah seorang pembohong. Tapi aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.

Keterdiamanku dapat dengan mudah dimengerti oleh Larasati. Aku bisa melihat dari tatapan matanya kalau ia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya tadi. Larasati kembali meminum teh miliknya.

Aku tetap diam, merasa bodoh dan konyol. Aku yakin ia tahu kalau aku dan pria itu masih berkomunikasi. Walaupun ia tidak mungkin tahu kalau akulah yang terus menatap layar ponselku, berharap ia akan meneleponku seperti biasanya. Akulah yang pada akhirnya selalu kalah oleh rasa rinduku dan lebih dahulu menghubungi laki-laki itu.

"Segala sesuatunya butuh waktu. Termasuk untuk mengubur rasa rindu dan cinta."

Aku langsung menatap manik mata Larasati. Sebuah senyuman tercetak di bibirnya. Senyuman itu seakan menularkan sebuah virus yang membuatku ikut tersenyum.

Long Distance LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang