Chapter 3 - Trapped in Another World

238 9 0
                                    

Langit terlihat sudah berwarna jingga, saat Isaac akhirnya sampai di depan jalan masuk menuju desanya. Di penglihatannya sekarang ada dua pohon yang lebih besar dari pohon lain di sekitarnya mengapit jalan masuk itu seakan menjadi gerbang masuk menuju desa.

"Akhirnya sampai juga," gumam Isaac sambil membuang nafasnya.

Lelaki itu berjalan dengan langkah malas, dia merasa rasa lelahnya hari ini tiga kali lipat dari biasanya. Lelah karena harus berjalan dari kota ke desanya, lelah karena menggendong Serena di seperempat perjalanan terakhirnya menuju kota kecil tidak jauh dari desanya, dan lelah karena cuaca hari ini yang tidak bersahabat dengannya.

Melihat langit yang telah menjingga, lelaki itu menyadari sesuatu, Isaac harus mengajar hari ini, tepatnya satu jam yang lalu. Sudah terlambat untuk itu, mungkin saja anak-anak di desa telah pulang ke rumahnya karena menunggu kedatangan Isaac, dia berharap anak-anak itu bisa mengerti mengapa Isaac akhir-akhir ini tidak bisa mengajar mereka

"Ah, aku melewatkannya lagi," ucapnya dengan wajah muram.

Tiba-tiba terdengar sebuah nyanyian yang merdu, suara yang tercipta dari seruling yang ditiup. Irama lagu ini sangat dikenal Isaac, sebuah nyanyian anak gunung yang turun temurun dinyanyikan tiap orang tua di desa ini untuk menidurkan anaknya, dan oleh anak-anak yang bernyanyi riang melepas penat setelah bermain, terkadang disenandungkan oleh para petani di desanya ketika sedang bercocok tanam atau musim panen tiba.

Selain irama lagunya, suara seruling ini sangat dikenal Isaac, hanya satu orang di desanya yang bisa memainkan seruling seindah ini, iramanya teratur dan menampakkan ciri khas dari orang yang meniupnya.

Rasa lelahnya terasa telah ditarik keluar oleh nyanyian seruling ini, mata Isaac terbuka lebar dan menatap ke sekelilingnya mencari sumber suara dari seruling. Dia menemukannya, tampak di penglihatannya seseorang sedang bersandar dengan memanjangkan kaki di sebuah pohon besar di kanan jalan, salah satu pohon yang menjadi bagian dari gerbang desa. Dia adalah seorang gadis, rambutnya perak dan sedikit kekuningan terkena pantulan cahaya langit jingga, sedang meniup sebuah seruling yang selalu dia bawa kemana saja.

Gadis itu memakai gaun one piece putih pendek lengan dengan syal berwarna merah di lehernya. Isaac sangat mengenalnya, gadis itu adalah teman masa kecilnya, dia adalah Alice Carpenter. Jika dilihat lagi, wajahnya memang benar-benar mirip dengan boneka, dan jadi sangat mirip karena kulitnya dan rambutnya yang berwarna putih.

Sambil tersenyum, Isaac berjalan menghampiri gadis itu dengan langkah pelan, mungkin Alice tidak menyadari kehadiran Isaac karena dia sedang memainkan serulingnya dengan mata tertutup. Tanpa berpikir panjang Isaac duduk di sebelah Alice, menyandar di sisi pohon yang lain.

"Terima kasih untuk pertunjukkan serulingnya," ujar Isaac sambil tersenyum, matanya menatap langit jingga dari balik dedaunan dan ranting pohon di atasnya.

Suara nyanyian seruling berhenti setelah Isaac memulai pembicaraan, Alice melepaskan bibirnya dari seruling dan menjauhkannya, dia membuka perlahan matanya dengan ekspresi bahagia kemudian menoleh ke arah Isaac, tampak mata rubinya berkilauan seperti permata rubi asli, bibirnya mengukir senyuman terbaiknya seakan baru saja melalui sebuah jalan kehidupan yang disukainya.

"Selamat datang, Isaac."

"Ya, aku pulang."

Isaac membalas senyuman manis itu dengan senyuman terbaiknya, mata mereka saling bertatapan satu sama lain, tiba-tiba lelaki itu mengingat sesuatu yang penting yang harus dia ucapkan pada Alice sekarang.

"Maafkan aku Alice, karena akhir-akhir ini pulang terlambat dan tidak bisa mengajarimu dan anak-anak desa yang lain."

"Tidak apa, lagipula tiga hari terakhir ini aku mengambil alih kelompok belajar dan mengajari mereka ilmu berhitung dan memahat, dan mereka juga pulang lebih cepat."

T R A P P E DTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang