Dari matanya, terlihat langit-langit kayu lantai dua penginapan sudah banyak dipenuhi noda-noda yang bermacam-macam, entah itu noda karena air, noda karena panas ataupun sarang-sarang serangga yang menetap di penginapan ini. Jika Isaac menoleh ke arah kiri, akan tampak pemandangan di pagi hari dari jendela yang terbuka tidak jauh berada di atas Isaac yang sedang berbaring.
Udara pagi terasa sangat sejuk—tepatnya dingin, aroma udaranya masih dapat dirasakan oleh hidung Isaac yang sedikit tersumbat karena ulah cuaca yang tiba-tiba berubah, aroma udara pagi ini bercampur dengan aroma khas tanah dan tanaman setelah disirami hujan, tampaknya hujan terjadi begitu deras saat Isaac tertidur lelap malam tadi.
Dengan fokus yang luar biasa, dilihatnya langit-langit itu tanpa menoleh ke arah lain sedikitpun. Meskipun begitu, dia tidak benar-benar melihat langit-langit penginapan, pikirannya seratus persen berbeda jauh dengan apa yang dilihatnya, tepatnya dia melihat langit-langit penginapan hanya untuk membuat pikirannya terbuka.
Diingat-ingatnya percakapan panjang mereka tadi malam, ketika selesai makan di lantai bawah dengan uang milik Serena—saat Isaac mengingat ini, terasa sakit di perutnya karena memalukan baginya ditraktir oleh seorang gadis. Saat itu, kelompok bandit yang ada di dalam bar baru saja meninggalkan bar untuk melanjutkan tugas mereka. Setelah itu, Louis mengajak mereka ke penginapan di lantai atas, untuk membicarakan sesuatu yang begitu penting tentang keanehan-keanehan yang terjadi di sekitar mereka.
Dipinjamnya oleh Louis kunci sebuah kamar penginapan yang cocok dijadikan tempat untuk berdiskusi, di dalamnya terdapat dua dipan kayu yang berisi kasur berbahan tebal dan sedikit kasar, Louis duduk di salah satu dipan sementara Isaac dan Serena duduk di dipan yang satunya. Mereka berdua kemudian menjelaskan keanehan-keanehan yang terjadi di sekitar mereka sejak beberapa waktu yang lalu.
"Ah, aku tidak menyangka kalian berdua juga mendapat tiketnya," ucap Louis sambil menghela napas pendek seakan menyesali sesuatu.
"Mendapatkan tiket? Apa yang kau maksudkan?" tanya Serena.
Louis merubah air wajahnya menjadi sangat serius seperti akan menjelaskan sesuatu yang begitu penting pada mereka berdua, diangkatnya kepalanya dan dia bersiap untuk angkat bicara.
"Benar. Dengarkan aku, langsung saja ke permasalahan utama, batu permata yang kalian dapatkan itu adalah tiket yang kalian dapatkan untuk masuk ke dunia ini."
"Pelan-pelan, aku tidak mengerti. Apa maksudmu dengan 'masuk ke dunia ini'?" balas Isaac sambil mencoba mencerna perkataan Louis.
"Oh maaf, ku kira kalian sudah mengetahui kondisi kalian saat ini. Kalian berdua sudah bukan lagi berada di dunia kalian yang biasa, tiket yang kalian dapatkan itu membawa kalian ke sebuah dunia yang berbeda dari dunia kalian berasal. Kalian sedang berada di dunia lain yang tampaknya sama namun berbeda dengan dunia yang kalian kenal, tepatnya keanehan yang kalian rasakan itu bukan keanehan kalian, melainkan memanglah skenario dunia ini."
"Dunia yang tampak sama namun berbeda? Apakah yang kau maksud itu adalah dimensi paralel?"
"Dimensi paralel?" tanya Serena dengan kebingungan.
Tiba-tiba saja jendela kamar penginapan terbuka akibat hantaman angin. Angin malam terasa begitu kencang saat memasuki ruangan, dinginnya sangat menusuk tulang, dari tempat mereka duduk, tidak tampak lagi bulan yang seharusnya berada di langit sekitar sana, pun tidak ada bintang-bintang yang menghiasi langit karena tertutup awan. Tampaknya akan terjadi hujan yang sangat deras tengah malam nanti.
Merasa terganggu, Louis melangkah menuju jendela itu dan menutupnya, tampaknya sebelumnya jendela kayu ini tidak tertutup begitu rapat. Meski begitu, mereka berterima kasih pada angin malam, jendela yang terbuka itu membuat percakapan ini menjadi tidak terlalu tegang.

KAMU SEDANG MEMBACA
T R A P P E D
FantasyMenyelamatkan dunia dari ancaman pasukan pemberontak. Isaac Vincrad dan rekan-rekannya dipaksa untuk 'terperangkap' di dunia lain; sebuah garis dunia yang disebut-sebut bukan satu jalur dengan dunia mereka. Dimensi Paralel. Berawal dari menemuk...