Namaku Ayumu Hattori, seorang pelajar di salah satu SMA di Fukuoka, Jepang. Sudah sejak beberapa hari yang lalu aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap malam aku selalu bermimpi buruk tentang seorang wanita yang menyeramkan. Hal ini terjadi setelah permainan truth or dare bersama ketiga sahabatku, Satoru, Keichi dan Tadashi ketika sekolah kami berwisata ke Pulau Hashima di Nagasaki.
Aku bermaksud menghindari truth karena tahu mereka akan memintaku untuk menceritakan hal-hal pribadi. Dare yang mereka berikan pun kuanggap sederhana.
"Ayumu, masuklah ke bangunan itu." Mereka memintaku untuk memasuki bangunan tua dengan tanda 'Dilarang Masuk!!' dan diam untuk beberapa saat di tempat itu.
"Hey, kau tidak lihat papan dilarang masuk itu? Bisa-bisa aku terkena masalah." Jawabku.
"Kau takut?" mereka menggodaku. Hal inilah yang membuatku kesal. Aku harus berbuat sesuatu untuk menunjukkan bahwa mereka salah. Pada akhirnya aku menerima tantangan itu.
Satoru berkata, "jika kau berdiam diri cukup lama di dalam sana, kau akan diikuti hantu selama berada di Pulau Hashima." Aku tidak percaya hal seperti itu karena tahu itu hanyalah cerita karangannya.
"Mungkin kau akan diikuti selamanya." Tadashi menggodaku.
Aku sedikit kesal, tapi kucoba untuk mengabaikannya. Aku bersiap untuk berlari, ketiga temanku memperhatikan tour guide agar tidak ketahuan ketika aku memasuki bangunan tua itu. Satoru memukul pundakku dan aku mulai berlari ke arah pintu. Ketika sampai disana, pintunya terkunci. "Sial!" Aku agak panik. Tetapi setelah kupaksa, gembok yang memang sudah berkarat itu kemudian rusak dan membuat pintunya dapat terbuka. Tentu saja, kupikir dengan begini maka aku dapat melewati tantangan mereka dengan mudah. Aku memperhatikan sekitar, cukup membuatku merinding. Ketika kuperhatikan ruangan sebelah melalui celah pintu, ada seseorang yang berjalan menuju kegelapan. Kupicingkan mata berusaha melihat orang itu lebih jelas. Ia perlahan membalikkan badannya. Ketika aku fokus, seseorang memegang pundakku. Hal itu membuatku terperanjat dan terjatuh. Tapi aku kembali tenang ketika yang kulihat adalah tour guide kami.
"Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak bisa membaca tanda 'Dilarang Masuk!!' itu, ya!?" ia berteriak memarahiku. Kemudian ia terdiam sebentar, "kau bisa terkena masalah." Ia berkata dengan pelan tetapi aku dapat melihat wajahnya yang serius.
"Ah, maaf.." aku tidak bisa berkata apa-apa selain meminta maaf. Dan menggerutu di dalam hati. Sial, aku terkena masalah.
Setelah pulang dari wisata, setiap malam aku bermimpi tentang seorang wanita yang mendatangi kamarku. Ia menggunakan pakaian yang sudah lusuh. Ia menundukkan kepalanya membuatku tidak bisa melihat wajahnya. Kakinya berdarah, tidak menggunakan alas kaki apapun. Di mimpi pertamaku, ia hanya berdiri di dekat pintu kamarku. Aku takut, tapi tidak bisa bergerak. Ingin rasanya kuberteriak, tapi tidak bisa mengeluarkan suaraku. Aku hanya bisa memanggil ayah dan ibuku dalam hati.
Semakin hari berganti ia semakin mendekat. Berjalan perlahan. Meninggalkan noda darah di lantai setiap dia melangkah. Tubuhku semakin gemetar dan basah karena keringat. Aku hanya bisa menutup mata setelah memandang sosok itu sudah berada di sampingku. Kupejamkan mataku rapat-rapat dengan harapan ketika kubuka mata, dia sudah pergi. Perlahan kubuka mataku.
"MENGAPA KAU MELAKUKAN INI PADAKU!? INI SEMUA SALAHMU!!" Ia berteriak, wajahnya tepat berada di depan wajahku, tubuhnya seperti melayang tepat di atas tubuhku. Ia berwajah pucat dengan beberapa luka seperti luka sayat. Matanya yang hanya berwarna putih itu meneteskan darah. Tubuhku tertekan hebat membuatku sulit untuk bernapas. Tapi kemudian aku terbangun. Suaraku kembali dan aku berteriak dengan kencang.
Kulihat pintu kamarku terbuka. Kedua orangtuaku berlari memanggil namaku dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Tetapi kemudian aku jatuh pingsan. Ketika terbangun, kepalaku terasa sangat sakit dan kedua kakiku mengeluarkan darah. Kedua orangtuaku beberapa kali memanggil dokter yang berbeda, tetapi mereka tidak tahu apa yang terjadi padaku. Dokter itu hanya membalutkan perban pada kakiku dan memberikan beberapa obat penghilang rasa sakit. Hal itu selalu terjadi setiap malam sehingga membuatku tidak ingin untuk memejamkan mata lagi. Bahkan dokter menyarankan agar membawaku ke psikiater.
Kejadian ini membuat aku tidak dapat masuk sekolah. Beberapa temanku, termasuk ketiga sahabatku, datang untuk menjenguk dan menanyakan tentang apa yang terjadi. Aku menceritakan semua yang terjadi dan semua mimpiku yang selalu sama semenjak pulang dari Pulau Hashima. Ketiga sahabatku meminta maaf atas tantangan yang mereka berikan itu, mereka tidak tahu bahwa tantangan itu akan berakibat seperti ini.
"Padahal itu hanya cerita karanganku untuk menakutimu." Satoru berkata. Tentu aku tahu dan mengatakan kalau ini bukan salah mereka.
Sebelum mereka pulang, Keichi memberitahuku tentang Baku, makhluk yang dapat memakan mimpi buruk, "Ayumu, kau tahukan cerita tentang Baku-San yang dapat memakan mimpi buruk. Kupikir itu dapat membantumu." Kemudian Keichi menjelaskan cara untuk memanggilnya. Aku hanya perlu mengatakan "Baku-San, makanlah mimpiku!" sebanyak tiga kali, maka ia akan datang dan memakan mimpi buruk itu.
"Heee.. Itu hanya mitos." Tadashi tidak percaya dan mengatakan itu tak akan bekerja karena itu hanyalah mitos belaka.
Tetapi Satoru melarangku, "sebaiknya jangan kau lakukan itu, Ayumu. Jika Baku tidak puas dengan mimpi burukmu, ia akan memakan semua mimpi indah dan harapanmu. Berjanjilah kau tidak akan memanggilnya!"
Aku berbohong pada Satoru untuk tidak akan memanggil Baku, tetapi aku tidak punya pilihan lain selain mencobanya.
Di malam harinya sebelum aku tidur, aku membacakan kalimat pemanggil Baku-San, "Baku-San, makanlah mimpiku!", "Baku-San, makanlah mimpiku!", "Baku-san, makanlah mimpiku!". Meski terdapat rasa khawatir, tetap kupaksakan untuk berbaring dan mencoba untuk tidur. Senang rasanya bisa tertidur dengan tenang kembali setelah cukup lama aku menahannya.
Di tengah malam aku terbangun karena mendengar sesuatu. Kulihat jendela kamarku terbuka tetapi aku tidak melihat apa-apa. Aku berjalan menuju jendela untuk menutupnya dan kembali ke kasurku. Tapi kemudian aku terdiam ketika melihat pintu kamarku lagi. Tubuhku kembali bergetar, sosok wanita itu ada disana. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati, "ini masih mimpi, kan?", "apakah selama ini aku tidak bermimpi?", "apakah ini nyata?". Kemudian kulihat sekelebat bayangan di depanku dengan cepat berpindah ke belakang punggungku. Aku terdiam lagi, tak bisa menggerakkan tubuhku karena takut. Sosok wanita itu di depan pintu kamarku dan sekarang makhluk ini berada di belakangku. Aku merasakan makhluk itu bersentuhan dengan tubuhku. Ia mendekatkan diri ke telingaku dan membisikan sesuatu, "kau tidak memiliki mimpi buruk!". Aku sadar, makhluk ini adalah Baku.
Tubuhku merinding. Seketika aku teringat perkataan Satoru. Ingin rasanya menangis dan aku bisa merasakan celanaku terasa hangat, kemudian basah. Kupandang wanita itu kemudian berteriak, "MENGAPA KAU MELAKUKAN INI PADAKU!? INI SEMUA SALAHMU!!".
Dengan sekejap mata wanita itu ada di depanku, "Sekarang aku akan menemanimu." Wanita itu menjawab dengan suara lirih dan sedikit bergetar.
Sesuatu dari tubuh Baku menyentuh kepalaku. Sehingga hanya kehampaan yang dirasakan. Pandangan mataku mulai kosong. Aku bisa merasakan tubuhku mulai terasa lemas dan berhenti bergetar. Ayah dan ibu memasuki kamarku dengan panik. Ayah menggoyangkan tubuhku mencoba membuatku sadar kembali. Ibuku terjatuh dan menangis.
Keesokan harinya, ayah dan ibu membawaku ke rumah sakit jiwa dengan harapan dapat di rehabilitasi. Kedua orangtuaku menceritakan semua kisahku pada dokter. Mereka menceritakan tentang bagaimana diriku mulai kehilangan kendali setelah keluar dari salah satu gedung di Pulau Hashima. Kemudian setiap malam membenturkan kepalaku ke setiap tempat, melemparkan gelas dan piring makanan yang ibu sediakan untuk makan malamku ke lantai. Aku mulai berjalan di atas pecahan itu sehingga darah dari kakiku menodai lantai. Mereka mendengar aku meneriakkan sesuatu hingga akhirnya ketika kedua orangtuaku tiba di kamar, aku sedang mencekik diriku sendiri hingga jatuh pingsan.
Padaakhirnya aku menjadi pasien rumah sakit itu. Satoru, Keichi, dan Tadashi datangmenjenguk. Satoru mulai menangis karena menyesal. Kini yang mereka lihathanyalah aku yang terduduk diatas kasur pasien dan bergumam, "Sekarang aku akanmenemanimu".

KAMU SEDANG MEMBACA
Fragmen
Short StoryHai, Ini tempat tulisan cerita pendek saya di sela-sela gabutnya nulis Arcapada :D Atau cerita yang gak lolos lomba :( cedih icc!! Vote dan komen masukannya ya!!