Tawa pecah mereka terhenti. Seiring dengan pandangan sinis. Terlihat bagaikan sebuah peluru yang mendarat tepat di wajahku. Tasssssss... ledakan bola matanya membunuh tawaku dengan ganas. Begitu juga langkah kaki mereka, berjalan lebih cepat dari sebelumnya meninggalkanku. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Namun rasa malu tergambar jelas di wajahku. Seperti ada cap bertanda "Malu" terpampang di kening.
********
Pukul 11:00 AM sekolah berakhir. Aku kembali memacu motor metic biruku membelah jalan Yos Sudarso (Lintas Sumatera), melewati bermacam-macam rintangan. Memang Jalan Yos Sudarso ini terkenal mainstream. Tidak sedikit jalan ini memakan korban. Maklum saja jalan ini banyak dilalui mobil truk besar yang muatannya terkadang melebihi ambang batas ketentuan yang disahkan oleh Dinas Perhubungan. Ditambah lagi dengan supirnya yang sedikit menjengkelkan. Sering ugal-ugalan berkendara. Seperti bapak mereka yang punya jalan. Tidak mau mengalah dengan pengendara bermotor. Apalagi supir bus Sumatera, sering melaju seperti kilat memacu mobil-mobil lainnya tanpa perhitungan sama sekali. Dapat sela sedikit langsung motong. Kalau sudah kepalanya masuk, ekor mobil tersebut sebarang menyalip. Hal-hal tersebutlah yang sering memicu kecelakaan. Kalau tidak berhati-hati, tidak menutup kemungkinan hanya nama yang pulang. Dapat gelar S4 pada awalan nama ALM. Dengan banyak prestasi yang diraih, pecah kepala, tubuh berserakan, tidak berbentuk lagi. Seperti yang sering orang bilang, mati anjing.
Setelah melintasi jalan lebih kurang 18KM, akhirnya aku sampai rumah dengan selamat. Dengan wajah kusam terkena asap kendaraan, ditambah dengan wajah lelah aku memasuki rumah.
"Assalamualaikum Bu..." Salam yang ku ucapkan mengawali langkah memijakkan kaki ke terasa rumah.
"Waalikumsalam." Ibu menjawab salamku. Baru selangka aku memasuki rumah, Ibu menyerangku dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Gimana sekolahnya nak?" Pandangan matanya mengitari tubuhku dari ujung kaki hingga ujung rambut, seperti melihat seseorang yang baru dikenal.
"Lumayan lah bu." Dengan wajah lelah yang tidak mampu kusembunyikan. Aku mencium punggung tangan kanannya.
"Kok lesu kali anak Ibu ni?" Bola matanya memandang tubuhku yang tidak ada habisnya.
"Ngk ada Bu, Kecapean aja."
"Emang ngapain aja tadi di sekolah?" Ibu memeng terkesan kopo, selalu ingin tahu cerita anaknya, tambahan lagi cerewetnya yang nauzubillah. Sedikit-sedikit merepet kayak knalpot preng. Bedah halnya dengan Ayah. Ayah lebih banyak diam, tidak banyak bicara. Namun punya cara tersendiri mencari informasi tentang anaknya. Meskipun terkesan cuek, tapi aku tahu di balik diam itu ada sejuta rasa cemas Ayah.
"Nanti ya bu Enat ceritanya." Jawabku meninggalkan Ibu memasuki kamar.
"Iyaa... Istirahat lah lagi sana." Ucapan Ibu mengikuti langkah kakiku memasuki kamar.
*******
Pagi ini hari pengumuman hasil ujian penentuan jurusan. Setibanya di sekolah, aku langsung melangkah ke mading sekolah melihat hasil ujian. Setelah melihat namaku yang lulus di jurusan RPL. Aku langsung terkejut, karena pilihan awal ku masuk sekolah ini mengambil jurusan TKJ. Namun hasil tidak sesuai dengan keinginan. Seperti halnya jatuh cinta dalam penantian. Selau berusaha mendekat dan memikat hatinya. Namu setelah tiba waktunya untuk mengutarakan perasaan, ternyata hasil tidak sesuai dengan keinginan. "Maaf ya aku lagi ngk mau pacaran, mau serius sekolah dulu." Tapi hal tersebut tidak mematahkan semangatku untuk pilihan awal tersebut. Aku coba menemui kepala jurusan. Menghadap langsung untuk membicarakan kelu kesah ku, agar tidak memutuskan secara sepihak. Karena segala sesuatu yang dikerjakan jika tidak sesuai dengan keinginan tidak akan baik hasilnya.
Setelah menghadap dengan kepala jurusan, serta membicarakan segala keluhan itu. Untung saja pertemuan tersebut membuahkan hasil. Aku direspon baik dengannya, akhirnya aku di masukkan ke jurusan TKJ, pada kelas X TKJ 2.
*******Pukul 08:00 AM
"Kepala seluruh siswa-siswi baru tahun ajaran 2012/2013 diharapkan memasuki kelasnya masing-masing."
Suara toa terdengar nyaring mengimbau kami untuk memasuki kelas. Aku langsung berjalan menaiki anak tangga, menuju kalas yang berada di lantai dua. Setibanya aku di kelas, suasana lokal terasa asing. Kulirik kearah mereka yang duduk berpencar membentuk kelompok dengan teman-temnya. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang tertawa, ada yang sibuk memainkan handphon, dan ada juga yang saling diam-diaman. Sedangkan aku yang tidak memiliki teman di sini, harus memisahkan diri duduk di pojok paling belakang menanti kehadiran Guru.
Sepuluh menit berlalu. Akhirnya Guru yang kami nantikan tiba juga. Dengan terburu-buru, mereka langsung masuk ke barisan memecahkan dudukan kelompok yang sempat terbentuk, ketika melihat seseorang Guru yang sedang berjalan masuki lokal.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Guru wanita yang bertubuh pendek, ditutup hijab merah yang menambah kesan mewah pada pakain gamis yang ia kenakan. Serta gerakan untuk menduduki kursi yang berada di depan barisan kami.
"Perkenalan Nama saya Neni.spd. Saya yang nantinya menjadi wali kelas X TKJ 2 dan saya juga mengajar sebagai guru ips di sekolah ini. Saya beragam Islam. Umur saya 48 tahun. Dan saya tinggal di Rumbai."
Rumbai itu salah satu kecamatan yang berbeda di kota Pekanbaru. Tempat di mana stadion sepakbola Kaharudin Nasution berada, yang menjadi lapangan pertandingan PSPS Pekanbaru.
Setelah perkenalan singkat dari wali kelas, kami juga memperkenalkan diri satu-per-satu. Dimulai dari barisan paling depan, bagian pojok kanan. Seorang laki-laki yang bertubuh tinggi, kurus, berambut cepak, dengan kulit sawo matang memperkenalkan dirinya.
"Perkenalan nama saya Aldi Setiawan. Saya beragam Islam. Saya tinggal di Jalan Umban sari-Rumbai. Asal sekolah SMP 1 Pekanbaru. Begitu terus perkenalan berlanjut satu per-satu, hingga sampailah pada barisan yang terakhir, tempat yang aku duduk untuk memperkenalkan diri.
"Perkenalkan nama saya Bernat. Hahahaha... Tawa teman selokalku ketika seseorang menyambut namaku menjadi Bernat bear. Kulirik kearah seseorang yang mempermalukan ku. Dengan wajah merah padam aku tidak mematikan Padang kepada sosok seseorang laki-laki bertubuh sedang itu.
To be continued
Jangan lupa vommentnya ya😊
See you all😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Tidak Seindah Mimpi
Fiksi UmumSebuah impian yang tidak nyata Seperti halnya bunga-bunga tidur • Kisah seorang anak yang ingin menentukan jalan hidup sendiri
