DEF - 3

53.8K 4.4K 85
                                        

"Dek lo udah tau mobilnya tuh ketos songong yang mana?"tanya Darwin kepada kedua adiknya.

Saat ini mereka bertiga sedang berada di parkiran sekolah, hari pertama MOS sudah berakhir suasana sekolah pun sudah mulai sepi. Darwin yang merencana untuk membuat perhitungan kepada Rolando yang telah memberikan hukuman kepadanya dan kedua adiknya.

"Tau kok bang, kata bang Jono satpam sekolah sih yang itu mobilnya. Ingat ya bang Jono satpam sekolah bukan bang Jono Zaskia bebek." Ernest menunjuk sebuah Mobil Mini Cooper berwarna putih.

"Yaudah bang tunggu apalagi, yuk kita buat karya terbaik buat tuh ketos."ucap Fredella tersenyum miring.

Darwin, Ernest dan Fredella berjalan menuju mobilnya Rolando. Ernest mengeluarkan stiker dan beberapa boneka hello kitty ukuran kecil. Sedangkan Fredella mengeluarkan tepung terigu dan kecap dari tasnya.

Fredella melirik Darwin. "Bang, lo lihat ke sekitar ya. Jangan sampe tuh ketos sama osis yang lain keburu datang kesini."

Darwin mengangguk mengerti. Fredella melempari mobil Rolando dengan tepung terigu dan kecap. Tak sampai disana Fredella pun mengambil beberapa pot bunga yang ada di parkiran lalu menyimpannya di atas mobil Rolando.

"Bang Ernest bawa sticker hello kitty gak? Kan abang penggemar hello kitty."tanya Fredella terkekeh.

"Abang bukan penggemar hello kitty, abang itu penggemar si kuning mata satu."

"Si kuning? Tai maksud lu dek."celetuk Darwin.

"Bego lu bang. Maksud gue tuh minions."

Darwin memandang sebal pada Ernest. Bisa-bisanya Ernest bicara kalau dirinya bego, padahal dirinya ini kakak darinya.

"Dek butuh lipstick ga?"tanya Darwin.

Fredella menoleh ke belakang lalu memandang Darwin dengan pandangan yang sulit di artikan.

"Abang punya lipstick darimana? Jangan bilang abang sering mangkal di taman safari."tanya Fredella selidik.

"Taman lawang oneng bukan taman safari. Dek lu pikir gue cowok apaan. Ini tuh lipstick mamah, abang ambil buat alat kita kerjain orang."jawab Darwin semakin sebal.

"Cowok kemayu yang doyan make up bang."ucap Fredella terkekeh geli.

"Ah gue jadi inget. Dulu waktu papah,mamah sama kita bertiga main ToD dan yang kena dare paling parah lu kan bang."ucap Ernest tertawa keras.

"Iya bang bener banget. Della juga masih ingat dulu bang Darwin kena dare suruh make up terus pake daster keliling komplek kan sampe si mang udin tukang sayur nyatain cinta sama abang."ucap Fredella sambil mengerlingkan mata genitnya ke Darwin.

"Udah deh mending kalian lanjutin sana nanti kita malah ketahuan."perintah Darwin sambil memalingkan wajah ke arah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah menahan malu.

"Udah cukup deh bang segini aja, Della udah males lanjutinnya."jawab Fredella santai.

"Yaudah yuk kita pulang aja."ajak Ernest sambil merangkul Darwin dan Fredella.

Fredella melepaskan rangkulan Ernest. "Abang berdua pulang duluan aja. Della masih ada urusan lain."ucap Fredella jujur.

"Urusan apaan?"tanya Ernest penasaran.

"Ada deh abang kepo banget. Pulang sana bang."usir Fredella.

"Yaudah deh kita berdua pulang duluan. Tapi kamu jangan pulang sore banget ya dek nanti mamah marah lagi."ucap Darwin sambil mengacak-acak rambut Fredella.

Fredella tersenyum manis lalu mengacungkan kedua jempolnya. Darwin dan Ernest pun berjalan meninggalkan parkiran sekolah. Fredella mengeluarkan iPodnya dari tasny dan memasangkan headset ketelinganya.

Fredella tersenyum bahagia melihat hasil karyanya untuk salam perkenalan kepada Rolando. Fredella melangkah meninggalkan area sekolah menuju halte yang terletak tak jauh dari gerbang sekolah.

Sesampainya di halte Fredella tak sengaja melihat anak kecil seumuran anak SD sedang memakan roti yang sudah terjatuh di tanah. Fredella pun buru-buru membuang roti yang di pegang anak kecil itu.

"Kak kenapa rotinya di buang? Aku kan belum makan."ucap anak kecil itu sedih sambil menatap roti yang sudah terjatuh.

"Dek itu bekas orang dan kotor." Fredella mengambil sesuatu yang ada didalam tasnya. "Nih kakak punya roti, kamu makan ya."

"Bener kak ini buat aku?"tanya anak kecil berbinar.

Fredella mengangguk dan tersenyum tipis. Anak kecil itu pun mulai memakan roti pemberian Fredella.

Fredella kasihan melihat anak kecil ini, harusnya ia belajar dan bermain dengan teman seumurannya.

"Kamu kenapa ga sekolah de?"tanya Fredella penasaran.

"Aldi pengen bantuin bunda kak. Aldi kasian liat bunda harus kerja meski bunda itu lagi sakit. Bunda cari botol buat di jual terus uangnya di pakai biaya Aldi sekolah sama buat makan sehari-hari. Makanya Aldi pengen bantuin bunda."ucap anak kecil itu menunduk.

Fredella hatinya terasa sesak mendengar ucapan Aldi, bagaimana bisa anak seumur Aldi bisa berpikir sampai kesana. Dimana biasanya anak seumurnya hanya memikirkan tentang bermain bersama teman-temannya.

"Aldi mulai besok kamu jangan kerja kaya gini lagi ya dan suruh bunda kamu datang ke panti asuhan LA kasih ga jauh kok dari sini. Mulai besok bunda kamu bisa kerja disana buat masakin anak-anak panti."ucap Fredella tersenyum tipis.

"Bener kak?"tanya Aldi tak percaya.

"Iya bener kok. Kalau gitu kakak pergi dulu ya, kakak harus jenguk anak-anak panti disana. Ini juga ada uang buat kamu beli makanan."ucap Fredella mengeluarkan uang dari sakunya.

Fredella melambaikan tangannya kepada Aldi dan berjalan meninggalkan halte.

Tanpa di sadari, ternyata sedari tadi ada dua orang yang memperhatikan mereka dari gerbang sekolah.

"Apa bener itu si cewek datar? Gue pikir dia orangnya dingin dan ga peduli sekitar."ucap seseorang sambil memandang tak percaya.

"Lo jangan menilai orang dari luarnya, lo liat sendiri kan dia bahkan lebih peduli dengan sekitar dan juga dia bukan cuma punya wajah yang cantik tapi hatinya juga cantik."

Rolando mendengus pelan mendengar omongan Raka. "Halah lu lagi dibutakan terpesona sama dia aja!"

Raka mengangkat bahu acuh. Dia heran mengapa Rolando begitu tidak suka pada Fredella. Padahal ini baru awal mulai MOS, yang kebanyakan senior mencari adik kelas untuk dijadikan gebetan.

The Journey Of Madness Triplets [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang