Chapter 2 : Nephew

505 82 8
                                    

Wonwoo masih bertahan dengan telapak tangannya yang berada di mulutnya. Memalukan sekali, dia terdengar jorok dan pasti dia telah dicap sebagai penguping yang amatiran. Tatapan mengintimidasi kedua pria itu terus menusuknya sampai berdarah.

Mingyu berdiri dari tempat duduknya diikuti Seungcheol di belakangnya, kemudian berjalan ke arah Wonwoo. "Kau belum pergi dari sini?"

"Kau mengenalnya?" Itu Seungcheol.

"Tidak."

"Lalu?"

"Aku tidak mengenalnya."

Seungcheol memutar kedua bola matanya. Mingyu tidak mau mengaku, dan dari pada menghabiskan tenaganya dengan bertanya terus lebih baik dia melihat apa yang terjadi selanjutnya.

Wonwoo menatap Mingyu dan Seungcheol bergantian. Wonwoo berbicara masih dengan tangannya yang ada di mulutnya, "maaf, tetapi bisakah saya minta tisu?" Mingyu menyilangkan tangannya, "lap saja dengan bajumu." Dan sempat dihadiahkan tinjuan pada bahunya dari Seungcheol.

Wonwoo menghadap ke belakang, melakukan urusan mengelapnya sebentar, sebelum berbalik ke depan dan menjatuhkan lututnya ke lantai. Memeluk lutut Mingyu dan menatapnya dengan tatapan memohon plus tatapan ingin menangis.

Seungcheol menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung dengan situasi saat ini. Sedangkan Mingyu berpura-pura tidak melihat raut Wonwoo yang memohon. "Saya akan berpura-pura tidak mendengar, tolong jangan bunuh saya."

Mingyu menaikkan sebelah alisnya, "kupikir kau tidak ingin hidup lagi, aku akan membantumu," disertai dengan senyum iblisnya yang dibuat-buat. Wonwoo menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat rambutnya yang pendek bergoyang pelan. Sedangkan Mingyu membalasnya dengan tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Seungcheol yang awalnya hanya menonton adegan menggeleng-gelengkan dan mengangguk-anggukkan kepala mulai menengahi. Dia menarik lengan Wonwoo pelan agar berdiri dari posisinya. Seungcheol mengelus pundaknya pelan, "jadi kau siapa? Kenapa kau bisa masuk ke penthousenya Mingyu?"

Wonwoo melipat bibirnya ke dalam, "kemarin kami bertemu, dan saya meminta bantuannya untuk tinggal di rumahnya satu malam—"

"Tunggu dulu, sebenarnya aku ingin menanyakannya kemarin, kenapa kau bersembunyi?" Mingyu menyela Wonwoo sebentar.

"Kau bilang kau tidak mengenalnya, ming." Tanya Seungcheol yang dibalas Mingyu bahwa mereka memang saling tidak kenal. "Ayah saya meninggalkan saya dengan hutang yang banyak, penagih hutang itu mengejar saya, jadi saya melarikan diri." Seungcheol mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, mulai mengerti dengan situasinya, meskipun bukan dia yang bertanya.

Suasana sempat hening, sebelum Wonwoo bertanya, "tapi apa benar? Bahwa anda adalah ma—" dia berhenti bertanya begitu melihat tatapan tajam yang dilayangkan Mingyu. Membungkuk hampir 90 derajat seraya berujar, "maaf atas kelancangan saya."

***

Wonwoo mengeluh. Sekarang sudah jam 1 siang dan perutnya sama sekali belum diisi. Perutnya sudah berteriak minta diisi dari tadi. Semalam Wonwoo kabur tanpa membawa apa-apa, omong-omong. Dengan terpaksa, dia berjalan ke arah rumah sewanya. Siapa tahu orang-orang itu telah pergi.

Wonwoo langsung bersembunyi di balik tembok begitu netranya menangkap dua orang yang berjaga-jaga di depan rumahnya. Tetapi Wonwoo sama sekali tidak menyangka dia bisa seceroboh ini. Bagaimana bisa dia menginjak sesuatu di saat-saat seperti ini? Maniknya langsung bergerak panik melihat 2 pria itu menyadari kehadirannya.

Tidak perlu berpikir lebih lama lagi, tungkainya langsung berlari cepat. Di perempatan jalan, dia menemukan Mingyu yang menatapnya dengan pandangan bukankah-kita-tidak-akan-bertemu-lagi-selamanya?

[On Hold] Red ; MeanieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang