Malam itu Seraphina tidak tidur.
Suara Vex terus bergema di dalam pikirannya seperti gema dari ruangan kosong yang tak berujung. Ia mencoba memejamkan mata, menghitung napas, memutar white noise* melalui asisten AI-nya—semuanya sia-sia.
"Kau tahu aku sudah ada sejak lama, Seraphina," suara itu berkata lembut, tapi menusuk."Tetapi kau hanya memilih untuk tidak melihatku."
Dia duduk di lantai, memeluk lutut, menatap kosong ke arah dinding kamarnya yang polos. Di sudut, sebuah kamera pengawas kecil berkedip—fitur wajib di setiap unit hunian tahun 2091, bagian dari sistem keamanan negara. Tapi malam ini, semua alat pengawas itu terasa tidak ada gunanya. Karena kali ini ancamannya datang dari dalam dirinya sendiri.
Pukul 04.12 pagi, Seraphina akhirnya bangkit. Ia membuka laptop lamanya, bukan perangkat jaringan, tapi versi offline yang biasa ia pakai untuk menggambar digital. Di dalam folder yang tersembunyi, ia menemukan sebuah sketsa lama. Wajah seorang perempuan—mirip seperti dirinya, tapi ada sesuatu yang berbeda.
Matanya.
Ekspresinya.
Tajam. Dan penuh kontrol.
Bahkan ia sendiri tidak tahu kapan ia menggambar itu. Tapi yang ia tahu pasti: itu Vex.
Keesokan paginya, hujan masih kunjung berhenti. Seraphina berjalan cepat menuju akademi. Langit berwarna kelabu—sama seperti suasana hatinya. Sekolahnya, St. Agatha Academy, berdiri megah di tengah distrik pendidikan, bangunan modern yang tampak seperti museum teknologi ketimbang disebut sekolah. Bahkan dinding kaca dan hologram canggih itu tidak bisa mengalihkan pikirannya dari apa yang terjadi semalam.
Saat ia duduk di ruang kelas, seorang instruktur—Mr. David—sedang menjelaskan tentang algoritma pemetaan neural*. Tapi suara itu kembali hadir, memotong penjelasan yang bahkan tidak lagi ia dengar.
"Lihat ke belakangmu, Seraphina."
Ia menoleh secara refleks.
Baris terakhir kelas. Seorang mahasiswa baru duduk di sana, mengenakan seragam lengkap, rambut gelap, dan wajah yang asing. Ia menatap Seraphina... dan tersenyum kecil. Tapi bukan senyum ramah—lebih seperti seseorang yang tahu sesuatu yang tidak seharusnya.
Jantung Seraphina berdetak lebih cepat.
"Siapa dia?" bisiknya pada Elizabeth, yang duduk di sebelahnya.
"Siapa?" Elizabeth menoleh. "Kamu bicara soal siapa?"
Seraphina kembali menatap ke belakang. Dan kursi itu... kosong.
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Setelah kelas selesai, Seraphina menuju perpustakaan bawah tanah, tempat yang dimana jarang dikunjungi mahasiswa karena koneksinya sangat terbatas dan suasananya yang sudah tua. Tapi di sanalah ia merasa sedikit aman—tidak terlalu diawasi.
Ia membuka log sistem miliknya dan mencari semua aktivitas pesan dari implan komunikasinya. Di sana, di data terenkripsi, ia menemukan aktivitas abnormal: pesan terkirim otomatis pada pukul 14.59 kemarin. Waktu yang ia pikir dirinya sedang tidur siang.
Pesan itu dikirim ke Elizabeth. Sama seperti yang ditunjukkan Elizabeth tadi malam.
"Jadi memang bukan aku yang mengirim itu..." desisnya.
Tiba-tiba, layar padam sesaat.
Kemudian menyala sendiri, dan menampilkan tulisan yang sama seperti semalam:
"Jangan mencariku. Aku bisa datang sendiri."
Tangannya membeku.
Ia mengetik cepat:
"Apa maumu dariku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Alterego:Rebirth [Remake]
Fantasy"We all have a side. But what if that side is alive...and stronger than you?" Tahun 2091. Dunia telah berubah-kota-kota besar diubah oleh teknologi, tapi trauma masih tinggal dalam jiwa manusia. Seraphina DeLuca, seorang remaja keturunan Asia yang t...
![My Alterego:Rebirth [Remake]](https://img.wattpad.com/cover/92823299-64-k86658.jpg)