Chapter 4 : Pinch

482 21 0
                                        


Di barat hidup hewan besar berbulu, dan bertaring panjang. Mereka memakan hewan berbulu lainnya yang lebih kecil dan bergigi tumpul. Penduduk di sana hidup di antara hutan yang hijau, gemar makan dari ikan-ikan kecil yang berenang di air yang dangkal dan jernih.

Di timur banyak tumbuhan yang bisa disantap dan menyantap. Warna rimbanya tak hanya hijau, begitu juga penghuninya yang berupa serangga perayap hingga kadal raksasa. Orang-orangnya gesit dan bermulut besar, berkulit tak gelap, namun tidak juga berwarna cerah. 

Di Selatan terdapat banyak pulau hijau melayang di atas jalur biru yang tersambung ke semua. Di satu pulau ada pemuja burung raksasa yang menari bebas di angkasa. Di satu yang lain ada penyembah ular raksasa yang gemar memakan penyembahnya.

Di utara menjulang batu-batu putih yang mencium langit. Hutannya tanpa hijau, dingin, dan kejam. Di antara bebatuan tersebut terdapat lubang-lubang yang mengintip neraka. Penjaganya bertubuh besar namun tak banyak bicara. 

Di pusat tinggal sang Raja Hutan, bersama para kesatria merah, menjaga dan melindungi semua.



Peer Lamark, jika aku tak salah ingat adalah nama dari Penjaga yang bertugas menjaga perbatasan hutan. Sejak tahun pertama berburu, sudah kukenal baik kebiasaannya yang gemar tidur siang saat sedang berjaga. Aku dan Bruno beberapa kali mendapatinya sedang tertidur saat akan keluar dari hutan. Butuh keberuntungan ekstra agar dia juga tertidur tepat sekarang. Bagaimanapun, tak mungkin aku memperlihatkan gadis yang ada di punggungku ini padanya.

"Tunggu sebentar ya," kataku sambil menyandarkan gadis itu di bawah rindang pohon, jauh dari jalan setapak.

Benar saja, ketika aku berjalan mendekati gerbang, Peer tampak sedang duduk di posnya sambil mendengkur. Namun ketika hendak membawa Gadis itu kembali, aku melihat dua orang pemburu muda tengah berjalan melewati jalan setapak dari dalam hutan. Kelihatannya mereka sudah selesai berburu, dan sama sepertiku, mereka tak begitu beruntung hari ini. Seekor anak rusa dan tiga berang-berang terlalu menyedihkan untuk ukuran sepasang pemburu. Mereka berhenti sejenak di depan pos jaga, kemudian membangunkan Penjaga malas yang sedang terlelap itu. 

Aku menyumpah dalam hati ketika Peer terbangun. Kalau sudah begini, biar menunggu dengan sabar sampai kedua pemburu itu pergi pun akan sia-sia saja. Hari sudah menyongsong sore. Peer sudah tak mungkin lagi kembali tidur.

Sekarang pilihan apa lagi yang kupunya. Memanjat pagar kawat? tanganku bisa putus duluan sebelum sampai ke puncak. Tidak ada baiknya berpikir sambil berdiam diri, kuputuskan untuk mebawanya berjalan menyusuri pagar pembatas sambil memikirkan rencana lain. Tapi, satu-satunya rencana yang bisa terpikir di benak adalah menghantam Peer dari belakang dan mebuatnya tidur kembali dan kabur secepat mungkin. Sementara kusimpan sebagai rencana cadangan.

Jika setelah berjalan sejauh ini aku tak juga menemukan pohon yang berdiri menjulang tinggi di depanku ini, mungkin aku benar-benar akan membuat Peer pingsan. Pohon Pinus itu tingginya hampir sebelas meter, berdiri menjulang tak jauh dari pagar pembatas. Dahan-dahannya yang tumbuh melewati bagian teratas pagar memberiku ide yang cukup menyakitkan. Butuh kerja keras untuk memanjat pohon ini, sampai akhirnya aku merayap ke sebuah dahan yang menjalar ke luar pagar pembatas. Tinggi pagar pembatas ini enam meter, aku memperkirakan diriku sekarang berada tujuh meter jauhnya dari permukaan tanah. Berbahaya terjatuh dari ketinggian ini, bahkan untuk pemburu terlatih sekalipun. Ditambah, beban yang sedang kutanggung di punggung.

Sekarang tunggu apa lagi? Kalau sudah sampai sini, mundur bukan pilihan. Tanah yang terhampar di bawah adalah padang rumput yang cukup lebat. Sayangnya hal tersebut tak banyak membantu. Aku melempar semua buruanku ke luar pagar pembatas, berharap tubuh tak bernyawa mereka mampu menyelamatkan nyawaku dengan meredam benturan jatuh dari ketinggian ini. Dengan canggung, kupindahkan posisi gadis bermata merah itu sehingga wajahnya menempel di dadaku. Tangan kananku menahan bagian belakang tubuh hingga bahunya, sedang kedua kakinya kutopang dengan tangan kiriku.

Red EyesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang