Terdapat padang rumput kosong dekat pagar pembatas dari wajah hutan yang mengelilingi desa. Pagar kawat itu tingginya enam meter, dan hanya memiliki dua pintu di arah utara dan selatan. Pintu masuk yang paling sering digunakan berlokasi di bagian selatan desa, berfungsi sebagai gerbang utama dan kerap dilalui para penduduk dan pedatang untuk keluar masuk desa. Pintu masuk di utara hanya muat dilalui satu ekor kuda, dan hanya digunakan oleh para pemburu yang bermaksud mencari nafkah di hutan.
Berbeda dengan gerbang desa yang tersambung ke jalan besar, pintu kecil di sudut desa ini hanya memiliki jalan setapak yang terputus beberapa puluh meter kemudian. Bisa dikatakan, setelah gerbang ini, selanjutnya hanya ada hutan liar.
Penjaga yang menjaga pintu masuk hutan itu mengenali wajah seorang pemuda dan membiarkannya masuk. Pemuda itu telah mencetak rekor paling sering keluar masuk hutan sejak beberapa tahun ke belakang.
Bukannya tanpa alasan terdapat sebuah pintu yang membatasi hutan dengan desa. Hutan bukan tempat yang aman. Pagar pembatas didirikan dengan tujuan menghalau serangan hewan liar pada ternak dan kebun penduduk. Pintu menuju hutan dijaga untuk memastikan tidak ada anak dungu yang berkeliaran masuk dan berakhir jadi santapan beruang. Aturan dasar tersebut telah ditanam dalam-dalam sejak anak-anak di desa memiliki kapabilitas untuk berpikir dan menerima nasihat. Terkecuali untuk seorang anak laki-laki tertentu.
Hingga umur sebelas, Gray kecil selalu masuk diam-diam dari celah tanah yang melosok di bagian pagar kawat yang berlubang. Kadang ia menemukan anak panah yang patah, kadang pisau lempar yang terbengkalai di semak belukar. Dari situlah ia belajar berburu hewan kecil. Ia melepas bilah tajam pisau dan menyambungkannya pada ranting pohon, menggunakannya sebagai tombak untuk menangkap ikan di sungai. Ia berlatih melempar pisau dengan sasaran batang pohon, tak kurang dari seratus lemparan tiap harinya. Ia belajar menguliti kelinci tangkapannya, hingga meniru desain perangkap hewan dari halaman buku yang ditorehnya. Sebagian hasil buruannya ia jual di desa dan uangnya digunakan untuk membeli perlengkapan berburu lain. Gray tak akan pernah lupa wajah si penjaga gerbang ketika suatu hari ia datang dari dalam hutan, lengkap dengan busur di punggung, sederet pisau lempar di pinggang, dan lima ekor kelinci di kedua tangannya.
Gray kecil tumbuh jadi pemburu termuda paling berbakat di desanya.
Masuk ke bagian yang cukup dalam, Gray mulai memperhatikan langkahnya. Ia melirik tempat-tempat yang menjadi jalur bergeraknya hewan-hewan kecil. Namun yang terlihat hanya semak kosong dan burung-burung yang terbang menjauh, kemudian... sebuah siluet. Sosoknya ramping, hanya berupa bayangan karena terhalang pepohonan. Pemburu yang terluka, atau kriminal? tidak jarang ada kriminal yang kabur ke hutan setelah melakukan pelanggaran berat.
Menggenggam erat-erat pisau di tangan kanan, perlahan ia seberangi sungai dan barisan pohon. Tidak terlalu cepat, namun tanpa suara, dari satu pohon ke pohon yang lain. Ia berhenti di sebuah pohon yang berjarak hanya dua puluh meter dari sosok tersebut. Ia mampu melempar pisau tepat ke arah kepala pada target statis dalam jarak ini.
Seorang gadis, terduduk kepayahan, keringatnya mengalir deras di dahi putih yang tertutup oleh beberapa helai rambut hitam panjang. Baju putihnya bersimbah lumpur dan darah. Gray dapat melihat dengan jelas kedua mata gadis itu, menatapnya tanpa ekspresi.
Mata yang merah menyala.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Eyes
MaceraPertemuan Gray dengan seorang gadis bermata merah mengantarnya pada petualangan mendebarkan yang telah diimpikannya sejak masa kecil. Petualangan yang juga membuatnya harus meninggalkan orang-orang terdekatnya.
