Kalau boleh jujur, sebenarnya Adystha masih kesal pada Binna karna pertengkaran mereka siang tadi. Bukan Adystha tidak tahu kalau Anto, temen sekelasnya itu memang punya sepak terjang sebagai bad boy atau cenderung fuckboy. Tapi selama mereka berteman, Anto tak pernah macam-macam padanya.
Adystha berniat pulang lebih lambat, ia bersembunyi di dalam kelas dan menyuruh Mimi untuk mengatakan pada Binna kalau ia sudah keluar kelas sejak tadi. Ia sengaja menghindar dari Binna karna masih merasa kesal. Lagi pula ia masih bisa pulang sendiri. Sejam setelah bersembunyi diujung kelas akhirnya Adystha keluar. Ia berjalan menelusuri koridor menuju gerbang. Mengaktifkan ponselnya kembali yang sengaja tadi ia matikan agar terhindar dari Binna yang pasti menghubunginya.
Sekolah sudah tak terlalu ramai. Masih ada bebera geng yang nongkrong di pinggir lapangan, juga para anggota ekstrakulikular yang masih bertahan di sekolah. Adystha fokus pada ponselnya, melihat semua notifikasi yang masuk kecuali dari Binna. Tarikan dikerah seragam menghentikan langkahnya dan mengambil perhatiannya yang tadi tertuju pada ponsel sekarang pada pelaku penarikan kerahnya.
"Iiihhhh..." geram Adystha keluar. Saat melihat pelaku penarikan matanya melebar, kaget. "Lo ngapain disini?" tanya Adystha kaget.
"Lo pikir gue baru kenal lo sama Mimi dua hari apa ?" Binna bertanya balik. Iya pelaku penarikan kerah seragam Adystha adalah Binna. Ia sudah tahu kalau Adystha belum pulang dan masih berada disekolah, namun ia juga tidak tau dimana, jadi ia memutuskan untuk menunggu saja. Sedari tadi Binna sudah melihat Adystha yang berjalan menuju gerbang namun tak melihat sekitar. Ketika Adystha hendak keluar gerbang tepat didepannya dan ia langsung menarik kerah Adystha dari belakang.
"Ngapain lo nungguin gue ?" tanya Adystha dengan nada ketusnya.
"Ngapain lo ngehindarin gue?" tanya Binna lagi, membalas dengan pertanyaan dengan tampang kalemnya.
Adystha menggeram kesal pada cowo di hadapannya ini. "Nyebelin tau ga lo?"
"Berisik. Udah, marah-marahnya entar dirumah. Malu tuh pak Hadi ngeliatin." balas Binna menunjuk pada security sekolah yang sedari tadi melihat perdebatan mereka dari depan pos.
Adystha ikut melihat kearah Pak Hadi, lalu tersenyum garing. Menunduk sedikit sebagai hormat pada yang lebih tua. Setelahnya ia menginjak kaki Binna sekuat tenaga dan berjalan menuju motor Binna.
"AAANJIIIIIRRR. Sakit Dystha!!" pekik Binna mengaduh kesakitan akibat kelakuan Adystha.
***
Selama diperjalanan tak ada percakapan. Binna fokus mengendarai motornya, sementara Adystha masih dalam rangka ngambek ke Binna.
Hingga akhirnya sampai dirumah, Adystha turun dari motor menuju gerbang pagar rumahnya.
"Ngapain lo ?" tanya Adystha kala melihat Binna juga turun dari motor dan ikut membuka gerbang pagar, mendorong relling pagar.
"Masuklah," jawab Binna singkat, lalu kembali kemotornya hendak memasukan motornya kedalam carport luar rumah Adystha.
"Eh eh. Enak aja, siapa yang nyuruh lo ikut masuk?" tanya Adystha ketus menghalangi motor Binna.
"Minggir lo. Abang lo nungguin gue tuh," jawab Binna.
Mendengar jawaban Binna, Adystha makin kesal. Ia berjalan memasuki rumah melalui pintu samping dengan menghentakan kakinya.
"Kaaaaaakkkk..." seru Adystha memanggil kakaknya.
"Berisik lo! Dateng-dateng bukannya salam malah teriak-teriak." seru Azka yang sedang menyender pada sofa dan bermain PS.
"Samlekum," balas Adystha mengikuti perkataan Azka. Ia melangkah mendekat pada Azka lalu menyalami tangan kakaknya tersebut.
"Kak.. Lo ngapain dah manggil Binna ke rumah ? Nyebelin lo semua," gerutu Adystha yang sudah duduk disebelah Azka.

KAMU SEDANG MEMBACA
Adystha
Teen FictionHe made me love him without looking at me. And now I know, no matter how much i love him, he can't love me back in the same way. Cause he loves someone else. "Mimi mikirnya antara gue dan Binna ada perasaan. Tapi gue juga bingung. Selama gue sahabat...