Rael berpijak disebuah ambang pintu, rumahnya kini sedikit ramai, Kak Lazark sepertinya tengah libur les privat, Rael melihatnya tengah memangku laptop disalah satu sofa coklat panjang yang berjajar di ruang tamu, Rael menutup pintu lalu berjalan kearah kakaknya.
"Cepat sekali kau pulang, Rael" Sahut kakaknya yang mendapati Rael tengah berjalan mendekatinya, matanya menatap Rael sejenak lalu menatap kembali laptopnya, entah kesibukan apa yang dilakukannya sekarang, dia sangat antusias. Wajahnya nampak serius, manik mata hitamnya dengan lihai meniti dan rambut hitamnya nampak sedikit berantakan.
"Huh? Cepat? Ku rasa aku pulang di jam-jam seperti ini." jawab Rael malas.
"Hu? Apa kau sakit? Wajahmu nampak pucat."
"Tak apa, hanya keletihan saja, aku pergi dulu." Kak Lazark hanya mengangguk, Rael berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Sesampainya, dia langsung menegakkan diri didepan cermin besar dikamarnya.
"Benar, aku terlihat sedikit pucat. Sial! Karena kejadian di sekolah, nampaknya cukup mempengaruhiku benar-benar menjengkelkan!"
Rael menjatuhkan tubuhnya ke ranjang yang berada dibelakangnya, "Ku rasa aku perlu istirahat dan berhenti berpikir sejenak." tak lama lelap menguasai dirinya.
...
Rael membuka mata pelan, hari sudah gelap, lampu dikamarnya sempat dinyalakan, bahkan dia masih memakai seragam sekolahnya.
"Rasanya aku semakin bingung saja, kenapa dunia berubah seperti ini? Aku tak tahu, apa aku harus mengikuti dunia yang tak pernah ku duga? Kalau pun bisa mengikutinya, apakah aku mau mengikutinya?"
"Ini benar-benar tak pernah terpikirkan, sungguh aku berada di dunia yang salah."
"Akh, apa yang kau pikirkan, Rael? Kau membebani pikiranmu dengan sesuatu yang tak bisa kau terima."
Rael segera bangkit dari ranjangnya lalu menyalakan lampu kamarnya, menutup tirai, dan membersihkan diri.
...
Malam ini mungkin malam yang beruntung baginya, ada teman makan malamnya meskipun hanya dengan kakak laki-lakinya, suasana makan malam menjadi ramai karena Kakak laki-lakinya yang suka meledek adiknya yang pendiam mulai beraksi.
"Adikku, makanmu sedikit sekali, apa kau takut obesitas, huh?" tanya Lazark melihat Rael hanya makan dengan porsi yang lebih sedikit dibandingkan biasanya.
"Bukan urusanmu." jawab Rael acuh.
"Apa yang ku ucapkan benar? Kau takut obesitas?"
"Aku sedang tidak lapar." seraya menguyah makanan dalam mulutnya.
"Benarkah? Apa itu alasanmu saja?"
"Aku memang sedang tidak lapar."
"Apa kau tidak lapar atau kau takut obesitas huh?"
"Grrh!" Rael merasa geram, "Harus ku katakan berapa kali agar kau berhenti bicara?"
"Jangan-jangan nilai ulanganmu jelek?"
"Nilaiku selalu baik, kau tahu?"
"Apa kau baru saja diputus oleh gadismu?"
"Bicara apa kau, aku tak pernah dekat dengan seorang gadis."
"Lalu?"
"Aku sedang bingung saat ini."
"Huh?" sahutnya disela-sela makannya.
"Hantu."
"Hantu?" Lazark menatap adiknya yang tengah bermain-main sendok dan makanan dipiringnya.
"Apakah menurutmu, hantu itu benar-benar ada?"
"Kenapa kau tiba-tiba membahas hal seperti ini?"
"Mengenai teror demi teror yang terjadi sekolah, apalagi kejadian tadi pagi di koridor sekolah, aku berpikir itu hanya sebuah rekayasa, mungkin ada anak yang tengah jahil di koridor sekolah pagi-pagi, tapi ragu jika itu dilakukan seseorang, karena banyak yang melihat kejadian itu dan menyimpulkan kalau itu ulah hantu."
"Kejadian tadi pagi? Aku mendengarnya tadi, berita itu dengan cepat merembet di seluruh antero sekolah, tak hanya siswa yang percaya, guru bahkan juga penjaga sekolah pun berpikir itu ulah makhluk astral. Bagaimana menurutmu, apa hantu benar-benar ada?"
"Aku tak percaya, tapi kejadian di sekolah.."
"Percaya atau tidak, itu tidak disalahkan, semua bergantung pada keyakinan, memang ada beberapa kejadian yang belum diketahui kepastiannya dan tidak dapat dianalisa, hal itu membuat keyakinan kita terkadang berubah-ubah seakan-akan dipermainkan."
"Begitu ya.."
"Hahahahahaha.." tawa Lazark memenuhi ruang makan, sontak wajah seriusnya berubah drastis.
"Apa huh?"
"Ternyata ada yang bisa membuat adikku ini ragu-ragu, lucu sekali."
"Terserah." Rael menghabiskan makanannya cepat-cepat, sedangkan kakaknya masih tertawa lepas bahkan menjadi-jadi.
"Hei, makan dengan benar. Hahahaha.." Tingkah kakaknya membuat Rael semakin kesal, rasanya ingin sekali menonjok wajah imut kakaknya. Setelah selesai makan, Rael segera bergegas dikamarnya, kakaknya yang masih tertawa terbahak-bahak hanya melihat dirinya berjalan jauh lalu menghilang.
Next..

KAMU SEDANG MEMBACA
The Ghost of Wind
Fantasía"Sepertinya aku mencintainya." Gumam pria berambut hitam dengan mata manik hitam kecoklatan di sebuah balkon seraya merasakan setiap tiupan nada alunan angin yang mengalunkan rambutnya. #Disisi lain.. Aku ingin bersamamu sekarang.. Orang yang...