Ingatan Part I

31 4 0
                                    

#Seira pov

   "Benar-benar tak ada orang yang berani masih berada disini saat malam." aku menampakkan diriku, kakiku terus berjalan disepanjang koridor yang lengang.

   "Akh, kalau saja ini bukan tugas dari Ayah, aku tidak akan mau seperti ini."

   Flashback
   Dreettt..
   Suara pintu gerbang berderit, aku dan Kak Rosaria berjalan masuk, disana terdapat dua sang penjaga pintu menunduk malu, lalu berjalan lurus beralaskan karpet merah yang lembut, bangunannya penuh dengan kemewahan, bangunan yang terbuat dari pahatan batu dengan ukiran yang tersungging disetiap jengkal dinding bangunan. Semua orang kepercayaan berkumpul dan memberi rasa hormat saat kami berjalan didepannya, ada sebuah rasa bangga, namun sepertinya aku belum terbiasa merasakan hal ini didepan banyak orang, bagi Kak Rosaria, ini sudah terbiasa, tapi bagiku, seperti sebuah tantangan, kedua tanganku mengepal, aku bisa merasakan tanganku dingin berkeringat, bahkan aku bisa merasakan betapa berdebarnya jantungku. Kakiku melangkah dengan pasti lalu berhenti. Didepanku terdapat singgasana emas yang berdiri kokoh dengan anakan tangga yang panjang untuk menggapainya, seseorang yang memakai mahkota raja dengan  pakaian sutera yang membalut tubuhnya dan seseorang yang memakai tiara ratu dengan pakaian sutera yang memanjang sampai menutupi kakinya bangkit dari singgasananya lalu menyambut kedatanganku dan Kak Rosaria.

   "Putriku, kemarilah." ucapnya dengan nada bangga, rambutnya yang putih platina yang panjang menghiaskan kekuasaan, senyumnya seperti malam yang gelap gulita, sangat menakutkan.

   Aku dan Kak Rosaria berpandang, Kak Rosaria menunduk pelan, tatapan matanya mengatakan ayo-naik-keatas-ayah-sudah-menunggu-kita, lalu aku mengangguk, kami berjalan pelan, menaiki anak tangga dengan langkah pasti dan menghilangkan rasa gugup, semua orang mengarah satu arah, seakan semuanya tak ingin melewatkannya.

   "Oh putriku, kau sangat cantik dengan pakaian ini." Ayah datang memelukku saat aku sampai ditempat singgasananya.

   "Eee.. Ku rasa begitu, Ayah." rasanya canggung dengan pakaian serba putih dan tanpa dandanan sedikitpun, rambut saja hanya dibiarkan tergerai, sedangkan Kak Rosaria memakai pakaian khas kerajaan, pakaian hitam bangsawan dengan rambut terikat menjadi satu, sebuah tiara hitam kecil terpasang dirambut hitamnya.

The Ghost of WindTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang