It Hurts : 06

3.3K 232 15
                                        

Aku kesiangan.

Maksudnya, kesiangan bangun untuk menghindar dari Dad, Tante Lis, dan Emil.

Tapi, begitu aku sampai di lantai bawah, sepi menyelimuti. Aku berjalan ke arah ruang makan. Dan, kosong. Aku mengernyit. Kemana mereka? Apa mereka sebegitu tidak menginginkanku kah sampai-sampai mereka pergi meninggalkanku sendirian di rumah ini selamanya—masa bodoh lah.

"Non Elektra," suara Mbok Min.

Oh, itu mungkin hanya khayalanku—atau mungkin memang belum terjadi saja. "Yang lain kemana?" Aku duduk, mengoles selai ke roti.

"Nom Emil sakit lagi, Non. Tuan sama Nyonya berangkat ke Sidney pagi-pagi sekali," jawabnya. Datar.

Untuk informasi, Mbok Min adalah satu-satunya orang yang percaya perkataanku kalau Tante Lis yang membunuh Mom dulu itu. Dia tidak suka dengan kehadiran Tante Lis. Juga Emil.

Aku hanya mengangguk. Sebegitu sayangnya Dad dengan Emil. Padahal, aku masih ingat, waktu aku kecelakaan sampai-sampai harus di larikan ke rumah sakit di Singapore, Dad tidak ikut denganku ke Singapore—dengan alasan tidak ingin meninggalkan ketiga perusahaannya—takut-takut terbengkalai, katanya. Ha-ha. Jelas-jelas segudang karyawan di pekerjakan di tiga perusahaannya itu. Aku juga ingat, malah Xavier yang menemaniku. Ah, Xavier.

Mengingat namanya, aku selalu merasa tidak sendirian lagi. Tidak menyedihkan lagi.

***

"Aku gamau langsung pulang."

Xavier menatapku. "Nanti di marahin lagi sama Om Titan, Tra."

"Dad lagi pergi."

"Kemana?" Kali ini, Xavier fokus menyetir mobil—lampu merah sudah berganti warna menjadi hijau.

"Emil sakit lagi."

"Oh ya? Terus kamu?"

Au mendesah. "Aku gak mau bahas ini," dan dengan itu, mengakhiri percakapan kami di sisa perjalanan ke B's Café.

***

Hari bergulir. Sudah dua hari aku sendirian di rumah—jangan hitung dua pembantu, satu tukang kebun, dan empat supir.

Dan di hari ke tiga, Dad pulang. Oh, aku kira dia rela meninggalkan perusahaannya selama mungkin demi menunggu sang putri kesayangannya. Tsk tsk.

"Dad ingin bicara dengan kamu, Elektra," ucap Dad saat kami berpapasan. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.

"Bicara apa?" Balasku, datar. Berani taruhan, ini tidak akan jauh-jauh dari Emil atau Tante Lis.

"Tentang Emily."

Benar, kan.

"Kenapa Emil?"

"Kita bicara besok. Sepulang sekolah, temui Dad."

Setelah itu, Dad pergi menuju kamarnya.

Keesokannya, setelah pulang sekolah, aku menemui Dad di ruang kerjanya.

Aku duduk di kursi di depan Dad—dengan penyekat meja kerjanya.

"Jadi?" Tanyaku.

"Emily, Elektra," suara Dad terdengar sedih.

Dan, itu membuatku sesak. Aku bertanya-tanya, apa Dad juga akan sebegitu sedihnya jika aku yang ada di posisi Emily? Kurasa aku tahu jawabannya; tidak.

"Kenapa?"

"Sel kanker-nya mulai aktif lagi," jawab Dad.

Aku senang? Tidak. Aku sedih? Tidak juga. Apa yang aku rasakan? Tidak ada. Aku tidak cukup jahat untuk senang saat Emily menderita. Tapi? Aku juga tidak cukup baik untuk bersedih saat Emily menderita.

"Dan, dia punya satu permintaan—dia bilang, itu permintaannya yang terakhir."

Aku masih memilih untuk diam. Kalau begitu, permintaannya mungkin menyangkut diriku. Kira-kira, apa? Apa dia meminta agar aku di berhentikan dari sekolah? Atau mengusirku dari rumah? Oh, atau bahkan membunuhku?

"Dia bilang, dia ingin bertunangan dengan Xavier."

Aku menegang. Nyatanya, permintaan Emily lebih buruk dari yang aku bayangkan. Lebih menyakitkan. Lebih menyeramkan. Lebih segala-galanya. Hatiku hancur. Hancur. Hancur.

"T-terus..?" Suaraku bergetar.

"Dad menyanggupi. Besok, undang Xavier makan malam. Kita bicarakan ini besok. Dengan Ayah-nya juga. Mengertikan, Elektra?"

Oh, tentu saja Dad menyanggupi permintaan anak tersayangnya itu. Tanpa tahu bahwa di sini, aku, yang juga anaknya, merasakan hatinya hancur.

"O-oh. Okay." Dengan itu, aku bangkit, keluar dari ruang kerja Dad. Aku sebisa mungkin menahan tangisku.

Setelah sampai di kamar dan mengunci pintu, dinding-dinding pertahananku hancur juga. Tangisku pecah. Tangis yang berasal dari lubuk hati paling dalam. Tangis yang menyakitkan.

Tante Lisa sudah merebut Mom dariku dulu—sumber kebahagiaanku. Membuatku menjadi anak yang terbuang. Menjadi sosok yang menyedihkan. Emil merebut seluruh perhatian Dad. Kasih sayang Dad. Bahkan, merebut sahabat-sahabatku juga dulu—terkecuali Xav. Dan sekarang, Emily ingin merebut Xavier dariku—sumber kebahagiaanku? Apa sih, yang Emily pikirkan? Apa dia, juga Tante Lis, tidak puas dengan semua apa yang telah mereka rebut dariku?

Aku lelah. Aku sudah cukup menderita selama ini. Menjadi yang selalu tersakiti. Dan, Oh Tuhan, aku rasa Emily dan Tante Lis memang ingin membunuhku—menyiksaku.

Aku benci mereka. Aku benci Dad. Aku benci hidupku.

***

"Kenapa diem aja sih, Tra? Aku ada salah, ya?"

Enggak. Yang salah itu Emily. Yang salah itu Tante Lis. Yang salah itu Dad.

Ya, aku memang belum bilang ke Xavier perihal kemarin itu. Aku—belum sanggup. Lebih tepatnya, aku memang tidak sanggup. Tapi, percuma, toh pada akhirnya aku memang harus bilang padanya. Mencegah pertunangan Xav dan Emil? Itu mustahil. 00,01 persen tingkat keberhasilannya. Apalagi, kondisi Emil yang memburuk—tidak akan ada yang tidak Dad penuhi jika itu yang diminta Emil. Dan, tidak akan ada juga yang akan bisa menghentikan Dad. Percayalah, kalau pun itu aku orangnya—anak kandung satu-satunya yang ia milikki. Aku,  kan, sudah lama menjadi anak yang terbuang. Ha-ha.

"Xav," ini waktunya. "Kamu sama Om Harry di undang makan malam hari ini sama Dad."

"Oh, ya? Ada acara apa?" Xavier tersenyum sumringah.

Ah.

Senyumnya.

"Pertunangan. Masalah pertunangan—"

"Pertunangan? Kita, Tra? Oh God! Aku gak percaya! Om Titan mau kit— "

Aku memotong dengan dada yang sesak, "Iya, pertunangan. Dad mau kamu tunangan. Tapi, bukan sama aku. S-sama Emily." Suaraku bergetar hebat.

"A-apa? Kamu bercanda," senyum Xav sekarang berubah menjadi tawa yang sumbang.

Aku menggeleng. Menahan air mata yang siap tumpah kapan saja. "Aku gak bercanda, Xav. Kanker Emily kambuh lagi—sel kankernya mulai aktif lagi. Dan, dia punya satu permintaan—yang terakhir. Yaitu, tunangan sama kamu."

"Aku—gak bisa, Tra. Jelas-jelas—jelas-jelas aku sayangnya sama kamu. Aku gabakal bisa, Tra."

"Aku juga gabisa, Xav! Kamu pikir, aku bisa—apalagi setelah apa yang Tante Lis lakuin ke Mom? Gak, aku gabisa!" Tangisku pecah juga.

Xavier merengkuhku ke dalam dekapannya. Mentransfer kehangatan dirinya ke dalam diriku. "Tra, kita bilang ini sama-sama ke Om Titan, ya? Dia.. dia mungkin ngerti, Tra," Xav berbisik di telingaku.

Aku menggeleng di dalam dekapan Xav. "Gak bisa, Xav. Gak bisa. Pada akhirnya, kamu pasti akan tunangan sama Emil—pasti, Xav. Pasti."

Iya, pada akhirnya, aku juga yang akan tersakiti. Aku.

======

Yaaaaah.

It HurtsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang