"Hades dan pasukan Tartarus keluar dari lubang-lubang yang mereka gali ratusan tahun yang lalu,total ada 7 lubang yang tersebar di seluruh dunia yang mereka jadikan portal keluar masuk dunia bawah. Kami sudah memerintahkan manusia keturunan dewa seperti Hercules, mantan kekasihmu Odysseus, Perseus, dan lainnya untuk mencari lokasi lubang-lubang tersebut. Kami kekurangan tenaga, maka aku dan Poseidon berencana memintamu juga mencari portal-portal tersebut."
Elpis melanjutkan ceritanya.
"Kenapa tidak kalian saja yang langsung mencari dan menutup portal-portal itu? Kalian kan kuat-kuat!"
"Kami para dewa dewi tidak bisa menunjukkan wujud asli kami kepada mahluk fana, dunia sekarang sudah modern dan makin padat, akan terlalu menarik perhatian dan akan menimbulkan kepanikan jika dewa dewi turun langsung bertempur di hadapan manusia. Maka itulah kami mengutus manusia keturunan dewa, walaupun mereka sudah meninggal, tapi karena jasa-jasanya selama hidup, Zeus memberi mereka hidup abadi di Olympus. Tolonglah, Calypso."
Elpis memohon.
"Baiklah, aku akan mencoba. Aku tidak tahu apakah aku sanggup melakukannya." Calypso menyetujuinya, walaupun ia sebenarnya lebih tertarik untuk keluar dari Ogygia ketimbang menjalankan misi dari Elpis.
"Lalu mana Poseidon? Kau bilang ia juga membantuku." Tanya Calypso.
"Dewa-dewa akan menyadari jika dewa inti seperti Poseidon datang mengunjungimu. Hanya Hermes yang selama ini memiliki alasan mengunjungimu. Kuberi kau 10 menit untuk bersiap-siap." Elpis bangkit dari duduknya dan beranjak ke pantai.
Calypso terdiam di hadapan cermin perunggu di kamarnya, dia sudah lama menantikan momen ini, namun ternyata situasinya lebih buruk dari yang ia kira. Bagaimana jika ia gagal mengalahkan pasukan Hades? Melihat permukaan dunia luar saja dia belum pernah, bagaimana ia harus mencari lokasi portal dan bertarung untuk menutupnya?
Ia memandang dua Nereid yang hampir seribu tahun menemaninya di pulau ini, lalu ke arah taman bunganya, dengan burung-burung yang berkicau dengan merdunya. Jika ia gagal, semua ini akan musnah. Bagaimanapun, selain penjaranya, Ogygia adalah rumahnya.
"Aku sudah siap." Calypso menghampiri Elpis di tepi pantai. Elpis memandangi Calypso dengan heran.
"Untuk seseorang yang sudah lama tidak bepergian, barang bawaanmu sangat sedikit."
Calypso memang tak membawa banyak barang, hanya beberapa baju tunik putih selutut yang semua modelnya sama, beberapa ikat rambut cadangan, beberapa buah kering, sebuah mantel bulu dan sandal bersayap pemberian Hermes. Tak lupa 2 stoples masing-masing berisi nektar dan ambrosia, ransum para dewa.
"Aku tak tahu lagi harus membawa apa."
"Ini, aku juga menyiapkan sesuatu untuk perjalananmu, tidak banyak, tapi mungkin berguna untukmu." Elpis menunjuk lalu menepuk-nepuk sebuah ransel kulit hitam, yang sudah ia letakkan di dalam perahu.
"Namun ketahuilah Calypso, ketika kau di luar sana, Soter dan Soteria akan menyadarinya, mereka akan melapor ke Zeus, kau tahu kan? Zeus sangat tinggi harga dirinya, ia tak akan rela tawanannya lepas. Di luar sana, kau harus menyembunyikan dirimu dari bangsa Olympia maupun pasukan Hades. Bahkan mungkin aku atau Poseidon akan ditugaskan menangkapmu. Jadi, kau benar-benar sendiri di luar sana." Elpis lalu memberikan sebuah gelang, dengan bahan rotan, dan dengan 3 buah batu berwarna putih terikat di gelang itu.
"Kau tahu, kau hanya abadi di pulau ini. Di dunia fana, kau bisa mati. Pakailah gelang ini, kau akan tahu gunanya nanti, yang pasti, jika batunya menyala dan berwarna biru, berarti ada bangsa Olympia di sekitarmu, jika berwarna merah, berarti pasukan Hades di sekitarmu."
"Jadi, ini harapan yang kau beri padaku, eh?"
Tanya Calypso ketika menaiki perahu.
"Jika kau berhasil menutup satu saja portal, Zeus pasti akan melihatnya, dan dia akan mengampunimu. Itulah harapan yang aku beri padamu. Selamat jalan, Calypso. Maaf menyusahkanmu."
"Dan Elpis, satu lagi. Kau bilang ayahku tidak dijebloskan ke Tartarus, dimana dia sekarang?"
"Kau akan bertemu dengannya jika waktunya tepat, kau tahu kenapa selama ini bumi dan langit tidak bertabrakan? itu karena ayahmu masih menahan langit di punggungnya, dan tak ada seorangpun di Olympia yang mau menggantikannya, maka itulah hukumannya."
Elpis meniup kerang pelanginya dan perahu itu pun bergerak sendiri menuju lautan lepas, melawan arah arus ombak yang tenang, menuju suatu tempat yang tak pernah sanggup ditemukan Calypso selama ini, yang disembunyikan oleh sang dewa laut darinya. Semilir angin laut menerbangkan rambutnya berayun-ayun. Untuk kesekian kalinya, ia menoleh ke arah Ogygia, yang semakin hilang dari pandangan. Pulau indah yang sudah menjadi rumahnya selama beberapa millenium.
Ia juga melihat Elpis berbicara kepada dua Nereidnya, lalu Calypso berteriak "Elpis, tolong kunjungi mereka sesekali..!!"
Elpis hanya mengangkat satu tangannya dan mengacungkan jari jempolnya. Tiba-tiba perahu Calypso semakin kencang, terpaan angin dan percikan air laut membuatnya memejamkan mata dan tidak menyadari ia baru saja menembus sebuah perisai tak kasat mata yang telah mengurungnya selama ini.
"Baiklah, Poseidon. Kita sudah mengeluarkannya dari sini, tak lama lagi Soter dan Soteria akan menyadari ketidak hadirannya di sini, semoga resiko yang kita ambil sebanding dengan perjuangannya di luar sana."
Elpis pun langsung melesat bagai roket berekor hijau, meninggalkan pantai Ogygia, yang kini tak bertuan..
Sementara itu, di MV Neptunus..
Pukul 8 pagi, Roy baru saja menyelesaikan sarapannya dan berniat membangunkan Roberto yang tertidur pulas di kabinnya, saat ia mendengar kegaduhan di geladak utama. Ia pun keluar dan bertanya pada beberapa orang yang berkumpul di bagian kiri geladak.
"Hai Franco, ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Yeah, man..kau lihat di sana, ada sebuah perahu kecil, dan ada seorang wanita di atasnya. Mungkin korban kapal tenggelam atau korban kejahatan yang dibuang ke laut." Kata pemuda bernama Franco menunjuk ke sebuah perahu kecil yang terapung di atas permukaan lautan, terombang ambing tanpa arah, sekitar 50 meter dari kapal, dengan seorang gadis tergeletak di atasnya. Beberapa orang ABK (Anak Buah Kapal) menggunakan sekoci mengevakuasi gadis malang berpenampilan kuno itu.
"Apakah ia masih hidup? pasti ada hubungannya dengan cahaya kehijauan yang kulihat semalam. Roberto harus melihat ini." Gumam Roy sambil berlalu membangunkan Roberto.
Calypso membuka matanya, kecepatan perahu saat menembus kabut pelindung Ogygia membuatnya tak kuasa menahan dirinya dan membuatnya pingsan. Kini ia mendapati dirinya di tengah lautan bergelombang kecil. Suara sirine sebuah kapal besar mengagetkannya, namun tubuhnya terlalu lemah untuk bangun. Pertamakalinya meninggalkan Ogygia, mungkin memberi efek samping kepada kondisi tubuhnya. Belum pernah ia merasa selemah ini. Ia pun kembali pingsan saat beberapa orang dari arah kapal besar itu menghampirinya dengan sebuah perahu sekoci bermesin.
Petualangan Calypso di dunia fana, dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Calypso
FantasyKisah sang dewi melepaskan diri dari kutukan dewa dewi Olympia dan petualangannya di dunia fana.
