2. Bude Hanum dan STSN

14.3K 1.6K 91
                                        

HanumSasongko

Setelah sekian lama, kamu akhirnya jadi perempuan juga.

Celoisa menggeram kesal. Tidak mengerti lagi apa yang ada di pikiran Bude Hanum. Nampaknya, semua yang terjadi pada dirinya haruslah dicela. Mungkin saja mulut Bude Hanum ditumbuhi duri-duri sehingga apa pun yang keluar dari mulutnya menusuk-nusuk hati orang. Jemari Celoisa kembali men-scroll layar ponselnya. Ia masih bertanya-tanya, mengapa dari sekian banyak komentar yang bernada bahagia harus ada komentar semenyebalkan itu?

Tadi malam, sepulang berkunjung ke dokter kandungan dan dinyatakan positif mengandung, Celoisa memosting foto testpack beserta caption 'Hore! 5 minggu' di akun instagram miliknya. Ia merasa... wajar saja di zaman seperti ini ia menceritakan sedikit kebahagiaannya kepada followers-nya. Dan sialnya, Bude Hanum salah satunya.

Dahi Celoisa berkerut, ia tidak mengerti apa maksudnya dengan perkataan 'akhirnya-jadi-perempuan-juga'. Jadi, kalau perempuan menikah belum hamil... itu bukan perempuan? Lalu, apa kabar para gadis-gadis di luar sana yang belum menikah? Apa perempuan akan disebut jadi-jadian kalau mereka tidak pernah menyimpan bayi di perutnya? Haish, pusing Celoisa mengikuti pikiran Bude Hanum yang ngawur itu.

Celoisa merasa seharusnya dia enggak perlu terlalu memikirkan omongan Bude Hanum. Sejak kecil, perempuan berambut keriting itu selalu begitu. Ia bahkan masih ingat perkataan Bude Hanum saat ia wisuda, katanya, "Selamat datang di dunia pengangguran ya, Nduk. Jangan mentang-mentang lulusan desain interior, kerjamu cuma mengecat kursi."

Waktu itu, ia hanya tersenyum kecil. Meski ingin sekali Celoisa melemparkan kursi ke arah Bude Hanum. Atau paling tidak memukul mulutnya dengan sepatu berhak 7 cm yang dipakainya saat wisuda. Celoisa jadi berpikir, kalau dulu ia jadi menutup mulut budenya dengan sepatu, mungkin segala cerocosan bawel itu tidak akan ada lagi. Bibir budenya mungkin sudah jontor dan ia jera.

Celoisa menggelengkan kepalanya, enggak baik terlalu banyak memikirkan Bude Hanum. Ia ingat mitos yang sering dibicarakan orang-orang, kalau sebal dengan seseorang saat mengandung maka bayinya akan seperti itu. Siapa yang mau punya anak bermulut duri seperti budenya. Maka Celoisa meletakkan ponsel ke meja kerjanya dan menatap layar komputer yang masih menampilkan palet-palet warna, sedangkan tangan kanannya sibuk mengoret-oret di selembar kertas putih.

Celoisa mengetuk-ngetuk jemari kirinya ke kepala, berpikir konsep apa yang sebaiknya ia terapkan di bangunan berlantai tiga yang rencananya akan menjadi toko mainan itu. Celoisa ingin setiap lantainya memiliki tema yang berbeda, entah disesuaikan dengan umur atau jenis kelamin.

"Cel, udah mau jam dua belas nih. Mau makan di luar apa pesan Mas Jalu?" teriak Kalula, sesama desainer interior yang juga teman sekelasnya saat kuliah. Perempuan berambut bob sedagu dengan pakaian serba hitam itu pun mendekati Celoisa dan berdiri di belakangnya sambil melipat lengan, melihat apa yang dikerjakan temannya.

"Udah, nanti aja dilanjutkan. Keluar aja, yuk! Pengin iga bakar, nih," sahut Lula. Tangannya menarik-narik kursi Celoisa.

"Iya, bentar. Aku matiin komputernya dulu."

"Hore! Akhirnya bisa makan iga bakar. Uwuw... lezat," sahut Lula sambil menari-nari yang dihadiahi tatapan dan kernyitan dahi oleh Celoisa. Kelakuan Lula memang terlalu kekanakan untuk seorang wanita dengan dua balita. Celoisa bahkan bertanya-tanya, bukannya yang seharusnya ngidam adalah dirinya?

***

Perempuan dan segala moodnya, entah mengapa Deas ingin membuat perkumpulan yang isinya adalah sekumpulan lelaki yang terkadang kebingungan dengan tingkah perempuan yang seringkali mendadak aneh dan kalau ditanya, jawabannya adalah 'nggak apa-apa' tapi senggol dikit bacok. Mungkin, dengan adanya perkumpulan ini, mereka bisa mengkaji perempuan lebih dalam.

Deas setuju dengan slogan karena perempuan ingin dimengerti, tetapi ia pun ingin para perempuan, terutama istrinya itu sadar, bahwa lelaki bukan penerjemah segala persandian. Deas kan bukan lulusan Sekolah Tinggi Sandi Negara yang memahami segala arti persandian, termasuk mengerti bahwa arti cemberutnya Celoisa sepanjang hari karena ia lupa membuang sampah dan tidak memakan nasi goreng yang dimasaknya karena sudah terlambat.

Ada perasaan senang di hati Deas ketika tahu Celoisa hamil, ia berpikir bahwa dengan begitu, ia tidak usah menghadapi sindrom pramenstrual istrinya yang kadang bikin Deas mau memakan kuas-kuasnya.

Deas baru saja mandi sore dan duduk di sofa, di sebelahnya Celoisa duduk sambil menjejalkan potongan melon ke mulutnya. Mata perempuan itu tak lepas dari kelinci kecil yang berseragam polisi di layar sebelum ia melirik Deas dan berdeham.

"Kamu udah makan?" tanya Celoisa.

"Belum," jawab Deas. Tangannya bergerak ke piring berisikan melon milih Celoisa, sayangnya tangan itu langsung dipukul oleh istrinya.

"Ada restoran Jepang baru di daerah Slamet Riyadi, katanya sushi di sana enak."

"Informatif."

Mendengar jawaban Deas, Celoisa langsung menoleh dan menatapnya tajam sebelum memasukkan sepotong melon ke mulutnya.

"Eyas, kamu sudah berapa tahun menikah?"

Dahi Deas berkerinyit, tetapi ia tetap menjawab,"Hampir empat tahun. Kenapa?"

"Seharusnya kamu tahu dong, arti aku ngasih tahu ada restoran Jepang baru itu apaaa...," kata Celoisa gemas.

Deas menggaruk rambutnya kemudian mengangguk. Celoisa mengembangkan senyum manisnya, ia kembali menatap Deas.

"Apa?"

"Ya... bahwa restoran Jepang di Solo bertambah. Gitu aja enggak tahu," ucap Deas yang membuat Celoisa memejamkan matanya dan mengepalkan jemarinya. Celoisa kemudian tersenyum memandangi wajah Deas dan menepuk-nepuk pipi lelaki itu.

"Artinya itu, aku mau makan sushi di sana... Eyas. Gitu aja enggak tahu! Belajar lagi jadi suami!" cetus Celoisa sebelum berdiri dan meninggalkan Deas yang mematung.

"Ya udah deh, yuk ke sana!"

Celoisa tidak menggubris ucapan Deas, perempuan itu membuka kulkas dan mengeluarkan sekotak susu UHT dan menyedotnya.

"Loi...?"

"Udah enggak pengin lagi. Makan Oreo aja," jawab Celoisa sambil menutup kulkas, ada sebungkus Oreo di tangannya.

Deas menghela napas. Perempuan dan segala kodenya, Deas mungkin harus benar-benar mengambil short course di STSN.

***

Ehm. Cerita ini bisa jadi akan diupdate cepat, bisa jadi lambat karena sebenarnya aku tak bisa menulis berurutan, maksudnya seperti sekarang, aku sudah selesai bab 4 dan 5 tetapi bab 3 dan kosong. Itu saja. Kritik dan saran terbuka lebar

Ikan Kecil (Terbit 2 Desember 2019)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang