Niko, Si Murid Baru

5.4K 51 4
                                    

"Halo teman-teman, kenalkan, Nama saya Niko Bramantyo, Panggil saja Niko. Saya baru pindah dari Groningen, sebuah kota kecil di Belanda, karena mengikuti Papa saya yang berpindah tugas ke Jakarta."

Tidak ada yang berbeda dari sosok Niko sebenarnya. Niko seperti anak Indonesia pada umumnya, rambut hitam dan kulit pribumi. Niko pun masih fasih berbahasa Indonesia, hanya saja logatnya sedikit canggung ditambah dengan aksen seperti orang bule. Niko memang sejak kecil tinggal di Belanda, Papanya bekerja di perusahaan elektronik di sana. Sejak sebulan yang lalu kontrak kerja Papanya berakhir dan Papa Niko melanjutkan karirnya di Jakarta.

Rama sangat tertarik berteman dengan Niko. Niko pasti punya banyak cerita menarik selama tinggal di luar negeri. Niko pun dengan senang hati melayani semua pertanyaan teman-temannya yang penasaran dengan kehidupan di Belanda. Sebaliknya Rama juga memberitahu Niko mengenai seluk-beluk sekolah mereka dan juga Jakarta.

Tak terasa, bel sekolah berbunyi menandakan jam pelajaran berakhir. Rama berjalan bersama Niko menuju gerbang sekolah.

"Aku pulang naik bus, sekitar 15 menit saja sampai ke rumah." Kata Rama.

"Oh, aku dijemput, Pak Anton yang menjemput akan sampai sebentar lagi."

Dalam hatinya Rama berkomentar, Enak sekali ya Niko, dijemput supir. Ya, Niko tidak seperti dirinya yang ke mana-mana naik angkutan umum.

*

Niko mengundang Rama bermain ke rumahnya sepulang sekolah, sekalian meminta Rama mengajarkan beberapa soal matematika yang dianggap Niko sulit. Niko memang masih dalam masa penyesuaian.

Mereka diantar oleh Pak Anton ke rumah Niko. Nyaman sekali jadi Niko, pulang sekolah tidak perlu kepanasan di jalan. Bisa duduk tenang di mobil sambil merasakan sejuknya AC mobil. Rama semakin yakin kalau Niko pasti anak manja yang segala kebutuhannya selalu terpenuhi. Maklum dari luar negeri, pastilah kehidupannya enak.

Sebelum belajar, Niko dan Rama makan siang bersama. Niko menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Dengan terampil Niko memanaskan sup di panci. Ternyata Mama Niko belum pulang, Mama Niko bekerja dan baru sampai rumah jam 4 sore. Rama kagum melihat Niko sangat cekatan menata piring, mengambil nasi, dan menyediakan air minum untuk mereka berdua. Begitu juga setelah selesai makan, Niko langsung mencuci semua perlengkapan makan. Rama sedikit canggung membantu Niko, tapi Niko bilang, "Sudah tak usah dibantu, kan kamu tamu."

Sambil menunggu Niko membereskan semuanya. Rama melihat sekeliling dapur. Rumah Niko tidak terlalu luas tapi tertata dengan apik. Mata Rama tertumbuk pada papan yang tergantung di sebelah kulkas. Tertulis: Jadwal Membersihkan Rumah. Ada nama Papa, Mama, Sarah (Kakak Niko), dan Niko. Lalu tugas-tugas rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci baju di mesin cuci, sampai menyetrika. Rama tak percaya melihat daftar tersebut. Pikirnya, masak dari luar negeri semua dikerjakan sendiri, bukannya keluarga Niko kaya? Pulang pergi ke sekolah saja diantar supir.

"Hei, kok bengong?" Niko menepuk pundak Rama.

Rama menunjuk papan jadwal tersebut.

"Oh itu, iya itu jadwal bersih-bersih kami."

"Memang kamu gak punya Bibik yang bantu di rumah?"

"Memangnya kamu lihat dari tadi ada Bibik?" Niko terkekeh.

Iya juga sih, sedari tadi di rumah hanya mereka berdua saja, pikir Rama.

"Aku pikir.. kamu.." Rama menggantung kalimatnya, bingung melanjutkan.

"Pasti kamu pikir karena kami tinggal lama di Belanda, jadi kehidupan kami mewah ya? Haha.."

"Tinggal di luar negeri tidak selamanya enak lho Ram. Di sana mana ada tenaga pembantu rumah tangga atau supir. Mangkanya kami sekeluarga selalu mengerjakan semuanya sendiri. Papa dan Mama selalu menekankan kami untuk mandiri di negara orang."

"Kan kamu punya supir?"

"Pak Anton maksudmu? Itu kenalan Papa. Papa memang minta tolong pada Pak Anton untuk antar-jemput aku selama sebulan ini, sampai aku bisa menyesuaikan diri dengan jalanan Jakarta. Di Belanda dulu, aku ke sekolah selalu naik sepeda sekitar 20 menit. Kemana-mana kami selalu naik kendaraan umum, bus atau kereta. Tapi Papa khawatir melihat jalanan Jakarta yang ramai, takut aku belum terbiasa, apalagi di kotaku itu jalanan sepi dan sangat teratur." Niko menjelaskan panjang lebar

Rasa tak enak menjalari Niko. Ia sudah mencap Niko sebagai anak manja. Padahal ia sendiri justru yang tidak mandiri. Teringat di rumah, Ibunya selalu menyiapkan semua keperluannya, mulai dari seragam sekolah, sarapan, bekal makan siang, bahkan kadang Rama masih disuapi Ibunya jika malas makan sendiri, padahal Ia sudah kelas 5 SD. Ia jadi malu.

"Nah, besok-besok kamu mau kan mengajari aku naik bus atau angkot?" Niko tersenyum.

"Siap Meneer*!" Mereka tergelak bersama

*Meneer = sapaan tuan (mister) di Belanda

Kumpulan Cerpen AnakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang