Coki adalah layang-layang istimewa. Berbeda dengan layang-layang lainnya yang berbentuk sederhana, Coki merupakan layang-layang gagah dengan kerangka yang kuat. Dudung dan Ayahnya membuat Coki dari bahan-bahan yang bagus. Selama seminggu Dudung membuat Coki dibantu oleh Ayahnya. Kerangka Coki terbuat dari bambu wulung yang teksturnya kuat dan fleksibel. Sedangkan kertas minyak yang melapisi kerangka Coki berasal dari kertas minyak yang lentur dan mengilat.
Selain itu, Coki juga dihias dengan cat kertas berwarna merah dan hijau. Di bagian ujung layang-layang, Dudung menambahkan ekor yang panjang, warnanya juga merah menyala. Jika Coki terbang, terlihat ekornya menari-nari indah di angkasa.
Sayangnya keisitimewaan Coki tidak diiringi sikap rendah hati. Coki merasa dirinya yang paling bagus di antara layang-layang lainnya. Terutama jika Ia sedang terbang di langit. Sering kali Coki malah mengejek kawan-kawannya yang penampilannya tidak sebagus dirinya.
"Ben, kok warnamu tampak kusam di langit cerah ini. Tidak seperti warna merahku yang terang dan indah." kata Coki suatu sore pada Ben, Si layang-layang mungil berwarna biru, saat mereka terbang berdampingan.
"Ekorku indah kan Nino? Lihat, ekorku menari-nari dimainkan angin. Terbangku jadi lebih tinggi. Mana mungkin kamu bisa menyusulku, Nino!" Coki tersenyum jumawa pada Nino, Si layangan wajik sederhana berwarna cokelat.
Ben, Nino, dan layang-layang lainnya tentu merasa terganggu dengan kesombongan Coki. Tapi mereka hanya bisa diam saja. Tidak ada gunanya membalas kata-kata Coki. Hanya membuat Coki semakin sombong.
Suatu sore yang cerah, Dudung dan teman-temannya asyik bermain di lapangan seperti biasa. Cuaca hari itu sangat bagus dan angin bertiup cukup kencang. Coki kembali memamerkan keindahannya di langit. Ia berkata, "Haha.. Aku memang layang-layang paling indah di langit ini, kalian sih tidak ada apa-apanya.
Namun malang, ada bahaya mengintai para layang-layang. Seekor burung elang sedang terbang di dekat para layang-layang. Ben dan Nino menghindar berusaha menjauhi layang-layang tersebut. Sayangnya Coki yang asyik terbang tidak melihat keberadaan elang tersebut. Elang menyambar benang senar Coki sampai putus. Coki melayang-layang diterbangkan angin. Dudung panik melihat layang-layangnya putus dan terbang jauh. Dudung berlari mengejar Coki, tapi sia-sia. Angin lebih cepat membawa pergi jauh Coki.
"Didiinn.. toloong, aku ke arah semak-semak." teriak Coki. Percuma saja, Dudung tidak bisa mendengar teriakan Coki.
Sudah tiga hari Coki tersangkut di balik semak-semak. Coki mulai putus asa. Ia berharap Dudung mencarinya sampai ke semak-semak. Namun letak Coki sangat tersembunyi, sehingga kecil kemungkinan untuk bisa ditemukan oleh Dudung. Coki merasa sedih dan penat. Kertas yang melapisi kerangka Dudung koyak terkena duri semak-semak. Warna merah Coki mulai pudar akibat terpaan panas di siang hari dan udara dingin di malam hari.
Dari semak-semak, Coki berusaha memberi isyarat pada kawan-kawannya yang tengah terbang di langit. Sayangnya Ben, Nino, dan layang-layang lainnya tidak ada melihat keberadaan Coki. Coki rindu sekali bermain dengan Dudung. Coki juga rindu pada layang-layang lainnya. Ia ingin sekali bisa kembali bermain di lapangan bersama mereka.
"Wah ada layangan tersangkut di semak-semak!"
Coki kaget mendengar suara. Ternyata ada seorang anak laki-laki yang melihat keberadaannya.
"Kasihan layangan ini robek dan warnanya pudar. Lebih baik kubawa pulang untuk kuperbaiki!" serta-merta ia menarik Coki dari semak-semak.
Coki senang akhirnya ada yang menemukannya. Ia berharap anak tersebut akan membawanya kembali ke lapangan. Sehingga Ia bisa bermain lagi di langit dan bertemu kawan-kawannya.
Tio, Si anak yang menemukan Coki, kemudian mengecat ulang warna Coki. Namun ekor Coki tidak dapat diselamatkan. Coki kini hanyalah layang-layang sederhana tanpa ekor yang gagah. Walaupun begitu Coki tetap bersyukur, setidaknya Ia masih bisa selamat.
Tio membawa Coki ke lapangan bermain. Ia senang bisa ikut bermain dengan layangan barunya. Biasanya Ia hanya menonton saja anak-anak lainnya bermain. Sebelumnya Tio memang tidak memiliki layangan. Uang jajannya tidak cukup untuk membeli layangan baru atau bahan-bahan untuk membuat layangan.
Coki yang sudah kembali bermain di langit akhirnya bertemu lagi dengan Ben dan Nino. Coki malu, kawan-kawannya akan mengejek penampilan barunya yang lebih sederhana ini. Ternyata..
"Coki! Akhirnya kamu kembali!" teriak Nino gembira.
"Kami khawatir padamu. Apa yang terjadi denganmu Coki?" tanya Ben.
Coki pun menceritakan apa yang menimpanya. Kawan-kawannya mendengarkan dengan seksama.
"Kawan-kawan.. Maafkan aku ya. Aku sangat menyesal. Dulu aku sangat angkuh dan sering meremehkan kalian. Pasti kalian tidak suka pada sikapku."
"Iya Coki, tak apa. Yang penting sekarang kamu selamat." kata Nino sambil tersenyum. Disambut senyuman layang-layang lainnya.
"Aku berjanji, aku akan selalu menjadi layang-layang yang rendah hati." Coki berteriak lantang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kumpulan Cerpen Anak
Short StoryKumpulan cerita dari dunia anak yang ceria, berupa cerita pendek, dongeng, cerita misteri, fabel, dan lain-lain.