Sepanjang perjalanan kembali ke Alpa Nightsun Tower, pikiran Chris dipenuhi oleh dua hal: data inefisiensi di Extella, dan gadis dengan mata coklat yang berani mengkritik sistem sambil tersenyum.
Di ruang kerjanya yang mewah, ayahnya Vernandez Bimantara. sudah menunggu dengan muka masam.
"Kau membatalkan rapat dengan Client penting untuk apa? Main detektif-detetifan?" suaranya menggelegar.
"Untuk mendapatkan kebenaran " jawab Chris tenang. "Dan saya mendapatkannya. Masalah di Extella bukan pada karyawan, tapi pada 3 orang di level direktur yang menciptakan birokrasi berlapis untuk menutupi ketidakmampuan mereka."
"Dan kau tahu ini dari siapa? Dari obrolan kantin?" Vernandez mengejek.
"Dari data," Chris meletakkan kertas grafik dari Cyara di meja. "Dan dari orang yang cukup peduli untuk mencatatnya tanpa diminta."
Ayahnya memandangi grafik itu lama, lalu menatap Chris. "Ada sesuatu yang berbeda padamu hari ini."
Chris tidak menjawab. Dia berjalan ke jendela, memandang kota yang mulai diselimuti senja. "Saya akan melanjutkan audit ini selama seminggu. Dengan menyamar."
"Ini tidak profesional, Chris."
"Tapi efektif," balas Chris. "Dan untuk pertama kalinya saya merasa... tertantang."
Vernandez terdiam, memperhatikan anak semata wayangnya. Ada cahaya di mata Chris yang tidak ia lihat sejak bertahun-tahun, bukan cahaya ambisi atau keserakahan, tapi sesuatu yang lebih manusiawi.
"Baik," akhirnya dia menghela napas. "Satu minggu. Tapi kau harus tetap hadir di acara amal keluarga besok malam. Non-negotiable."
Chris mengangguk. Biasanya, acara seperti itu adalah rutinitas yang membosankan. Tapi malam ini, pikirannya melayang pada bagaimana Cyara akan bereaksi melihat dunia itu—dunia champagne, gaun mahal, dan senyuman palsu.
Saat Gerald membereskan dokumen untuk pulang, Chris tiba-tiba bertanya: "Apa yang kau tahu tentang seseorang?"
"Seorang karyawan di Extella. Perempuan, 20 tahun, pemula, tapi memiliki wawasan yang lebih tajam dari setengah direktur di sana."Lanjutnya
"Database HR, Pak. Nama Lavina muncul dalam laporan kinerja bulanan sebagai 'karyawan dengan inisiatif tertinggi' meski masa kerja terpendek."
Chris mengangguk perlahan. "Buatkan jadwal agar saya bisa kembali ke Extella besok. Dan... carikan informasi tentang acara amal besok malam. Undangan plus one."
Gerald terkejut. "Anda ingin mengajukannya? Tapi identitas Anda—"
"Masih dalam pertimbangan," Chris cepat menyela. "Tapi siapkan saja."
Setelah Gerald pergi, Chris berdiri di depan jendela, memandang lampu-lampu kota yang mulai bermunculan. Di tangannya, ada secarik kertas dengan diagram batang yang digambar tangan. Sebuah karya sederhana dari seseorang yang percaya bahwa perbaikan dimulai dari hal kecil.
Keesokan harinya, Cyara sampai di kantor dengan energi yang begitu berbeda. Dia memakai blazer favoritnya—yang satu dengan pinggiran agak pudar tapi masih rapi. dengan beberapa folder file yang ia bawa masuk menuju ke kantor nya.
Pagi itu Cyara bekerja seperti biasa, menginput beberapa lembar dokumen yang sudah jatuh deadline. setelah selesai Cyara lanjut menyiapkan presentasi kecil berisi data lengkap tentang inefisiensi sistem approval. Berjaga apabila tim audit membutuhkan data lanjutan dari dirinya.
Saat jam makan siang. Cyara sudah duduk anteng dengan dua cup kopi di meja nya. dan sesuai dugaan gadis itu, Chris datang kembali menghampiri dirinya.
"Untuk ku" tanya Chris sambil duduk, menunjuk ke cup yang sudah dibeli Cyara.
"Maaf atas kejadian kemarin"
Chris tersenyum, "Tidak masalah"
"apa anda bisa memaparkan analisis data kemarin?"Tanya Chris
"Tentu"
Selama 30 menit berikutnya, Cyara memaparkan analisisnya dengan semangat. Chris mendengarkan dengan saksama, sesekali menganggung atau mengajukan pertanyaan yang tepat. Yang mengejutkan Cyara, "Chris" tidak hanya memahami data, tapi juga bisa memproyeksikan dampak finansialnya dengan akurat.
"Anda seharusnya tidak hanya jadi auditor," canda Cyara di akhir presentasi. "Anda punya naluri bisnis yang tajam."
Chris tersenyum misterius. "Mungkin suatu hari nanti. Tapi tentang data Anda—" dia mengetuk layar tablet Cyara, "—ini cukup untuk mendorong perubahan kebijakan. Mau ikut presentasi ke manajemen?"
Cyara membelalak. "Saya? Presentasi ke direksi? Tapi saya baru—"
"Yang penting adalah kualitas data, bukan lama kerja," potong Chris. "Besok ada rapat dengan perwakilan kantor pusat. Saya sudah mengatur agar Anda mendapat slot 15 menit."
Dia melihat keraguan di mata Cyara. "Tidak yakin?"
"Bukan tidak yakin," jawab Cyara pelan. "Tapi... mengapa saya? Ada banyak orang lebih senior."
Chris memandangnya dengan intens. "Karena orang senior sudah terbiasa dengan sistem yang rusak. Anda belum. Dan terkadang, kita butuh mata yang segar untuk melihat apa yang sudah menjadi buta bagi yang lain."
Pertemuan itu berakhir dengan Cyara setuju dengan jantung berdebar-debar. Sepanjang sisa hari, dia mempersiapkan presentasinya dengan gila-gilaan. Apa yang tidak dia tahu: Chris telah mengatur lebih dari sekadar presentasi.
Di tempat lain Cyara begadang menyempurnakan slide, sedangkan Chris berada di ballroom Hotel Majestic, dikelilingi oleh gemerlap dunia yang membesarkannya. Acara amal keluarga "A Night for Tomorrow's Leaders" adalah ritual tahunan yang penuh dengan politik, pencitraan, dan perjodohan terselubung.
"Chris, Kenalkan dia Ivanka, putri CEO Horrison Hotel ," Vernandez. membisikkan pada Chris sambil menepuk bahunya. Di hadapan mereka berdiri seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala dan senyum terukur sempurna.
"Senang akhirnya bisa bertemu dengan Pak Chris terhormat" ucap Ivanka, menjulurkan tangannya. "Ayah sering bercerita tentang prestasimu."
"Terima kasih" balas Chris dengan sopan tapi dingin. Matanya melirik jam tangan. Pikirannya di Cyara, yang mungkin masih terjaga di depan laptop, sementara dia terjebak dalam sandiwara ini.
Sepanjang malam, Chris berpura-pura terlibat dalam percakapan kosong sementara pikirannya membandingkan dua dunia: yang satu penuh senyuman palsu dan pujian berlebihan, yang lain dunia Cyara penuh dengan kejujuran sederhana dan kerja keras nyata.
Saat acara mencapai puncaknya dengan lelang lukisan yang harganya bisa menghidupi ratusan keluarga selama setahun, Chris memutuskan cukup. Dia menyelinap ke balkon, menghirup udara malam.
"Lelah dengan topeng?" suara perempuan datang dari baliknya. Kali ini bukan Ivanka, tapi Virly, sepupunya yang bekerja sebagai jurnalis investigatif.
"Virly," Chris mengangguk. "Kau juga kabur?"
"Liputan acara ini adalah tugas terberat saya setiap tahun," canda Virly sambil bergabung di pagar balkon. "Tapi ada yang berbeda denganmu. Kau seperti... lebih hidup. Atau lebih gelisah?"
Chris terdiam sejenak. "Apa pendapatmu tentang seseorang yang bekerja keras karena percaya pada perubahan, bukan karena ingin mendapatkan sesuatu?"
"Pertanyaan spesifik," Virly menatapnya tajam. "Ada seseorang?"
"Seorang karyawan di Extella. Dia..." Chris mencari kata-kata, "dia melihat dunia dengan cara yang belum terkontaminasi."
"Dan kau kagum padanya."
"Bukan sekedar kagum," Chris mengakui dengan suara rendah. "Dia mengingatkanku pada kita dulu, sebelum semua ini, sebelum kita belajar bahwa setiap tindakan harus punya nilai tukar."
Virly meletakkan tangan di bahunya. "Hati-hati, Chris. Dunia kita tidak ramah pada cerita sederhana."
"Nasehat yang datang terlambat," bisik Chris, sambil mengeluarkan ponsel dan melihat foto Cyara dari database HR—foto formal dengan senyuman polos yang membuatnya tersenyum sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
CRUSH ON MY EMPLOYEE
General FictionChris Nav Jonathan adalah mahkota kerajaan bisnis PT. Alpa Nightsun Group, konglomerat terbesar di Asia. Sejak lahir, hidupnya adalah serangkaian angka nol di laporan keuangan, pertemuan puncak, dan kemewahan yang membosankan. Baginya, dunia adalah...
