Bagian 12 - Kencan Pertama?

554 20 0
                                        

Kencan pertama mereka adalah bencana yang menggemaskan. Chris, yang biasanya memesan restoran bintang Michelin, mencoba membuat reservasi di kafe kecil atas permintaan Cyara. Tapi dia lupa memesan meja, dan mereka harus antri 30 menit.

"Lumayan juga ya," kata Chris sambil mengantri, tangan di saku celana jeans pakaian santai yang jarang dia pakai.

"Kau tidak biasa antri, ya?" Cyara mengejek lembut.

"Antri saham di bursa iya," canda Chris.

Saat akhirnya duduk, Chris gugup memilih menu. "Apa yang enak di sini?"

"Yang murah," jawab Cyara sambil tersenyum. Dia memesan nasi goreng biasa. Chris, dengan  polosnya, memesan sama.

Makan berlangsung dengan percakapan yang terkadang tersendat. Mereka terbiasa berbicara tentang bisnis atau konflik, bukan tentang hal-hal sederhana.

"Film terakhir apa yang kau tonton?" tanya Cyara.

Chris berpikir keras. "Presentasi merger grup perusahaan. Itu termasuk film?"

Cyara tertawa. "Tidak. Minggu ini kita nonton film. Bioskop biasa, bukan home theater."

"Tapi aku punya—"

"Aturan nomor 2," potong Cyara dengan mata berbinar.

Chris menyerah dengan senyuman. "Baiklah. Bioskop biasa."

Cyara punya ide: mereka membuat daftar "hal-hal yang tidak kita ketahui tentang satu sama lain". Setiap minggu, mereka harus mengungkapkan satu fakta.

Minggu pertama, fakta Chris: "Aku takut pada anjing . Waktu kecil pernah dikejar ."

"CEO takut anjing?" Cyara tertawa terbahak-bahak.

"Jangan bilang siapa-siapa," Chris memperingatkan dengan muka merah.

Fakta Cyara: "Aku "Aku sebenarnya kidal, tapi dipaksa menulis dengan tangan kanan waktu kecil."

"Maka kadang-kadang kau terlihat canggung," komentar Chris. ."

"Ya. Dan aku masih lebih kuat dengan tangan kiri."

Mereka juga bertukar playlist musik. Chris ternyata menyukai jazz klasik, sementara Cyara lebih ke genre Pop. Mereka kompromi: di mobil Chris, jazz; di apartemen Cyara, Pop .

Hari berlalu hingga Tantangan pertama datang dari keluarga Chris. Alena mengundang Cyara untuk makan siang di rumah keluarga Vernandez—bukan di restoran mewah, tapi di rumah pribadi mereka. 

Cyara gugup. "Aku harus pakai apa?"

"Pakai yang membuatmu nyaman," kata Chris. 

Cyara memilih dress sederhana warna pastel. Saat tiba, Alena menyambutnya dengan hangat tapi mata yang mengamati.

"Selamat datang, Cyara. Senang akhirnya bisa bertemu dalam suasana yang lebih santai."

Makan siang berlangsung dengan sopan. Vernandez sedikit kaku, tapi Alena dengan terampil menjaga percakapan tetap cair. Saat hidangan penutup, Alena bertanya langsung:

"Jadi, apa rencana kalian?"

Cyara menjawab dengan jujur: "Kami sedang memulai dari awal, Ibu. Mengenal satu sama lain lagi, dengan versi kami yang sekarang."

Alena tersenyum. "Bijaksana. Chris butuh seseorang yang bisa menyeimbangkannya, bukan hanya menyenangkannya."

Setelah makan siang, Alena menarik Cyara ke taman. "Dia berbeda sejak kau kembali. Lebih... manusiawi."

"Kami berdua telah berubah."

"Jaga dia," bisik Alena. "Dan jaga dirimu juga. Dunia kami sangat keras nak."

next? 

CRUSH ON MY EMPLOYEECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang