Bagian 5 - Ujian Darah dan Kertas

677 28 0
                                        

Warung Padang "Sederhana" di belakang Alpa Nightsun Tower ternyata tidak sederhana sama sekali. Meski tampilannya seperti warung biasa, ternyata ini adalah tempat rahasia Chris untuk mendengar suara karyawan tanpa filter. Pemiliknya, Bu Tuti, sudah seperti keluarga bagi Chris sejak dia pertama kali menyamar jadi magang di perusahaannya sendiri sepuluh tahun lalu.

"Si Bos Muda bawa tamu spesial nih!" sambut Bu Tuti dengan mata berbinar melihat Cyara. "Duduk di pojok sana, yang sepi. Biar saya yang antar sendiri."

Sepiring nasi padang dengan lauk lengkap segera tersaji. Chris dengan lancar mencampur sambal dengan tangan kanannya—gestur yang sama sekali tidak 'CEO'. Melihat hal itu Cyara kaget.

"Di sini, saya bukan bos. Saya hanya Chris, pelanggan tetap," ujarnya sambil menyuapkan nasi. 

Cyara tersenyum, mulai merasa nyaman. "Jadi disini tempat persembunyian mu?" 

"seperti yang kau lihat" Chris kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya 

"cuma disini saya merasa menjadi manusia yang normal"

Cyara tersenyum kecut. tentu hidup sebagai Chris tidak lah mudah, Namun Cyara tetap tidak ingin membawa perasaan nya terlalu jauh walaupun Chris terbiasa dan hampir beradaptasi dengan kehidupan yang sederhana. tentu hal tersebut tidak bisa menjadi patokan untuk Cyara karena memang status mereka yang berbeda. 

"Maaf mengganggu, Pak . Tapi ada keadaan darurat." Gerald melirik ke Cyara. "Ini tentang keluarga Lavin."

Sebuah tablet diletakkan di atas meja. Di layar, surat elektronik resmi dari firma hukum "Arthur & Rekan" yang mewakili klien bernama Alexander Lavin, mengklaim sebagai putra sah satu-satunya dari almarhum Albert Lavin dan menuntut pembatalan akuisisi Extella Group karena "penipuan" dan "penyembunyian informasi tentang ahli waris".

Cyara membaca dokumen itu dengan lambat. "Alexander... Paman Alex? Tapi Ibu bilang dia meninggal waktu kecil."

"Tampaknya tidak," bisik Chris. Dia melihat detail lebih jauh. "Dia membawa dokumen akta kelahiran, surat baptis, bahkan surat wasiat versi dia yang dibuat tahun sebelum Albert meninggal. Menyatakan dia satu-satunya ahli waris."

"Tapi itu mustahil! Kakek hanya punya dua anak: Ibu dan... oh." Cyara tiba-tiba diam. "Ibu pernah bilang, ada kakak laki-lakinya yang meninggal di usia 5 tahun karena sakit. Alexander."

Chris menatapnya. "Apa mungkin... dia tidak benar-benar meninggal?"

Rencana makan malam keluarga yang seharusnya intim berubah menjadi pertemuan strategis darurat. Tapi Alena Atmaja, ibu Chris, bersikeras untuk tetap berlangsung. "Lebih baik kita hadapi badai dengan perut kenyang," katanya melalui telepon pada Chris dengan suara tenang yang khas.

Malam itu, di suite pribadi keluarga Vernandez di puncak menara residensial mereka, Cyara bertemu dengan wanita yang menjadi legenda di dunia bisnis Asia. Alena, di usia 60-an, masih memancarkan aura yang memadukan keanggunan tradisi Jawa dan ketajaman Harvard Business School. Dia mengenakan kebaya sutra sederhana, tapi matanya mengamati Cyara seperti mikroskop.

"Jadi kamu putri dari Veronica Lavina," ucap Alena setelah acara santap malam pembuka. "Wajahmu mirip dengan ibumu waktu muda. Saya pernah bertemu dengannya sekali, di acara amal Albert."

Cyara terkejut. "Ibu tidak pernah bercerita—"

"Karena Veronica mungkin tidak tahu siapa saya waktu itu. Saya hadir sebagai donatur tanpa nama." Alena tersenyum kecil. "Albert adalah teman baik keluarga. Dan seperti teman baik lainnya, kami tahu rahasianya."

Vernandez. yang duduk di sampingnya, terlihat tidak nyaman. "Alena, ini bukan waktunya—"

"Justru ini waktunya," potong Eleanor lembut tapi tegas. "Chris sudah memilih jalannya. Dan kita harus memutuskan: akan mendukung atau menghalangi." Dia menatap Cyara. "Tapi pertama, ceritakan pada saya tentang Alexander. Apa yang ibumu katakan?"

CRUSH ON MY EMPLOYEECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang