Malam itu, di apartemen mewah milik Chris, Gerald melaporkan berita yang tidak menyenangkan.
"Ada Yang diam-diam memfoto mu dan nona lavina pak" ucap Gerald serius, menaruh tablet di meja. Foto itu menunjukkan Chris dan Cyara di ruang istirahat tadi—diambil dari sudut yang membuat mereka terlihat sangat dekat.
"Siapa?" tanya Chris dengan suara dingin.
"Masih diselidiki. Tapi yang jelas, foto ini sudah sampai ke ayah Anda."
Tak lama, telepon berdering. Suara Vernandez. seperti es. "Kamu punya penjelasan untuk ini?"
"Penjelasan apa? Saya sedang berbicara dengan karyawan tentang presentasinya."
"Jangan bermain kata-kata, Chris! Media akan mengolah ini jadi skandal. CEO dan karyawan junior? Itu bahan yang sempurna untuk merusak reputasi kita."
Chris mengepalkan tangan. "Apa yang kalian semua tidak paham adalah bahwa dia adalah talenta terbaik yang pernah saya temui dalam sepuluh tahun terakhir!"
"Kalau dia begitu hebat, promosikan dengan benar! Tidak dengan... ini!" teriak ayahnya. "Besok di acara makan malam, kamu akan duduk bersama Ivanka. Dan karyawan itu dia bisa hadir, tapi sebagai bagian dari kerumunan, bukan di meja utama."
"Tidak," jawab Chris tegas. "Dia ada di meja utama. Atas prestasinya."
"Kamu memilih untuk berperang karena seorang karyawan?"
"Saya memilih untuk melakukan apa yang benar!" Chris menutup telepon dengan keras.
Di sisi lain kota, Cyara juga menerima telepon yang tak terduga—dari ibunya.
"Nak, ada orang aneh datang ke toko hari ini. Bertanya banyak hal tentang kamu," suara ibunya cemas. "Katanya dari media."
Cyara merasa darahnya membeku. "Jawab apa, Bu?"
"Kata Ibu kamu sedang bekerja. Tapi nak... hati-hati. Dunia orang kaya itu berbeda dengan kita."
Setelah menutup telepon, Cyara memandangi undangan makan malam yang elegan. Di atas kertas bertekstur, namanya tercetak dengan tinta emas: "Cyara Lavina - Penerima Penghargaan Inovasi Extella Group."
Dia hampir membatalkan kehadirannya. Tapi kemudian ingat kata-kata Chris: "Supaya kau bisa melihat bahwa saya sedang berusaha merobohkan tembok ini."
Di luar jendela Apartement yang sederhana, hujan mulai turun lagi. Cyara mengambil keputusan: dia akan pergi ke acara itu. Bukan untuk Chris, tapi untuk dirinya sendiri.
Di Hari berikutnya, Cyara menghabiskan gaji pertamanya untuk membeli gaun sederhana berwarna biru laut—warna yang mengingatkannya pada laut yang pernah dia lihat dalam perjalanan studi tour dulu. Tidak mewah, tapi pantas.
Saat dia turun dari taksi di depan hotel bintang lima, hatinya berdebar kencang. Tapi sebelum masuk, dia melihat Chris berdiri di bawah payung besar, seperti menunggu seseorang.
"Kau datang," ucap Chris, matanya bersinar melihatnya. "Warnanya... indah."
"Terima kasih," Cyara tersenyum gugup. "Saya pikir Anda seharusnya sudah di dalam pak."
"Saya menunggumu," jawab Chris polos. "Dan saya ingin meminta maaf lebih dulu."
"Untuk?"
"Untuk apa yang mungkin terjadi di dalam. Keluarga saya... mereka punya cara sendiri menyambut orang baru."
Cyara mengangguk, mengambil napas dalam-dalam. "Saya siap. Tapi ada satu hal, saya di sini sebagai Cyara Lavina, penerima penghargaan. Bukan sebagai... ."
KAMU SEDANG MEMBACA
CRUSH ON MY EMPLOYEE
General FictionChris Nav Jonathan adalah mahkota kerajaan bisnis PT. Alpa Nightsun Group, konglomerat terbesar di Asia. Sejak lahir, hidupnya adalah serangkaian angka nol di laporan keuangan, pertemuan puncak, dan kemewahan yang membosankan. Baginya, dunia adalah...
