Bagian 6 - Presentasi yang Disabotase

668 30 0
                                        

Hari presentasi Proyek kepada direksi tiba. Cyara sudah berlatih sempurna. Tapi tepat sebelum presentasi, laptopnya tiba-tiba crash. Semua data hilang. Panik, dia berlari ke ruang IT.

"Virus khusus yang menghapus file tertentu," lapor teknisi. "Dan hanya file presentasi Anda."

Cyara menarik napas dalam-dalam. Lalu teringat sesuatu: dia selalu backup di cloud dengan password khusus. Dalam 10 menit, dia berhasil mengakses data dari tablet cadangan.

Tapi saat presentasi dimulai, masalah lain muncul: proyektor tidak menyala. Kemudian, file yang berhasil diunduh ternyata telah dimodifikasi, data angka diubah sehingga terlihat seperti kebohongan.

Di tengah kekacauan, Chris yang duduk di barisan depan berdiri. "Tolong matikan proyektor. Nona Lavina akan presentasi tanpa alat bantu."

Semua terkejut. Cyara pun sama. Tapi Chris memberikan anggukan meyakinkan.

Dengan jantung berdebar, Cyara maju ke depan. Tanpa slide, tanpa data visual. Hanya dengan suara dan keyakinan.

"Bapak-bapak dan Ibu-ibu direksi. Jika Anda mengizinkan, saya akan menjelaskan Proyek Phoenix dengan cara kuno: bercerita." Dia mulai dengan kisah seorang karyawan di Extella yang butuh 3 hari hanya untuk mendapatkan approval beli printer rusak. Lalu tentang manager yang menghabiskan 40% waktunya untuk administrasi bukan strategi.

"Angka-angka penting. Tapi yang lebih penting adalah manusia di balik angka. Dan sistem kita sekarang membuat manusia menjadi robot yang frustasi." Cyara berbicara dengan penuh gairah, mengulang semua data dari ingatannya dengan akurat.

Di akhir presentasi, ruangan terdiam. Lalu salah satu direktur paling senior, Ibu Sri, bertepuk tangan. Lalu diikuti yang lain.

Tapi kemenangan itu pahit. Karena setelah rapat, Chris mendapatkan laporan: Alexander Lavin sudah tiba di Jakarta, dan akan menggelar konferensi pers besok.

Chris dan Cyara memutuskan menyambut Alexander di bandara sebelum konferensi persnya. Mereka menemukan pria berusia 50-an dengan wajah yang memang mirip Albert, tapi dengan mata dingin penuh kebencian.

"Paman Alex?" sapa Cyara pelan.

Alexander menatapnya dengan dingin. "Jadi kau putri Veronica. Ibumu dulu cantik. Tapi naif"

"Kami ingin bicara," ucap Chris.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Pengadilan yang akan menentukan." Alexander berbalik, tapi Cyara menghalangi.

"Kakek mencintai kita semua. Dia tidak sempurna, tapi—"

"Kamu Masih begitu muda, untuk ikut urusan orang yang lebih tua!" hardik Alexander

Cyara terdiam. Chris mencoba menengahi. "Kami mengerti sakit hati Anda. Tapi cara ini tidak akan mengembalikan apapun. Mari kita cari solusi—"

"Solusi?" Alexander tertawa getir. "Sudah terlambat 30 tahun, Nak. Sekarang yang tersisa hanya balas dendam atau uang. Dan saya memilih uang."

Dia pergi, meninggalkan mereka di tengah keramaian bandara. Tapi sebelum pergi, dia menjatuhkan satu kalimat: "Suruhan mu itu, Bawa dia pulang Catherine tidak sebaik yang kalian pikirkan."

Chris dan juga Cyara hanya saling tatap. Cyara menegang, kali ini tekad gadis itu sudah bulat untuk tidak melanjutkan hal ini lebih jauh. 

"Pak, saya rasa setelah ini tidak perlu mencari tahu lebih jauh. saya tidak tertarik dengan semua aset peninggalan kakek Albert"Putus Cyara 

Chris menatap Cyara meyakinkan "Tidak! Aku akan berusaha membantu mu, Aku akan tepati janji ku kepada Kakek Albert" 

"itu pilihan mu. tapi jangan seret keluarga ku ke dalam ambisi mu pak" Cyara berlalu pergi meninggalkan Chris. 

CRUSH ON MY EMPLOYEECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang