Bagian 9 - Bimbang

594 27 0
                                        

Mobil Chris berhenti di depan apartemen mewah. Hujan mulai gerimis, membuat kaca mobil berkabut. Dalam kabut itu, Chris dan Cyara duduk dalam keheningan yang nyaman namun penuh gejolak.

"Terima kasih sudah mengantarku," ucap Cyara, tangannya sudah memegang gagang pintu.

"Cyara," Chris menyapanya pelan. "Tentang cincin itu... kau pantas mendapatkan kebahagiaan. Apapun pilihanmu."

Cyara menoleh, matanya berbinar dalam cahaya lampu jalan yang temaram. "apa kau tidak berniat mengejarku lagi?"

" aku belajar." Chris tersenyum getir. "Cinta bukan tentang memiliki. Tapi tentang ingin melihat orang yang kau cintai bahagia, meski... meski bukan denganmu."

Kalimat itu menggema dalam hati Cyara. Dia mengangguk pelan, lalu turun dari mobil. Tapi setelah beberapa langkah, dia berbalik. Chris masih di sana, menatapnya dari balik kaca.

Kenapa justru saat seseorang memberi ruang, aku merasa ingin mendekat? pikir Cyara dalam hati.

Keesokan paginya, Cyara duduk di meja kerjanya, memandangi cincin pertunangan dari Aidan yang dia simpan di laci. Cincin itu indah—berlian solitaire dengan desain modern. Aidan sempurna: baik, stabil, mencintainya, dan memberinya rasa 

Tapi saat dia mencoba membayangkan kehidupan sebagai Nyonya Aidan dadanya terasa sesak.

Telepon berdering. Aidan.

"Cyara, apakah kau sudah memiliki keputusan?" suaranya hangat dari seberang sana 

"aku belum memutuskan nya Aid."

"Aku ingin segera Bertemu ibumu, lalu kita umumkan pertunangan." Ada harapan dalam suara Aidan.

"Tunggu dulu, Aid. Proyekku di sini masih... rumit."

"Rumit karena Chris Nav Jonathan?" suara Aidan sedikit berubah.

Cyara terdiam. "Ini tentang karirku."

Aidan berusaha tenang. "Cyara, aku percaya padamu. Tapi tolong jangan biarkan masa lalu mengacaukan masa depan kita."

Setelah telepon berakhir, Cyara menatap foto Aidan di ponselnya. Pria tampan dengan senyuman sempurna. Lalu matanya beralih ke laptop yang terbuka—di layar ada laporan tentang Alpa Nightsun, dengan foto Chris di bagian profil perusahaan

Dua dunia. Dua pilihan.

Rapat penting direksi Alpa Nightsun membahas rencana rasionalisasi. Cyara mempresentasikan data dengan dingin, merekomendasikan penutupan divisi manufaktur yang sudah merugi bertahun-tahun.

"Ratusan karyawan akan di-PHK," protes salah satu direktur tua.

"Lebih baik ratusan sekarang daripada ribuan nanti saat perusahaan bangkrut," jawab Cyara tegas.

Chris yang duduk di ujung meja memperhatikannya. Dia melihat ketegangan di bahu Cyara, bagaimana jarinya menekan pulpen terlalu kuat. Dia mengenali tanda itu—tanda bahwa Cyara sebenarnya tidak nyaman dengan keputusannya sendiri.

"Ada alternatif," tiba-tiba Chris bersuara. Semua mata tertuju padanya. "Kita bisa alihkan divisi manufaktur ke produksi produk baru yang lebih sustainable. Butuh investasi, tapi kita selamatkan pekerjaan."

Cyara terkejut. "Itu tidak ada dalam analisis."

"Karena analisismu berdasarkan data historis, bukan potensi masa depan," kata Chris dengan tenang. "Aku sudah kaji selama seminggu. Ini proposalnya."

Dia membagikan dokumen. Cyara membacanya dengan cepat—analisis mendalam, angka-angka solid, bahkan sudah ada calon mitra. Ini pekerjaan serius, bukan improvisasi.

CRUSH ON MY EMPLOYEETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang