"Aku sudah terlalu jauh jatuh dalam gelapku sendiri, sampai akhirnya kamu hadir menarikku dari lingkaran hitam yang membelenggu."
********************
Suara alarm berhasil membangunkan perempuan yang masih nyenyak tidur di balik selimutnya. Lila membuka matanya, dia langsung menyingkap selimut tebalnya, melirik jam yang berada di atas nakas lalu menguap. "Udah jam segini ternyata, untung masih keburu buat shalat," dia langsung membuka lemari, mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi.
Satu jam Lila habiskan untuk mandi, shalat, juga merapikan diri untuk berangkat ke sekolah. dia keluar kamar dan langsung berhadapan dengan Roselia Mamanya.
Lila hanya tersenyum tipis, lalu berjalan melewati Mamanya.
Sudah tidak heran lagi bagi Roselia melihat sikap Lila yang acuh padanya. Wanita paruh baya itu berdehem cukup keras mencoba mencari perhatian Lila. "Mama harus ke Semarang. Ada seminar yang harus Mama hadiri, uang jajan kamu sudah Mama titip di Bi Tuti, Papa juga sudah transfer katanya ke rekening kamu."
Lila tersenyum miris, kemudian berhenti berjalan. "Andaikan kasih sayang dan waktu kalian bisa Lila beli, berapapun akan Lila bayar untuk itu," balasnya pelan, dia menarik napas perlahan mencoba menstabilkan rasa sesak yang tiba-tiba muncul. Cewek itu masih membelakangi Mamanya, berusaha keras menahan air mata yang sekarang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Mama sama Papa cari uang buat penuhi semua kebutuhan kamu, Lila!"
"Tapi Lila nggak butuh itu, Ma. Lila hanya butuh Mama sama Papa."
Roselia bungkam.
Lila akhirnya menoleh, memberikan senyum pedihnya. "Lila pergi dulu. Take care, Ma."
Perlahan, Lila berjalan menjauh. Meninggalkan Roselia sendiri dengan kebisuannya. Lila benci melihat dirinya yang begitu lemah sekarang. Namun untuk sesekali, dia harus melepas topeng yang menutupi kesedihannya bukan?
Lila hanyalah gadis kecil yang akan menangis saat hatinya terluka. Dan itu adalah hal yang wajar.
"Sekretaris OSIS!"
Lila yang tengah berjalan menuju halte bus terpaksa berhenti, cewek itu menoleh dengan tatapan datar.
"Apaan?" tanya Lila, malas.
Cowok yang tak lain dan tak bukan adalah Azril, tersenyum tipis. "Mata lo..., kayak mau nangis?" Dia mendekat, meneliti setiap jengkal wajah Lila.
"Sok tahu!"
Azril terdiam sekejap, memperhatikan Lila lebih dalam lagi. Cowok itu tersenyum, lalu menarik tangan Lila, membawa perempuan itu masuk ke dalam pelukannya.
Lila sempat terkejut dengan perlakuan Azril ini, tapi anehnya, dia tidak bisa berkutik saat lengan Azril mengusap puncak kepalanya dengan lembut.
"Nangis aja, La."
Lila masih bergeming dibalik pelukan hangat Azril. Namun satu detik kemudian, air matanya luruh. Semua sakit yang sudah susah payah disembunyikan akhirnya hancur, melebur menjadi satu dalam sebuah tangisan. Tangis Lila benar-benar pecah, sejadi-jadinya. Lila mencengkeram seragam Azril dengan kuat, berharap tangisnya segera berhenti. Tapi sialnya, air mata Lila terus keluar seperti kran bocor.
"Lo... seharusnya, gak usah nahan gue di sini, Zril," ucap Lila disela-sela tangisnya. Gadis itu berusaha keras menghapus air mata yang mengalir dengan sebelah tangannya, tetapi gagal karena rasanya semua tubuhnya terasa lemah.
KAMU SEDANG MEMBACA
GAME OVER [TERBIT]
Ficção AdolescenteSetiap kali hujan turun, rasa sakit ini terasa semakin menyesakkan. Karena, ketika hujan datang aku pernah mencintaimu begitu hebatnya. -------------------------------------------------------------------------------------------- Kita adalah dua oran...
![GAME OVER [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/107650108-64-k185729.jpg)