5. Permainan hati

1.5K 112 53
                                        

"Bahkan sampai detik ini, perasaanku tetap sama."


*****************

Lila terdiam sejenak, matanya mulai memanas karena pesan yang diterimanya beberapa detik lalu, "Cellia nggak mau maafin gue," ujar Lila sangat pelan.

Begitu Azril mendongak, senyumnya terukir begitu manis. Cowok itu menaruh sendok dan garpu diatas piring, kemudian mulai menatap Lila. "Mungkin Cellia lagi PMS, makanya dia kayak gitu. Udah nggak usah dipikirin, nanti juga baik sendiri." Senyum Azril kembali terukir, membuat Lila salah tingkah hanya karena senyuman tipis cowok itu.

Lila hanya mengangguk pelan, menatap piringnya yang mulai kosong. Cewek itu lantas berdiri dari meja makan, bersiap pergi. Namun sebelum dia pergi, Lila berkata, "Terkadang semua yang lo anggap biasa nyatanya nggak sebiasa itu, Zril." menghela nafas pelan, kemudian dia benar-benar melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Azril yang masih duduk di meja makan.

"Gue suka sama lo...."

Gerakan kaki Lila mendadak terhenti. Kemudian, cewek itu menoleh dengan cepat. Pandangan matanya bertemu dengan Azril, yang saat ini menatap Lila dengan serius. "Lo ngomong apa barusan?" tanyanya dengan nada tidak percaya.

Azril bangkit, mendekat pada Lila. Dia menatap Lila dengan sungguh-sungguh. Mereka saling beradu tatap, menjadikan suasana di sekitar hening. Azril yang lebih dulu menarik napas, mencoba memecah keheningan ini, "Gue suka sama lo, Laurel," ulangnya lagi berusaha meyakinkan Lila. Dia tersenyum penuh makna.

Lila masih terpaku di tempat, saking tidak percayanya dengan apa yang barusan dia dengar. Mulutnya sedikit terbuka, detak jantungnya berirama dengan tidak beraturan. Lila berusaha meredam keterkejutannya ini namun tidak bisa. Perkataan Azril beberapa detik lalu sukses membuat semua aktivitas organ dalam tubuh Lila mendadak beku.

Azril sudah gila. Batin Lila kesal.

"Gue serius, La, gue emang suka sama lo."

"Gu-gue...."

***********

"La, Pak Tubi manggil tuh."

Mata Lila mengerjap beberapa kali saat merasakan gesekan pelan pada bahunya. Lila memijit pelipisnya pelan, lantas tersenyum tanpa beban. "Maaf, Pak. Bapak panggil saya?" tanya Lila polos.

Guru yang memakai kacamata bulat itu hanya menatap Lila dengan tajam. Sadar akan tatapan tajam Pembina OSISnya itu, barulah Lila berdiri. Ia meminta izin keluar seraya membawa buku hitam dan pulpen andalannya. Lalu dia mulai melangkah pergi dari ruangan OSIS menuju lapangan upacara.

Derap langkah kaki Lila sangat jelas terdengar di koridor yang dia lewati. Cewek itu menunduk, menghela napas beberapa kali sambil memukul kepalanya menggunakan pulpen yang dia pegang.

"Itu kan sudah tiga hari yang lalu, kenapa gue masih ingat kejadian itu sih!" gerutu Lila kesal.

Sudah tiga hari berlalu setelah kejadian di rumah Lila. Tentang Azril yang tiba-tiba datang kerumahnya, ikut mandi, makan berdua di meja makan, terakhir.... cowok itu mengatakan sesuatu yang membuat tubuh Lila mendadak merinding.

Semuanya masih tergambar jelas dalam ingatan Lila, bahkan selama tiga hari ini Lila tidak membalas setiap ucapan Azril jika cowok itu bertanya atau menyapanya di kelas. Lila terlalu malas menatap wajah Azril, bahkan tertawa saja dia tidak bisa jika di sebelahnya terdapat makhluk bernama Azril.

Soal rencana, Lila sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan tugasnya pada Alan dan anggota OSIS lain. Jika saja target itu bukan Azril, Lila pasti akan dengan senang hati melaksanakan tugasnya, sayangnya cowok itu Azril, si pelanggar aturan yang sepertinya tidak akan insaf sampai lulus nanti.

GAME OVER [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang